Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Catatan Receh yang Ternyata Enggak Receh

Assalammualaikum wr wb

Saya lama banget enggak update tulisan di blog. Terakhir ngeblog tanggal 1, sementara hari ini tanggal 13. Rupanya hampir dua pekan blog ini ditelantarkan oleh pemiliknya: saya. Kasihan teman-teman yang mampir ke blog, tapi belum ada tulisan terbaru, pun komentar-komentar belum terbalas, apalagi blogwalking. Ah, maaf.

Sebenarnya ada tujuan sih di balik menghilangnya saya dari dunia perblogeran. Supaya saya bisa menomorsatukan lebih dulu tugas-tugas kampus, lalu ngeblog lagi sebagai hadiah. Eh ternyata enggak bisa. Malah saya cenderung stres, hehe. Makanya, ini saya ngeblog dulu. Inshaa Allah setelahnya akan menyelesaikan tugas-tugas yang sudah lewat deadline. Huaaaah.

Catatan kali ini, hmm receh sih, cuma cerita-cerita biasa tentang orang-orang yang ada di sekitar saya.

Ayah

Ramadan kali ini enggak banyak yang berubah. Eh banyak sih, tapi enggak banyak yang bisa saya ceritakan. Salah satu yang berubah adalah Ayah, yang semakin ke sini semakin bersikap seperti anak kecil, hahaha. Hal ini wajar sih. Kita tumbuh dari bayi, lalu meremaja, kemudian mendewasa. Setelahnya menua, yang justru tingkah lakunya semakin memuda, seperti anak bayi. Ya, kira-kira seperti itulah Ayah, pada fisik yang tua, jiwa dan hasratnya kembali memuda.

Ayah, sedang memperjuangkan tesisnya. Tahun ajaran baru ini, sudah memasuki tahun ke-4 untuk Ayah. Bagaimanapun caranya, Ayah sudah harus menyelesaikan tesisnya. Hampir setiap hari saat bulan Ramadan, Ayah berangkat ke Jember untuk menemui dosennya.

Dosen yang harus diperjuangkan ini tinggal satu. Bukan dosen pembimbing ataupun dosen penguji, melainkan dosen pemegang laboratorium untuk penelitiannya Ayah. Beliau, selain galak, juga enggak mau ditanyai "kapan njenengan bisa terima bimbingan" atau kalimat sopan sejenisnya. Dih laaah, jadilah Ayah ke kampus setiap hari, menanti yang tak pasti.


Pulangnya… tentulah Ayah capek. Usia sudah memasuki kepala 5. Untuk perjalanan Jember-Lumajang saja, Ayah butuh waktu 2 kali istirahat supaya bisa tetap fit saat berkendara. Sampai rumah, bisa siang, sore, atau terkadang berbuka puasa di jalan. Kalau siang atau sore Ayah sudah ada di rumah, 15 menit sebelum adzan magrib, Ayah sudah stand by di meja makan untuk menanti berbuka puasa. Hahaha, udah kayak anak kecil ya. Tapi ya mau gimana lagi. Saya dan Ibu memaklumi capeknya Ayah.

Adek


Sementara itu Adek… Adek datang lebih dulu di rumah, daripada saya. Selama di rumah, Adek enggak mau diajakin keluar, baik oleh Ibu maupun Ayah. Adek maunya sama saya, healaaaah. Iya sih, kalau sama saya, Adek bakalan diajakin muter-muter jalan raya nyari takjil buat seru-seruan. 

Sekalinya keluar bareng, Adek nyarinya es kepal milo melulu. Saya masih menemani Adek untuk menemukan es kepal milo yang paaaling huenak. Iya, kata Adek es kepal milonya biasa-biasa aja. Sampai saat ini Adek belum tahu jawabannya kenapa es kepal milo bisa viral. Karena rasanya kah? Atau karena promonya?

Adek, masih sama seperti yang lalu-lalu. Nurut di kelas, liar di rumah. Saya tanyain tuh si Adek, perihal kamar asramanya Adek yang bersih dan rapi banget, sementara kalau sedang di rumah kerjaannya berantakin ruang tamu. Kenapa ya? Adek cuma cengengesan menanggapi fakta tersebut. 

Hmm, yaa mungkin karena Adek menggantungkan Ibu. Maksudnya, semua yang ada di rumah akan beres di tangan Ibu. Jadi merasa santai saja selama di rumah ada yang mau beres-beres. Juga… di rumah kan enggak perlu ada pencitraan toh?

Ibu


Ramadan kali ini, Ibu cukup berbeda, terutama fisiknya. Badan Ibu semakin mengecil, karena beberapa bulan lalu terkena diabetes kering. Alhamdulillah, Inshaa Allah diabetnya sudah sembuh, seiring Ibu rajin minum obat dan sudah pantang untuk mengonsumsi sari roti, susu indomilk, dan kopikap setiap hari. Kesel sih, ketika badan saya jadi lebih besar daripada Ibu. Huaaaah.

Btw, enggak tahu kenapa dua hari yang lalu, Ibu maksa banget supaya saya belajar masak Age (olahan daging sapi). Padahal biasanya enggak segitu maksanya sih. Palingan yaa Ibu ngajarinnya saat saya sedang membantu Ibu masak. Tapi enggak tahu nih yang kemarin, sengotot itu Ibu nyuruh saya ngafalin bahan-bahan untuk bikin age. Hahaha. Supaya apa coba??

Malam-malam di bulan Ramadan, tentang saya dan Ibu, masih sama seperti hari-hari biasanya ketika saya ada di rumah. Ketika Ibu gegoleran di kasur sambil nonton tv yang kelihatan dari kamar Ibu, saya selalu mengendap-ngendap ke kamar Ibu, lalu mengagetkan Ibu dan menjatuhkan badan di kasur, terus ndussel-ndussel ke Ibu, meluk Ibu erat-erat, sambil dijawil-jawil dagunya, juga sambil ditarik-tarik pipinya yang enggak empuk, sampai Ibu risih. Huahaha. Setelahnya, Ibu balas dendam sambil menggelitiki saya supaya saya lekas cabut nggak ganggu Ibu. Duh laaaaah, saya gueeemes sama Ibu.

Mbah Uti


Mbah Uti ini satu-satunya mbah kandung yang Alhamdulillah masih ada sampai saat ini. Lebaran tahun lalu, beliau masih sehat-sehat saja, seger-seger saja, apa aja dimakan, aktivitas apapun dilakoni. Sayangnya, dua pekan lalu ketika saya berkunjung ke rumah beliau, saya melihat Mbah Uti menjadi agak kurus. Jadinya kuruuus banget. 

Eh njilalah, hari Minggu kemarin, kami dikabari kalau Mbah Uti sakit. Rencananya, memang sorenya kami akan main-main ke sana. Kebetulan juga, paginya saya sedang ada kegiatan, jadinya baru bisa sore mampir untuk jenguk Mbah Uti.

Sesampainya di sana, saya dan Ibu tertegun. Kaget. Kok Mbah Uti belum dibawa ke dokter? Padahal di sana beliau tinggal bersama dua anak kandungnya dan dua menantunya. Lah mbok yo diantarin ke dokter. Lahwong dokternya dekat. Entah, beragam alasan yang terutarakan. Jengah.

Mbah Uti, pagi sebelumnya jatuh nggeblak, terus dibopong ke kasur. Akhir-akhir ini memang beliau sambat kalau badannya lemas terus. Kemudian, sukanya makan yang manis-manis dan dingin-dingin. Yaaa, dugaannya diabetes kering.

Ternyata memang benar, Mbah Uti terindikasi diabetes kering setelah diantar ke dokter oleh Ibu dan Mas Dian. Ibu wanti-wanti ke Mbah Uti, secara baik-baik, untuk minum obat secara teratur, harus makan teratur, menghindari makanan yang manis-manis, menghindari buah pisang dan pepaya, bolehnya cuma apel dan buah pir. Lalu, Mbah Uti… nurut.

Keesokan harinya, saya dan Ibu berkunjung lagi ke rumah Mbah Uti sambil membawakan popok dan buah apel. Kami bergegas menuju kamarnya untuk mengetahui kondisinya. Lalu kami kaget ketika tidak mendapati Mbah Uti di kamar. Loh, Mbah Uti dimana? Duh, saya was-was.

Healaaah, ternyata Mbah Uti lagi duduk di atas amben, sambil mreteli jagung untuk pakannya burung dara. Hooo Alhamdulillah, Mbah Uti udah merasa lebih baik. Kuat jalan sendiri lagi, setelah sehari sebelumnya enggak kuat duduk tegak. Semogaa, Mbah Uti lekas-lekas sehat teruuus. Aamiin.

Fatim


Setiap kali pulang ke Lumajang, saya mengajak Ibu untuk main ke rumah Fatim. Tiga bulan terakhir ini, saya jarang pulang ke Lumajang, maka jarang pula untuk main sama Fatim. Sekalinya main ke rumah Fatim, eee Fatim malah ngintilnya ke Ibu, bukan ke saya. Kok sedih ya. Hahaha, kesedihan saya receh banget.

Namun seminggu belakangan ini saya sering ke rumah Fatim, lalu Fatim sudah mulai suka lagi main-main dengan sayaaa. Yeeeey, senangnyaaa. Hal yang paling membahagiakan adalah ketika kita dikangenin lalu disapa sambil malu-malu, diambulin karena enggak dibolehin pulang, diintilin mulu sampe pengen ikutan pulang, jempol yang luka dirawat padahal sedang pura-pura, juga hmm apalagi yaa. Banyak deh. 

jilbab-amira

Huuu kaaaan pengen punya Adek lagi. Apalagi kalau si adeknya perempuan, terus dipakein krudung yang senada gitu. Kaaaan lucuuuu. Duuuh jadi pengen punya Adek perempuan kecil deh.

Kemudian Mas Dian (ayahnya Fatim) berujar “Maringene nggawe dewe Roooos”


Hmmmm talaaaah.

Kalau di rumah Fatim tuh, saya dibully habis-habisan. Soal apa? Soal nikah. Jadi, sebelum lebaran tiba dan orang-orang menanyakan ‘kapan nikah’, mental saya lebih dulu tertempa. Ditempa oleh Ibu, Mas Dian, dan Mbak Puja yang setiap kali saya berkunjung ke rumah Fatim, menjadikan saya sebagai bahan bullyan. Hohooo, namun sepertinya saya enggak sanggup menjabarkan kalimat pembullyannya. Bukan karena kata-katanya sadis, hanya sajaaa bikin saya ngguyu kepingkel sampai-sampai enggak sanggup gimana ceritanya.

Dan sepertinya… pembullyan soal kapan nikah ini belum tentu berakhir ketika saya menikah. Sepertinyaaa selepas menikah, saya masih akan dibully habis-habisan. Heyyalaaah. Hahaha. Yaudah, dinikmati ajalah yaa~~~


Kamu

Entah apa yang bisa saya tulis tentang kamu. Hmm, sebenarnya banyak kisah tentangmu, tentang kita. Namun, saya ngerasa agak gimanaaa gitu kalau mau cerita di blog, hahaha, kan dibaca banyak orang, juga dibaca kamu. 

Iyaa, blog saya ini enggak bisa dicurhatin sampai yang ke privasi banget. Padahal… cerita tentang kita… banyak. Hmm bukan banyak privasinya sih, tapi lebih banyak perasaan-perasaan yang kalau saya ceritakan di blog dan dibaca olehmu, khawatir malah terkesan saya ke-GR-an. Duh laaah.

Maunya siiih nulis di diary atau buku catatan harian, yang spesial tentang kamu, dan tentang kita. Hanya saja… saya… sudah merasa capek banget kalau nulis pake tangan, hehehe. Tapi eman-eman banget kalau cerita-cerita itu hanya disimpan di dalam ingatan, ya dijamin lah suatu hari memori itu akan memudar dan menguap.

Hmmm yaaa sepertinya saya harus mulai menulis diary lagi. Ya semoga istiqomah yaaa… dan catatan hariannya membuahkan hasil. Hasil akhirnya adalah… buku nikah. Iya, habis buku catatan harian, terbitlah buku nikah.  Hahaha.

Juga… semoga kebersamaan kita seutuhnya hanya terjeda oleh satu Ramadan lagi. Aamiin.
---

Wuiii, rupanya banyak juga yang saya curhatin. Ini siiih, bukan catatan receh namanya, melainkan catatan yang enggak receh.

Seneng sih bisa nulis ginian. Bebas. Tanpa membingungkan SEO-nya. Ya wajar sih, saya lahir di blog ini sebagai bloger curhatan, maka selamanya akan menjadi bloger curhatan, hehehe.

Btw, selamat menggenapkan ibadah puasa ya teman-teman, semoga amal ibadah kita selama ini bisa menjadi modal yang banyak untuk berangkat menghadap Ilahi dan bersemayam di surganya.

Juga… selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Semoga dengan saling bersalam-salaman dan saling berucap maaf, dosa-dosa kita berguguran, sehingga kita bisa masuk surga bareng-bareng. Aamiin.

Oh ya, maafin saya juga yaaa… yang sering salah kata dalam berucap, baik lisan dan tulisan. Enggak ada maksud untuk menyinggung atau membuat kesalahan, kalaupun ada salah-salah yang terjadi, Inshaa Allah terjadi di luar kesadaran saya. Jadi, mohon maaf sebanyak-banyaknyaaa. Karena pengabulan maaf dari teman-teman, dapat membangun tali persaudaraan antara kita, dengan lebih erat.

Terima kasih sudah membaca catatan receh yang panjang ini.

Wassalammualaikum wr wb
 




Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

8 komentar untuk "Catatan Receh yang Ternyata Enggak Receh"

  1. Mbok sing "Kamu" iku ditulis.. Arep takwoco og.. haha

    BalasHapus
  2. InsyaAllah gak ada tulisan yang receh, terutama untuk penulisnya sendiri. Karena pasti datang dari hati, kalau ga gitu dari julid an :') wkwkkw.

    BalasHapus
  3. Masya Allah, Bapak udah umur 50 dan tetap semangat selesaikan S2 ya. Moga Ibu sehat2 terus ya, biar makin dimudahkan mengurus Bapak dan anak2. Iyess, perkara kapan nikah. Teman saya ada yg sewaktu single, tiap upload foto di FB, komennya, "Lu kapan nikah?" Pas udah nikah, tiap upload foto, komennya, "Gimana? Lu udah isi?" Oww mameeennn... hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Inshaa Allah Ayah dan Ibu sehat-sehat selalu...

      Hohoooo, pertanyaan tahunan seiring waktu berjalan itu. Memang orang Indonesia sukanya gitu. Keponya kelas berat

      💕

      Hapus
  4. Blog punyaku lahir juga karena curhatan. Tetep pede wkwkwk 😊

    BalasHapus