Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Lebaran 2018 (Part 1 of 3)

Assalammualaikum wr wb

Bagaimana lebarannya? Benar-benar lebar-an kah??? Hmm, sepertinya saya menjadi bagian dari para pasukan yang memaknai lebaran dengan lebar-an. Duh laaah 😂
Seperti yang lalu-lalu, momen lebaran itu harus dicatat di blog dengan rapi. Supaya kenangannya enggak beterbangan tanpa jejak. Dua momen lebaran yang lalu, saya merangkumnya di blog. Baru saja saya selesai membacanya, ah saya jadi senyum-senyum sendiri. Boleh banget kalau mau baca catatan lebaran saya dua tahun lalu, silakan baca di sini: Lebaran 2016 dan Lebaran 2017.


Sholat Ied

Pagi itu, 1 Syawal 1439 H, kami bangun lebih awal dari biasanya: bersiap menyambut hari kemenangan (yang sepertinya saya belum sepenuhnya menang 😓). Saya harap-harap cemas, supaya kami tidak terlambat datang untuk Salat Idul Fitri seperti tahun lalu. Saya benar-benar pengen banget Salat Idul Fitri di lapangan, seperti biasanya.

Alhamdulillah, pagi itu kami tiba di Stadion Semeru lebih awal dari biasanya. Saya duduk bersebelahan dengan Ibu, di sof tengah. Sementara, Adek bersama Ayah.

Takbir dikumandangkan, lalu diikuti secara serentak oleh para jamaahnya. Suasana teduuuh sekali. Cuaca yang sedikit mendung, dengan hawa dingin yang hampir menusuk kulit. Sayup-sayup saya berdoa, memohon supaya saya tidak bersin-bersin saat Salat Ied, khawatir mengganggu jamaah lain.

Alasan kami selalu melaksanakan Salat Ied di lapangan terbuka adalah enak. Iya, enak. Jarak pandang kami luas. Lihat kanan kiri, ada rerumputan. Lihat atas, langit biru dengan awan yang seperti terlukis. Juga terlihat anak-anak kecil yang berlarian bebas kesana-kemari di lapangan dekat sof. Gemaaas gitu ngelihatnya. Si adek kecil yang cowok pake gamis, si adek perempuan pake krudung yang ada hiasan menyerupai kuping hewan, ah banyak deh pokoknya. Gemes lihatnya. Pengen punya satu atau dua yang kayak gitu 😆

Setelah salat, diharapkan untuk tetap stay di tempat guna mendengarkan khutbah dari penceramah. Khutbahnya lamaaa banget. Temanya tentang orang tua. Tahu sendirilah gimana perasaan para jamaahnya, yang khotibnya membahas tentang kewajiban memuliakan orang tua, yang erat banget dengan kehidupan kita sehari-hari. Jadi... ceramahnya... nusuk banget. Makjleb.

Apalagi setelah khutbah, langsung disambung dengan doa yang juga menyayat hati. Mulanya saya jaim sih, enggak mau meneteskan air mata meski doa-doanya sadis banget. Namun apadaya, semakin saya menolak untuk mendengarkan doa-doa demi jaim, ya semakin kuat pula doa-doa itu menghunus hati saya, membuat air mata saya pecah tak karuan.

Sepertinya baru kali ini, ada doa dari khatib Salat Ied yang mampu membuat hati saya luluh lantak. Setelah doa diakhiri, saya langsung mencium tangan Ibu, kemudian memeluknya. Iya, mumpung Ibu masih ada.

Maaf-Maafan dengan Keluarga

Selepas Salat, kami kembali ke rumah, tentu dengan rute yang berbeda, sesuai sunah. Kami baru tiba di rumah pukul setengah 8 pagi, lebih lama 1 jam daripada biasanya. Meski lama banget hingga bikin kesal, tapi Salat Ied tahun ini berkesan banget sih 😂

Sesampainya di rumah, saya, Adek, dan Ibu menunggu Ayah yang sedang memarkir mobil. Setelah Ayah masuk ke dalam rumah, Ibu langsung berjabat erat tangan Ayah dan menciumnya sambil meminta maaf. Kemudian dilanjut saya yang meminta maaf kepada Ayah, lalu Ibu. Terakhir, Adek yang minta maaf ke saya. Duh si Adek kalau minta maaf, malu-malu kucing banget 😂

Okey, saya sudah minta maaf ke Ayah, Ibu, dan Adek. Lalu, selanjutnya adalah minta maaf ke... seseorang dong. Saya langsung ambil hape dan kirim pesan via Whatsapp ke si dia.

Eeee si Ibu, ternyata melihat gelagat anaknya yang senyum-senyum enggak jelas saat pegang hape. Tiba-tiba Ibu berseloroh, "Ciyeee... Mbak Ocha wa siapa ciyeee..."

😅

Duh, Bu, malah digodain. Bingung kan nih mau nyusun kalimatnya gimana 😂 

Maaf-Maafan di Rumah Mbah Uti

Setelahnya, kami bersiap meluncur ke rumah Mbah Uti untuk bertemu dengan sanak saudara. Biasanya jam 8 pagi itu kami sudah sampai rumah Mbah Uti, tapi lah kok Ayah masih mbuuulet ae koyok susur, sampai akhirnya kami tiba di rumah Mbah Uti jam 9 pagi. Saudara-saudara udah pada nungguin.

Di rumah Mbah Uti, kami berempat berjalan beriringan, harus dimulai dari Ayah dulu, lalu Ibu, kemudian saya, disusul Adek. Minta maafnya harus urut. Harus ke Mbah Uti dulu, dengan susunan Ayah, Ibu, saya, Adek. Setelah dari Mbah Uti, barulah maaf-maafan dengan Bude-Bude, Pakde-Pakde, dan sepupu-sepupu yang sudah ada di rumah Mbah Uti.

Namun pagi itu, saya belum melihat Bude Kis, rupanya beliau sedang nglencer ke tetangga sebelah bersama Mas Dian, Mbak Puja, dan Fatim. Ah, mungkin terlalu lama nungguin saya datang ya, lahwong biasanya beliau sudah stay di ruang tamunya untuk menyambut saya datang.

Ya sudahlah, makan dulu. Setiap hari raya Idul Fitri, Mbah Uti selalu menyiapkan lontong, ketupat, opor ayam, santan tahu, santan tempe, dan sambal. Huuuh, lengkap dan huenak dah pokoknya.

Usai makan, saya bergegas menuju depan rumah karena terlihat Bude Kis dan pasukannya sudah datang. Dari jauh, saya langsung berteriak kesenangan melihat kedatangan Bude Kis, lalu saling mendekat dengan gerakan slow motion. Ah elah, lebay.

Rupanya si Fatim juga ikut-ikutan lari kenceng menghampiri saya sambil teriak-teriak kegirangan "Caaaaaaa", kemudian langsung nemplok ke saya 😂


Sesi Foto Keluarga

Kami ngobrol rame-rame di ruang makannya Mbah Uti. Nungguin Fatim makan dan nungguin Mas Dian yang makan opor untuk kedua kalinya. Sambil ngunyah makanan tuh, mas Dian tiba-tiba ngomong "Ayo Ros, foto-foto".

Yaelah, ditodong. Habisin dulu tuh makanannya.

Sejujurnya saya sudah siap dengan todongan macam itu. Makanya saya sudah menyiapkan tripod, yang sudah saya beli sehari sebelumnya 😂 Iya, demi foto bareng. Lelah kali yaaa, fotonya selfie melulu.

Kami berbondong-bondong menuju teras depan rumahnya Bude Kis. Setiap tahun, fotonya di sini terus. Alasannya: karena terang. Juga, ada beragam buah yang disuguhkan di ruang tamunya Bude Kis. Jadi, kalau lagi istirahat foto-foto, ya nyemil buah.

Nah, ini nih, beberapa foto yang berhasil dihimpun. Diambil dari kamera hape Oppo A37 milik Ibu.

Ada Bude, Pakde, sepupu, dan keponakan. Tapi enggak semuanya ikutan foto di sini, karena sebagian lainnya (Ayah, Ibu, Pakde Joko) sudah PW (Posisi Wuenak) sambil nyemil di ruang tamu yang tepat di belakang kami
Bude Fik, Wahyu, Roi, Pakde Agus (anak pertamanya Mbah Uti)
Pakde Joko, Mas Dian, Mbak Angel, Mbak Puja, Fatim, dan Bude Kis (anak ketiganya Mbah Uti). Btw, anak keduanya Mbah Uti tinggal di Blitar
Mas Dian, Mbak Puja, dan si kecil Fatim
Bude Mi, dan Mas Yudis. Pakde Jarot (anak keempatnya Mbah Uti) masih repot terima tamu sama Mbah Uti. Jadinya, pinjam Fatim biar enggak kikuk fotonya
Adek Fitrah, Ayah, Ibu, dan saya. Ibu adalah anak terakhirnya Mbah Uti, ada di urutan ke 6.
Oh ya, urutan yang kelima itu Alm. Pakde Tedjo. Beliau meninggal ketika Ibu lulus SMA. Saat itu, Ibu ingin lanjut kuliah dengan dibiayai oleh Pakde Tedjo yang jadi TNI Angkatan Laut. Namun sayangnya, saat sedang latihan militer, beliau terkena bom dan tidak bisa diselamatkan. Semoga beliau khusnul khotimah. Aamiin.

Ish laaah... masa' ketika saya sedang foto bareng dengan Ayah, Ibu, dan Adek, tiba-tiba Mas Dian berceletuk, "Loh iki endi putune Lek Gatot? Kok mek wong papat iki?"

😅😅

Haduuuh. Saya jadi salting. Saya enggak sanggup nahan ketawa. Ayah, Ibu, dan Adek malah ikutan cengengesan. Yaweslah, daripada saya fotonya jadi kikuk dan bingung kenapa personilnya kok belum nambah, ya saya ngajakin Fatim buat fotooo. Dan Fatim seneng-seneng aja tuuuh.

Pasukan peramai rumah

Oh ya, untuk lebaran kali ini, kami kompakan pake gamis motif bunga-bunga. Ya harap maklum sih, pada kena hasutannya Mas Dian dan Mbak Puja selaku penjual gamis kajep ori motif bunga-bunga ini. Toh, sekarang juga lagi hits kan?

Yang enggak pake gamis motif bunga-bunga itu... ownernya 😅 Harap maklum

Baju yang dipake Mas Dian dan Fatim itu juga produk jualannya, di toko miliknya yang bernama Syakira Store

Nah, foto berikut ini adalah foto dari cucu-cucunya Mbah Uti. Enggak semua cucunya ada di sini, soalnya dua cucu dan dua cicitnya sedang tinggal di Blitar, mereka baru akan mudik setelah hari raya ketupat (abot nang pasare 😅). Eits, ada satu lagi cicit yang enggak ikut, si Fatim. Dia enggak ikutan karena riweuh banget dengan kegalauannya mau ikutan foto atau enggak 😂

(atas ki-ka) Mbak Puja, Mas Yudis, Adek Fitrah, Wahyu, Mas Dian. (bawah ki-ka) saya, Mas Roi, dan Mbak Angel
Btw, pada penasaran ya raut wajahnya Mbah Uti gimana? Untuk lebaran kali ini, saya enggak ngajak Mbah Uti untuk foto bareng. Soalnya beliau masih dalam pemulihan pasca diabetes menyerang. Saya enggak berani mengajak beliau jalan ke teras depan rumah Bude Kis untuk foto bareng. Saya khawatir Mbah Uti kecapekan. Tapi kalau ada yang penasaran bagaimana rupanya Mbah Uti, ini saya kasih ya, dokumentasi lebaran tahun lalu.

Saya dan Adek, bersama Mbah Uti. Btw, ini menggunakan kamera hape Oppo Neo 7 dengan beautify tingkat tinggi 😆
Eits, ada satu lagi foto yang wajib ada tiap tahun. Yaitu foto krucil bertiga. Krucil-krucil yang dimaksud adalah Mas Yudis, Mbak Angel, dan Adek Fitrah. Mereka hampir sepantaran, jaraknya hanya selisih 2 tahunan. Mas Yudis kan tinggalnya di rumah Mbah Uti, tapi dia jarang keluar kamar. Sementara Mbak Angel rumahnya bersebelahan dengan rumah Mbah Uti. Sedangkan Adek, hampir tiap bulan ke rumah Mbah Uti.

Nah, tiap kali Adek Fitrah maen ke rumah Mbah Uti, palingan yang menemui dan ngajak main ya cuma Mbak Angel. Sementara Mas Yudis ndekem di kamar, enggak keluar-keluar. Nah, lebaran itu adalah momen keluarnya Mas Yudis dari sangkarnya. Maka, jadilah foto bertiga tiap tahun, hehe.

Kolase foto dari tahun 2006 sampai 2018. Enggak semua tahun ada fotonya, tapi lumayan lah sudah banyak fotonya

Mas Yudis yang mau masuk kuliah, Mbak Angel yang naik kelas 3 SMP, dan Adek Fitrah yang naik kelas 2 SMA

Hohoooo seruuuuuu. Lebaran kali ini, ada sosok bintang yang paling spesial dan paling diperhatikan. Tentu saja dia adalah Fatim, si keponakan kecil yang imutnya kebangetan, apalagi kalau pake krudung. Huuuua, pengen diajakin foto terus sama Tante Oca.

Fatim, yang tingkahnya bisa bikin senyum-senyum orang lain

Nglencer 

Seperti biasa pula, setelah foto-foto kami lanjut nglencer ke rumah saudara-saudara dari pihak Ibu yang masih berada di satu desa. Biasanya kami rame-rame naik mobil. Tapi sayangnya, hmm Ayah dan Pakde Joko mengusulkan nglencernya nanti siang setelah Jumatan. Heyyaelah. Alasan tuh. Padahal alasan terbesarnya adalah karena Ayah dan Pakde Joko sudah PW (Posisi Wuenak) dan lagi malas nyetir mobil.

Yaudah, kami nglencernya jalan aja. Ada dua rumah yang akan kami kunjungi, yaitu rumah Bude Ar dan rumah Mbah Upik. Jarak dari rumah Mbah Uti, hmm lebih dari 0,5 km. Tapi kan jalannya rame-rame. Apalagi ada si Fatim yang hueboh, maunya jalan di bagian depan, enggak mau disalip. Belum lagi kalau si Fatim nekat lari-larian di pinggir jalan, haduuuh ini yang njagain beneran capek dah.

Fatim yang lagi digendong Ibu, khawatir lari-larian di pinggir jalan. Ada Mbak Angel yang sadar kamera. Juga ada Adek yang ternyata ngajakin swafoto tanpa sepengetahuan saya

Rencananya kami mau mampir ke rumah Bude Ar dulu, tapi rupanya seisi rumah masih nglencer, buktinya tak terlihat tanda-tanda kehidupan di rumah Bude Ar. Yasudahlah, kami lanjut jalan ke rumah Mbah Ipuk.

Sesampainya di rumah Mbah Ipuk, eee ternyata ada pasukan keluarganya Bude Ar. Ketemu di rumah Mbah Ipuk ternyata. Apalagi anak-anak dan cucu-cucunya Mbah Ipuk juga ada di rumah. Jadi ramelah rumahnya Mbah Ipuk, lahwong ada rombongan 3 keluarga besar di sini.

Ngobrol sana-sani, ngobrol ngalor ngidul... sampai tibalah saatnya kepada topik pembicaraan yang ah elah kadang bikin malu, kadang bikin kesel, kadang juga bikin salting, yaitu menikah.

Soalnya nih, Dek Ivan, sepupu saya dari Mbah Ipuk, yang setahun lebih tua dari saya, berencana akan melamar gebetannya pada tahun ini. Gebetannya orang mana? Orang Klaten, yang lagi kerja di Jakarta juga bareng Dek Ivan.

Sayup-sayup, terdengar obrolan dari saudara-saudara, yang membahas calonnya Dek Ivan, yang juga merembet ke saya. Ah elah. 

"Ivan kate oleh wong endi ?" tanya Bude Ar.

"Inshaa Allah Klaten..." jawab Dek Ivan.
"Wuah, kok sebelahan ngene?" sahut Ibu tiba-tiba, sambil senyum-senyum ngelirik saya.

Saya? Salting 😅

Dalam hati, saya bergumam, Ibu iki kudu tak sleding ae 😂

Bude Ar dan saudara-saudara lain jadi penasaran, kan. Pada tanya, tuh. Tapi Ibu menjawabnya masih dalam kode-kode aja, enggak menceritakan secara gamblang. Lalu, saudara-saudara lain memaklumi bahwa susah menjelaskan tentang perencanaan yang masih belum jelas, apalagi soal asmaranya ABG, yang mau lanjut ke jenjang yang lebih jelas.

Celetukan yang paling dahsyat dari Bude Ar adalah berarti engkok nek nang Jawa Tengah, yo mesisan numpak bis ae, nang umahe Ivan, maringunu nyambangi Rosa.

Duh, modyar lah 😂

Ya kali naik bis ke sananya. Bisa gitu 'disekaliankan' silaturahimnya? 😂

Malamnya tuh, ketika saya lagi asyik kelon-kelonan sama Ibu, tiba-tiba Ibu nyeletuk, "Ros, kalau nanti ke Solo naik bis, gimana ya?"

Yaelah Bu, kok dipikirin beneran sih? Yang bis-bisan itu kan cuma guyonan. Adyaaaa 😅

Rombongannya Bude Ar sudah lama ngobrol-ngobrol di rumah Mbah Upik. Saat kami sedang makan, mereka pamit kembali ke rumahnya.

Enggak berapa lama kemudian, kami juga pamit undur diri. Rencananya mau lanjut nglencer ke rumahnya Bude Ar. Iya, ketemu lagi. Enggak afdol kalau enggak bertamu ke rumahnya langsung 😅

Di rumah Bude Ar, wuaah prahara terjadi. Si Jasmine, cucunya Bude Ar, bertingkah menggemaskan ala anak kecil, tapi tingkahnya juga nyebelin.

Di ruang tamu, ada sofa panjang yang langsung membentuk siku halus. Keluarga kami pada duduk di situ semua. Tiba-tiba si Jasmine datang, mendekati para tamu yang sedang di sofa, bilang permisi, sambil tingkahnya itu seakan-akan meminta para tamu duduknya bergeser.

Ya sudahlah, tamu yang juga masih keluarga itu geser tempat duduk, lalu duduk dempet-dempetan. Udah dikasih tempat, si Jasmine masih berseloroh "permisi... permisi...". Akhirnya Ibu dan dua saudara lainnya mengalah, mereka berdiri, supaya Jasmine duduk manis.

Setelahnya, Jasmine duduk manis sambil selonjoran di atas sofa. Yongalaaah. Kami sebagai orang yang lebih tua, hanya bisa memaklumi bahwa Jasmine masih kecil, masih imut-imutnya, dan masih belum tahu apa-apa.

Eh njilalah, lah kok si Jasmine bilang "permisi permisi" lagi. Walaaah, buyar wes lah. Kami langsung pamit 😂

Saat kami berpamitan, seperti biasa Bude Ar memberi angpau untuk anak-anak yang masih sekolah dan yang masih kecil, termasuk Fatim. Fatim dapat angpau dari Bude Ar. Ealah, si Jasmine enggak terima gara-gara Fatim dapat angpau.

Jasmin sama Fatim tarik-tarikan angpau, sampai Fatim jatuh dan dahinya kejedot. Duh, langsung saya gendong sambil membawa serta balon hijau punya Fatim dan langsung ajak keluar. Untung Fatimnya diam. Tapi Jasminnya nangis sih. Nangis gerong-gerong 😂

Si Jasmin ngejar Fatim yang lagi saya gendong. Orang-orang itu awalnya mengira kalau Jasmine pengen angpau kayak Fatim. Lalu Jasmin diberi angpau yang agak lusuh. Si Jasmine enggak terima, makin marah-marah.

Lalu, orang-orang mengira kalau Jasmine itu pengen balon hijau yang lagi dipegang Fatim. Bude Kis mengambil paksa balon hijau punya Fatim untuk diberikan ke Jasmine. Tapi Jasmine tetep nangis. Fatim pun juga mendadak nangis.

Lalu saya bilang kalau Jasmine pengennya angpau baru yang lagi dipegang Bude Kis. Akhirnya angpau baru itu coba dikasihkan ke Jasmine, tangisan Jasmine pun reda. Sementara Fatim tetep nangis meski balonnya dikembalikan 😂

Duh laaah, prahara anak kecil.
---

Hohooo, seru banget ya cerita lebaran hari pertama. Tapi cerita lebaran saya enggak cuma ini aja. Masih ada dua part lainnya, yang punya keseruannya tersendiri. Iya, ceritanya panjang banget. Harap maklum. Soalnya blog adalah media yang enak untuk merekam masa lalu. Cieeeh.

Oh ya, part 2 nya Inshaa Allah akan tayang hari Rabu. Sampai jumpa nanti 👋

Wassalammualaikum wr wb 💕
Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

12 komentar untuk "Cerita Lebaran 2018 (Part 1 of 3)"

  1. Kayaknya seru banget yaaaa lebaranmu kali ini wkwkkwkwkw. Harusnya aku nulis lebih lengkap lagi di blog hehehe. Cuma karena lebaranku tahun ini sangat monoton jadi gak lengkap wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      ya semoga lebaran tahun depanmu bisa seruuu

      💕

      Hapus
  2. Akhirnya rilis juga neng.. hoho

    Gek detail tenan iki ceritane/runtutan peristiwane.. Gek-gek pas lebaran wingi nggawa catetan yo nggo nulis rangkaian peristiwa.. haha
    .Dan isih part 1 yo.. Iso dadi novel tenan dah pokoke.. wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyooo, rencanane kate onok part 4, sing mbahas silsilah keluarga, hahaha
      malah mblenger ngkok pembacane hehe

      💕

      Hapus
  3. 1. maaf lahir batin mbak ros
    2. urutan sungkem klo kata emes harus mengikuti Dug!
    bener mbak jadi ebes (bapak) , emes (ibuk) , kakak, dan adik. urutan dug tidak boleh diganti
    3. Lucu sih liat foto dari tahun berapa itu sampe pada gede. Gak terasa ya kadang padahal itu udah 9 tahunan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, lucu ya, hehe
      nunggu lebaran lagi biar bisa foto bertiga kayak gitu. hahaha

      💕

      Hapus
  4. Waah keren, foto-foto lebaran tiap tahun bisa jadi kolase. Lebaran memang moment paling tepat buat ngumpul keluarga. Seperti biasanya, anak kecil selalu jadi bintangnya...heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, keren ya kolasenya. semoga bisa sampai tua nanti
      💕

      Hapus
  5. Maaf lahir batin mbak....


    Nastarnya mana mbak???

    BalasHapus
  6. dokumentasinya lengkap dari tahun ketahun, selamat lebaran ya

    BalasHapus