Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

My Writing Journey, Sebuah Catatan Perjalanan

Assalammualaikum wr wb

Berbicara tentang bagaimana kita berproses dalam meniti keberhasilan, rasa-rasanya nggak akan habis untuk diceritakan. Iya, saking banyaknya waktu yang kita lalui dan kopi yang habis terseduh. Tapi saya tak menghabiskan kopi sih, hanya menghabiskan air mineral di kala sedang penat menulis.

my-writing-journey

Aktivitas menulis yang dilakukan setiap hari dan yang menimbulkan rasa bahagia, biasa kita sebut dengan hobi menulis. Dan yang namanya hobi menulis, nggak mungkinlah kalau membaca nggak dihobiin juga. Kalau ada orang yang hobi menulis tapi nggak hobi membaca, wuah sombong banget tuh.

Btw, membaca ini nggak harus membaca buku loooh. Boleh jadi kita suka nonton film, yang darinya kita bisa membaca situasi atau karakter tokoh sehingga otak kita akan berpikir mengenai hal terkait. Pun boleh jadi kita membaca kehidupan (duh, istilahnya berat ya). Membaca kehidupan ini, bisa jadi membaca hal-hal yang meresahkan, menginspirasi, membahagiakan, dll yang ada di sekitar kita, sehingga membuat kita ingin meluapkan pemikiran dalam bentuk tulisan atau karya lain seperti foto, video, film, dan lainnya.

Bermula dari Menulis Diary

Rupanya, saat SD pun saya sudah pandai membaca kehidupan, hahaha. Iya, salah satu bukti orang pandai membaca kehidupan adalah rajin menulis diary. Diarynya bisa berkisah tentang dirinya, orang lain, juga tentang dirinya dengan orang lain.

diary-SD
Diary kelas 6 SD
Saat kelas 6 SD, saya diperkenalkan dengan buku diary oleh Ustazah pada pelajaran Bahasa Indonesia. Cerita yang ditulis ya remeh temeh banget sih. Kemarin saya baca sekilas, duh laaah pengen dibuang aja tuh diary saking malunya saya dengan pemikiran masa lalu. Hahaha. Tapi kalau dibuang, hmm… eman-eman ya.

Melahap Buku dan Novel-Novel Islami

Kalau boleh berkilas balik tentang masa lalu, pada masa-masa kejayaan lepas dari jenjang SD menuju SMP, saya menghabiskan banyak waktu liburan dengan bermain bersama teman-teman SD di rumah seorang kawan yang lokasinya sangat strategis, tak jauh dari Alun-Alun Kota. Ia seringkali meminjami saya buku bacaan seperti novel-novel islami terbitan DAR Mizan, seperti Bara, Elegi, Sandera, dan beberapa lainnya. Ceritanya keren-keren banget. Saya lupa alasan menyukainya. Sepertinya karena jalan ceritanya yang antimainstream, atau mungkin hmm namanya yang unik. Hehehe.

Buku-buku bacaan tersebut, saya pinjam dari kawan baik saya, Damar Gumilar alias Acil, seorang dokter muda yang kini juga menjadi seorang narablog, yang sekarang ini lagi collabs blogging bareng saya, hehehe. Iya, tulisan kali ini adalah edisi perdana collabs blogging #NgobrolBarengSahabat.

buku-bara-elegi
sumber gambar: prelo.co.id
Transisi jam kepulangan sekolah yang saat SD adalah pukul 4 sore, lalu beralih menjadi pukul 2 siang saat SMP, membuat saya merasa nganggur berat. Apalagi saat pulang dari sekolah, saya tidak menemui siapa-siapa di rumah. Sedih.

Untungnya ada TBM (Taman Baca Masyarakat) yang buka di dekat rumah, hanya perlu berbelok dari jalanan menuju rumah. Di TBM, pengurusnya ramah-ramah. Bukunya juga banyak dan bagus-bagus. Walhasil, tiap pulang sekolah saya selalu mampir ke TBM untuk membunuh waktu.

Buku yang saya baca saat itu beragam. Apa aja deh pokoknya dibaca. Mulai dari novel berat Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dsb. Saya juga baca novel yang berjudul Affair, yang ternyata isinya adalah perselingkuhan dan pergulatan di atas kasur. Ah elah. Rupanya otak saya sudah teracuni hal-hal negatif saat SMP.

Zaman itu, novel-novel islami populer karangan Habiburrahman El-Shirazy belum terkenal banget. Hmm mungkin baru terkenal 3 tahun kemudian saat novel-novel tersebut difilmkan. Saya bangga dong, pernah membaca buku-buku tersebut saat belum hits, hehehe.
novel-habiburrahman
sumber gambar: dwina.net

Menyalin Tulisan Dulu

Berawal dari membaca, mulailah saya menulis. Tapi saya bukan menulis cerita atau novel sendiri. Enggaaak, saya dulu masih belum bisa mengembangkan ide cerita dan imajinasi keren seperti mereka. Melainkan saya hanyalah menyalin tulisan mereka. Iya, menyalin. Hahaha.
 
tulisan-jaman-dulu
Menyalin tulisan dari koran
Kalau ada tulisan bagus di koran yang bahas tentang remaja, maka saya tulis di binder. Begitu juga dengan cerpen islami keren berjudul Di Atas Sajadah Cinta, yang saya salin juga di buku binder. Padahal cerpennya panjaaang banget, tapi tetap saya jabanin tuh sampai ceritanya tamat.

--Baca juga: All About Diary

Saat itu, apa aja saya tulis. Mulai dari menyalin artikel di koran, lagu-lagu di buku lagu yang dijual di tokonya Ibu, menyalin kalimat bagus dari internet, sampai kata-kata bijak dari sms yang dikirim oleh teman-teman. Enggak hanya menulis, sayapun juga menghiasinya dengan gambar-gambar dari koran, mewarnai sendiri, menggambar sendiri, dsb. Sepertinya dulu saya mendesain binder laksana majalah. Lebih tepatnya majalah random.

diary-jaman-dulu
Ada majalah-majalahan, buku lagu, buku puisi, dsb di sini. Btw, ini masih sebagiannya, hehe
Setelahnya, saya mulai memberanikan diri untuk menulis novel. Lebih tepatnya adalah novel yang tak kunjung selesai dan tak akan pernah selesai. Bikinnya baru 2 lembar, lalu nggak dilanjutin lagi karena… saya ilfeel dengan tulisan saya sendiri. Hahaha. Gimana nggak ilfeel ya, lahwong dua lembar isinya percakapan semua. Percakapannya nggak penting pula, ah elah.

Setelah saya ubek-ubek masa lalu saya yang tersimpan rapi dalam kardus, kemudian saya menemukan dua buah buku tulis bersampul Upin-Ipin yang di dalamnya terdapat tulisan tangan saya. Iya, rupanya dua buku tulis itu menjadi saksi bisu bahwa betapa inginnya saya membuat novel… yang keren… tapi… itu… dulu…

diary-jaman-dulu

Surat-Suratan Beda RT

Saat itu, saya juga suka nulis surat alias surat-suratan dengan kawan saya yang rumahnya hanya beda RT, hehehe. Zaman itu memang sudah ada sms, tapi kan sms nggak bisa dibuat untuk curhat yang panjang banget. Kalau nulis surat itu seru, apa aja bisa ditulisin, yang secara nggak langsung menjadi terapi untuk mengatur emosi diri.

Surat-surat dari kawan saya itu masih tersimpan rapi di kotak kenangan. Saat saya membaca isinya, duh laaah…. Malu banget…. karena itu adalah masa lalu banget, hahaha. Hal yang bikin awkward banget adalah hmm rupanya kita pernah ganti nama kita. Seperti saya, yang saat mengirim surat pakai nama Anna Althafunnisa. Juga pernah pakai nama Kyoko Fukada (iki sopo toh jane).

Lalu bagaimana dengan kawan saya itu? Dia pakai nama Sandra Dewi, sosok artis yang diidolakannya. Nama aslinya? Namanya jauh lebih bagus daripada nama samarannya. Boleh lah atuh langsung ikuti akun Instagramnya di @sarah.hamanda

surat-jaman-dulu

Mengenal Blog

Kelas 3 SMP, mulailah saya mengenal blog. Saat itu juga kenal Friendster dan Facebook sih… tapi ya gitu, enggak cocok sama saya. Soalnya… hmm… saya nggak bisa menyebarluaskan kisah-kisah saya yang penuh drama. Biarlah saya tulis di blog, yang teman-teman saya enggak akan melihatnya, hahaha. Malu euy, kalau mereka merespon ocehan-ocehan saya yang… enggak penting.

Lalu, siapa yang lihat? Orang-orang yang nggak kenal di dunia nyatalah yang membaca tulisan saya, tanpa tahu bagaimana kehidupan saya sebenarnya.

Dulu, saya enjoy-enjoy saja saat ngeblog. Apa saja ditulis. Waktu itu, tujuan utama saya ngeblog adalah menyimpan foto-foto di internet. Supaya kalau data di komputer hilang, bisa langsung saya ambil di internet. Juga, untuk menyimpan pemikiran-pemikiran saya yang enggak mau dikomentarin sama teman-teman sekolah, tapi dikomentarin sama orang yang nggak kenal, hehe.

Saat mendapatkan komentar pertama itu rasanya…. girang tak terkira. Saya baru tahu kalau blog macam ini bisa dikomenin orang, hehe. Komentar kedua dan ketiga, baru muncul setelah sekian purnama. Dulu saya enggak paham kalau kita perlu banget blogwalking untuk membuka diri terhadap dunia luar. Setelah mengetahui indahnya blogwalking dan serunya meninggalkan jejak, saya semakin larut dalam dunia blogging.

Para Bloger Favorit Zaman Dulu

Saat SMA kelas X, saya suka baca tulisannya Kak Una, Bang Aul, Kak Nufa, Kak Stumon, Kak Pungky dan beberapa lainnya yang saya lupa deh, hehe. Saat SMA Kelas XI, jangkauan pertemanan saya melebar. Saya sering berbalas-balas komentar sampai bertumpuk-tumpuk memanjang ke bawah. Kawan-kawan itu adalah Kang Asep, Kang Zach, Mas Indra, dan beberapa lainnya yang saya juga lupa.

Kalau boleh disebut, bloger yang saya nanti-nanti tulisannya adalah Kak Una, Bang Aul, dan Kang Zach. Kak Una, karena ia menampilkan kisah kesehariannya dengan apa adanya. Bang Aul, tampilan yang beda seperti majalah, juga bahasanya yang asyik, lugas, dan mengalir. Kang Zach, saya selalu menanti-nantikan kabar terbaru anak-anaknya yang pintar di sekolah dan rajin beribadah. Dari ketiganya ini, yang masih aktif dan semakin keren dalam berkarya di dunia blogging adalah Bang Aul. Kece deh pokoknya.

Kalau sekarang hmm... nggak tahu sih siapa yang difavoritin, soalnya semakin banyak bloger yang dikenal dan tulisan yang saya baca. Biasanya saya suka bloger yang tulisannya itu murni, tulus dari hati, maksudnya yang jarang menerima bayaran, hahaha. Ya bosen kali kalau kita disuguhi tulisan berbayar melulu... Jadi, saya masih belum tahu siapa bloger favorit saya saat ini.

--Baca juga: Jatuh Bangun Ngeblog

Membenahi Gaya Bahasa

Sejujurnya, semenjak mengenal blogwalking, saya jarang banget baca buku, karena sudah merasa asyik membaca di blog. Penuturan yang beragam dengan kisah yang beraneka rupa, membuat saya semakin terseret arus blogging.

Secara tidak sadar, tulisan teman-teman bloger itulah yang memberi warna pada gaya bahasa saya. Bermula dari gaya bahasa yang biasa saja, lalu mencoba diasyikkan, kemudian diformalkan sejenak, lalu beralih lagi kepada gaya bahasa yang apa adanya.

Begitu pula dengan penggunaan kata diri. Semula saya menggunakan kata ‘aku’, kemudian merasa iri dengan teman-teman yang huasik banget pakai kata ‘gue’. Pernah, pada beberapa post saya menggunakan kata diri ‘gue’. Yang terjadi adalah rupanya saya menggunakan dua kata diri ‘gue’ dan ‘aku’ pada postingan yang sama, sehingga meninggalkan kesan bahwa saya krisis identitas. Maka, kembalilah saya kepada kata diri ‘aku’.

Saat kuliah, situasi dan kondisi mengharuskan saya untuk lebih banyak berbicara di depan umum. Sebagaimana orang-orang biasanya, bahwa kata diri ‘saya’ lebih pantas digunakan untuk berbicara di depan khalayak dari berbagai kalangan. Namun secara enggak sadar, ternyata saya seringkali hampir keceplosan menggunakan kata diri ‘aku’ saat berbicara di depan umum. Ya mungkin ini karena kebiasaan saya menulis blog dengan menggunakan kata ‘aku’.

Semenjak saat itu, demi kelancaran menggunakan kata diri, saya beralih penggunaan kata diri dari ‘aku’ menjadi ‘saya’.

Rasanya sih agak gimana gitu ya kalau menggunakan kata ‘saya’. Terkesan agak kaku atau formal gitu. Tapi ya mau gimana lagi. Hal itu menjadi proses perubahan yang lebih baik untuk diri saya. Apalagi saya juga sudah semakin dewasa, yang tidak menutup kemungkinan akan lebih sering berbincang dengan orang-orang yang terhormat (cie ellah).

Alhamdulillah, kebiasaan receh ini menjadi hal yang baik untuk diri saya. Saya enggak kagok untuk menggunakan kata ‘saya’ sebagai ungkapan diri. Dalam sehari-hari, untuk mengobrol dengan teman-teman, saya tentunya menggunakan kata diri ‘aku’. Tapi sekalinya ngomong pakai kata diri ‘aku’, kata-kata selanjutnya langsung berubah menjadi kata jowoan. Hahaha. Iya, refleks bibir dan lidah saya langsung njowoi.

Oh ya, orang-orang bilang bahwa salah satu proses menulis yang paling berkesan adalah penggunaan kata 4L4Y dalam berbahasa. Sejujurnya sih, saya tidak pernah menggunakan kata 4L4Y dalam berbahasa. Kata-kata 4L4Y tersebut booming ketika saya SMP, lebih tepatnya ketika kita mudah berkomunikasi melalui pesan singkat (sms).

Kenapa tidak menggunakan kata 4L4Y padahal lingkungan sedang ber-4L4Y-4L4Y ria? Sejujurnya, saya merasa kebingungan dan kerepotan saat membaca pesan singkat dari teman-teman yang menggunakan kata yang disingkat-singkat, apalagi yang dicampur dengan angka-angka, duh laaah. Jadinya, saya tidak menggunakannya. Membaca pesan 4L4Y dari orang lain saja saya kesusahan, masa' saya membuat orang lain merasakan hal yang sama dengan saya?

Alhamdulillah, bahasa 4L4Y tidak bertahan lama, sehingga saya enggak perlu mengubah jati diri menjadi bagian dari anak 4L4Y, hehehe. Hal ini menguntungkan banget sih buat saya. Saya enggak canggung dan terbiasa banget untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada orang-orang yang dituakan atau yang dihormati. Apalagi kalau nulis-nulis kayak gini, ya makin asyik aja soalnya sudah terbiasa.
--

Kira-kira, itulah perjalanan menulis saya. Gaya dan karakter kepenulisan, sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang dibaca dan dipelajari. Hal-hal tersebutlah yang membawa saya sampai kepada titik ini. Titik yang Alhamdulillah banget bisa dirasakan keberadaannya dan kebermanfaatannya.

Oh ya, teman-teman boleh banget untuk membaca tulisan dengan tema yang sama, namun dengan penulis yang berbeda: My Writing Journey oleh damargumilar.com

Terima kasih ya sudah membaca sampai akhir

Btw, untuk teman-teman, proses menulis bagian mana yang paling berkesan, hingga menjadikan teman-teman makin keren dan lebih baik seperti saat ini?

Wassalammualaikum wr wb

14 comments for "My Writing Journey, Sebuah Catatan Perjalanan"

  1. Hahahaha, iyaaa aku dulu juga melahap novel anak islami dan novel remaja islami jugaaa.. mbaaakkkk aku kangen buku2 lagumuuu wkkwkwkwwk

    ReplyDelete
  2. wah mba rajin amat sampe nyalin ke buku tulisan2 dari koran bahkan lagu dan aku salfok sama surat2an-nya zaman aku dulu juga masih surat2an kenal sms tuh pas SMA karena HP juga baru muncul saat2 itu :D

    soal surat2an aku juga sering tulis surat sama sobat SD yang pindah ke Bandung dulu ceritana aku masih di kampung. Setelah sekian purnama akhirnya aku bertemu lagi sama sobat SD dan kami nostalgia yang paling kaget adalah dia simmpen surat2 aku. pas aku baca sumvah ga banget yang aku ceritain ttg si A yang tingkahnya jadi aneh pokoknya ga penting aku sampe malu :p

    namanya juga bocah kali yah, btw klo kehidupan nulis aku juga dari diary tp diarynya dah aku kubur wkwkwk soalnya isinya bikin sakit perut bacanya dan ada beberapa part yg selalu ceritain ttg si mantan jadi wes aku kubur saja :D

    ReplyDelete
  3. Saya sempet juga itu iseng-iseng nulis diary pas jaman SD. Mana nulisnya dibuku tulis lagi, hahaapabanget. Tapi ya nggak berlangsung lama sih, paling cuma 1 bulan, habis itu udah. Mulai bosan dan lebih milih nonton TV kalau nggak maen keluar rumah.

    Kalau masalah proses menulis yang paling berkesan, paling ya pas saya mulai mencoba konsisten nulis di blog wisnutri(dot)com. Dari blog itulah, saya belajar banyak bagaimana menulis cerita sehari-hari yang kita alamai agar bisa dibaca dan dinikmati oleh orang lain, belajar buat menggunakan istilah-istilah sesuai PUEBI (walaupun kenyataannya banyak 'luputnya' haha), dan yang pasti juga pernah ngalami yang namanya krisis identitas macam kamu Kak Ros XD. Pakai aku lah, saya lah, dan parahnya lagi, dulu saya sempet pakai kata ganti 'penulis' di blogpost. Ya Allah, macam bikin jurnal ilmiah aja. Pengen nyoba pakai 'loe-gue', nggak berani dan akhirnya tetep nyaman pakai istilah 'saya' saja

    ReplyDelete
  4. Menulis tanpa mau membaca, kalau buat saya bukan tentang egois, tapi memang dirinya nggak pingin upgrade kualitas tulisan. Mereka yg tekhnik nulisnya udah canggih2 pun ya awalnya bahkan sampai sekarang pun karena rajin baca tulisan orang lain.

    Dari hobi membaca teenlit, saya pun jadi terpikir kalau suatu saat nanti, pingin nulis teenlit. Tapi sekarang untuk terus nulis teenlit udah malas, hahah... Fiksi kalau buat saya mikirnya sekian kali lipat dari nulis blog. Setidaknya impian saya untuk nulis teelit udah didengar Allah, haha...

    Kalau saya mengawali nulis blog dengan bahasa alay huruf angka, hahahah... Cuma karena sekarang ini blog untuk kepentingan nyari duit juga, jadi deretan kalimat alay itu masuk gudang draft.

    ReplyDelete
  5. Kyoko Fukada itu siapa mbak?
    Nggak mirip jepang juga. Haha..

    Saya dulu juga sempat nulis novel sih, tapi terhenti di halaman 50. Rasanya kehilangan mood yang sesuai novel.

    ReplyDelete
  6. kok gak ada gemboknya mbak diarinya
    iya sih nulis itu bikin bahagia
    apalagi kalau dapet uang heheheh (gak sih udah bisa nulis aja udah seneng)
    novel terbitan DAR Mizan aku juga suka
    apalagi yang novel pake komik (nomik)
    klo nulis fiksi aku malah harus ekstra keras
    emang gak terlalu bakat ya
    paling banter cerpen, itu juga kadang setaun dua tahun baru jadi sebiji hehe

    ReplyDelete
  7. apa ya... selama ini nulis kalau lagi badmood banget tak tinggal aja, lalu udah baikan baru aku lanjut nulis lagi.

    ReplyDelete
  8. Wew.. Runtutan yang bagus, gak kayak aku..
    Mulai rajin baca dan nulisnya sejak kenal Kaskus.. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. March 2, 2018 at 1:07 PM

      Tapi sekarang jadi copywriter itu kan udah kece baaaangeeet

      Delete
  9. First of all, YES. I FEEL YOU
    Dulu juga waktu SD aku mulainya dari nulis-nulis di buku tulis bintang obor / Kiky yang seribuan itu tuh. Isinya komik-komikan, cerpen-cerpenan, dongeng-dongengan, corat-coretan, dll. Aku gambarin juga covernya biar mirip banget sama majalah hahahaha. Itu pengaruh dari baca Majalah Bobo selama bertahun-tahuuun

    Terus Pas SMP gambar-gambarnya mulai kurang gara-gara baca novel-novel terbitan penebrit buku islami kayak DAR Mizan dan Divapress juga. DAR Mizan itu penerbit loh Cha, bukan pengarang. Nanti edit sedikit yaa, keterangan Dar Mizan dipostingan ini hihi ^^ Aku banyak baca karyanya Fahri Asiza dan Asma Nadia. Terus mulai deh aku sok-sokan nulis novel juga pas kelas 2 SMP wkwk (2007 kalau gak salah). Di tahun yang sama juga aku tau ada benda bernama blog gara-gara baca buku "Kambing Jantan" nya raditya dika. terus aku bikin deh. Tapi cuma bikin 1 postingan, trus gak pernah update lagi. Tahun 2008 pas mau lulus SMP aku bikin blog lagi (yang masih "hidup" dan dipake sampe sekarang hehe)

    Lucunya aku ngalamin juga pencarian kata panggil diri itu tuh. Awal-awal panggil nama, tapi kok kesannya agak manja-manja gimana gitu wkwk. Terus pake aku, agak geli juga karna kayaknya soswit banget. Terus pake watashi (Aku bhs Jepang). Sempat dipake beberapa waktu tapi akhirnya ganti lagi jadi Saiyya (Saya tapi gak formal-formal amat haha). tapi endingnya ya pake "Saya" kayak biasa, karena ternyata di Internet itu kata panggil diri yang paling umum.

    Dan yaah, blogger-blogger lama yang jadi halaman blogwalking Ocha juga semua jadi alamat blogwalking ku wkwkwk. Sayang banget ya, banyak yang berhenti di jalan lantaran udah sibuk kerja, berkeluarga, atau terbawa arus instagram sama youtube yang lebih deras. Tinggal lah kita blogger-blogger rajin yang masih tetap menulis.

    Hopefully, mudah-mudahan tahun ini atau tahun depan novel kita bisa terbit ya!
    Kayaknya udah terlalu lama menunda. Secepatnya harus bisa!
    Soalnya kalau nanti kita udah kerja beneran atau berkeluarga juga, takutnya mengalami hal yang sama dengan blogger-blogger calon penulis buku yang dahulu hihihi

    P.S.
    Waaaaahhhh
    Terima kasih banyak udah mention blog ku ya Cha! Seneng banget baca feedback orang tentang blog serba randomku yang isinya emang random banget unfaedah dan kebanyakan haha-hihi doang wkwkwk.

    Btw believe or not bang Aul sering iri lhooo, sama blog kamu. Isinya bermanfaat semua. Menambah wawasan, memberi inspirasi, menyebar kebaikan, positif selaluuu. One of my favorit blog in my reading list!

    Blog aku kebanyakan isinya ngeluh, ngedumel, ketawa-ketiwi dan semacamnya. Banyakan negatifnya hahahaha

    Last, maaf banget aku malah bikin postingan di sini yaaa hahahaha.
    Kapan-kapan bikin juga ah, sejarah kepenulisan semacam ini.

    SEE, YOU INSPIRE ME AGAIN
    :)

    Jangan pernah capek nulis dan ngeblog ya Kak Roos!

    Ada bagusnya juga tuh blogger blogger lama yang famous famous pada hanyut karna arus instagram, youtube atau platform lain. Jadinya kita para personal blogger yang kece nya agak-agak nanggung ini bisa muncul ke permukaan dan dilirik oleh banyak pembaca dan partner kerja wkwkwkkw.

    Success for you and me!

    ReplyDelete
  10. hi diary,,, hari ini aku mulai bisa jajan sendiri lho. keren kan???? aku di kasih ibu uang 500 rupiah, kata ibu, mulai hari ini dan seterusnya aku hanya dikasih uang jajan tanpa perlu bawa makan di rumah, kamu tau kan ini namanya belajar "tanggung jawab"

    masih inget dulu. wkwk pingin bakar saja buku diary, malu2in

    ReplyDelete
  11. perjalanan menulis yang menginspirasi, berusaha menjadi lebih baik lagi

    ReplyDelete
  12. Kapan-kapan aku tak nulis pisan... perjalanan menulis ku

    ReplyDelete
  13. Waaa diari kelas 6 SD masih ada hebaatt. Aku jg masih ada diari smp hihi

    ReplyDelete