Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rasanya Ditinggalkan dan Meninggalkan

Assalammualaikum wr wb

Fase manusia sebagai mahluk sosial, salah satunya adalah ditinggalkan dan meninggalkan. Setiap orang, tentulah mengalaminya. Setiap detik, ada yang lahir, ada pula yang meninggalkan dunia untuk selamanya. Pun ada pula kawan yang datang, begitupun ada pula kawan yang pergi. Semuanya terjadi silih berganti, sesuai kehendak alam.

Saya pikir, rasanya 'meninggalkan' itu jauh lebih enak daripada 'ditinggalkan'. Etapi bukan berarti meninggalkan itu enak banget loh ya, hanya saja rasanya tidak sesakit yang ditinggalkan.

Ditinggalkan, Lalu Meninggalkan

Saya teringat tentang Adek saya, ia pergi merantau ke Tangerang untuk sekolah. Yang mengantarkan Adek berangkat adalah Ibu, Ayah, Bude, Pakde, dan kakak sepupu. Mereka mengantarkan Adek untuk berangkat ke asrama sekaligus sekolah, yang jaraknya berselang 3 provinsi (Jateng, Jabar, Jakarta). Jauh ya. Sebenarnya saya ingin ikut mengantarkan, tapi apa daya saya harus fokus dengan prosesi sidang skripsi yang akan dilaksanakan 2 pekan kemudian.

Melihat mereka berangkat... meninggalkan rumah... meninggalkan saya sendirian... itu rasanya... pedih. Saya nggak mau ditinggal, apalagi sama Adek, yang nggak tahu kapan bisa ketemu lagi. Sedih rasanya, ditinggal saudara kandung pergi jauh... Kisah lengkapnya, pernah saya tulis di: Pagi Sebelum Menanti Pagi Setahun Lagi (judule tibake mbulet ee)

Ternyata, 40 hari setelah saya drama sedih-sedihan karena ditinggal Adek, eh rupanya saya berkesempatan untuk mengunjungi Adek ke Tangerang. Yeeeeeey. Saya senang tak terkira, begitu juga si Adek.

Tapi yaa... setiap pertemuan semacam ini, pastinya ada perpisahan. Minggu sore itu, saya dan Adek duduk di taman yang sering jadi ikon sekolahnya Adek. Saya duduk dempet-dempetan sama Adek sambil memeluk erat lengannya. Adek tuh, di umur segitu nggak risih kalau lengannya saya peluk erat-erat, hehe, padahal teman sebayanya udah pada malu kalau digandeng kakak atau saudaranya.

Sambil menatap pelataran halaman sekolahnya Adek, saya ngobrol banyak sama Adek. Nitip pesan.. nitip Adek buat jaga diri... ngasih nasehat dikit-dikit untuk selalu inget sama tujuan Adek susah-susah sekolah di sini... juga mengingatkan bahwa Adek harus banyak menimba ilmu dan menjaring kawan sebanyak-banyaknya di sini.

Huhuuuu... saya nggak kuat saat mau meninggalkan Adek untuk kembali pulang ke Lumajang. Tapi ya mau bagaimana lagi, Adek harus tetap di Tangerang untuk belajar sampai tuntas. Saya nggak tegaaa banget saat lihat Adek harus merasakan yang namanya ditinggalkan. Sedih banget. Apalagi saat saya melihat foto ini, terlihat bahwa matanya Adek berkaca-kaca.

man-ic-serpong

Ditinggalkan, Seperti Kehilangan Pegangan

Lama saya tidak merasakan yang namanya ditinggalkan, kini saya mendapatkannya lagi. Awal bulan, saya menandai kalender: 1 April. Sebuah tanggal yang saya harus merasakan namanya perpisahan. Perpisahannya bukan perpisahan yang nggak akan berjumpa lagi, bukaan... Melainkan hanyalah perpisahan dengan seseorang yang selalu disemogakan, lalu ia harus lekas kembali ke kotanya, entah kapan akan bertemu lagi, mungkin long weekend selanjutnya.

Sedihnya itu rasanya.... kudu bilang gini terus: huuuuu jangan pergiiii. 

--Baca juga: Pentingnya Long Weekend

Hm... Sepertinya saya sering mengucapkan kalimat tersebut berulang kali, tentunya dalam hati. Kan nggak lucu kalau saya merengek-rengek kayak anak kecil sambil bilang gitu di depan stasiun, apalagi dibumbui tangisan yang mengharu biru. Duh laaaah... yang ada malah dilihatin sama orang-orang yang lewat.

Rasanya ditinggalkan seperti itu, apalagi di stasiun... itu rasanya nggak nguatin. Sedihnya itu sediiih banget. Seperti kehilangan pegangan~~~

foto-sama-pacar

Yaa... sepertinya fase hidup yang paling menyakitkan adalah ditinggalkan dan meninggalkan. Lalu, rasa ditinggalkan itu lebih sakit dan perih daripada meninggalkan. Bukan begitu?

Wassalammualaikum wr wb

10 komentar untuk "Rasanya Ditinggalkan dan Meninggalkan"

  1. LOH, JADI SELAMA INI?!?!?!?!?!

    Kakak aku mau dikirimin undangannya :')

    BalasHapus
  2. sama - sama berat utk dijalaini nih ditinggalkan dan meninggalkan. tapi kalo meninggalkan tergantung ke kitanya juga sih.

    BalasHapus
  3. Jangan katakan "selamat tinggal" tapi "sampai bertemu lagi" karena perpisahannya cuma sementara, dan semoga bisa berjumpa kembali.

    Nice post. Sebuah perenungan yang bikin baper kalau lagi pacaran kemudian pacar harus pulang. Huhu.

    BalasHapus
  4. mnurutku mninggalkan dan di tinggalkan itu sama sedihnya, sama sama kehilangan orang yg kita cinta, ceilah :D

    BalasHapus
  5. Ya ya, hidup itu memang ada dua pilihan. Ditinggalkan atau meninggalkan. Ada pertemuan ada perpisahan, kata bang roma.
    Saya baca paragraf akhir agak kurang paham nih, karena rasa rindu dan cinta atau gimana ya? kalimatnya sedikit absurd.

    BalasHapus
  6. Yah.. Udah ada yang punya ternyata... T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama Ayah dan Ibu

      Lebay ah emotnya 😂😂

      Hapus
  7. Adeknya sekolah dimana mbak di tangerang?

    BalasHapus
  8. Kalau pas foto sama adeknya, anda kelihatan muda ya kak. Kaya seumuran githu. Tp pas foto sama yg disemogakan, udah cocoklah untuuuuk...YKWIM-lah...
    Hehehe...

    BalasHapus
  9. pisah-pisahan itu emang nggak enak kok jeng, saya ngerasain dulu pas LDRan sama suami huhuhu.. rasanya kok maknyus tenan ya, ga bisa tidur semalaman

    BalasHapus