Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Lebaran 2018: Terima Tamu dan Nglencer (Part 2 of 3)

Assalammualaikum wr wb

Masih melanjutkan cerita lebaran yang ada di postingan sebelumnya, kali ini saya akan bercerita tentang serba-serbi lebaran hari ke-2, 3, dan 4 versi keluarga saya. Hohooo, bolehlah disimak...

Terima Tamu

Lebaran hari kedua biasanya kami berangkat ke Blitar untuk main-main dan silaturahmi ke Bude Endang (anak keduanya Mbah Uti). Namun apadaya, lebaran hari kedua Ayah mau ke Bali, reunian sama teman-teman kuliahnya. Juga lebaran hari ketiga, Adek ke Surabaya untuk ikut tes EJU, yang ditemani oleh saya. Jadilah, lebaran hari kedua, saya, Ibu dan Adek enggak kemana-mana.

Tapi hari itu, kami kedatangan tamu loooh. Lebaran kali ini, tamu pertama adalah Mbak Ina dan suaminya. Mbak Ina ini adalah karyawannya Ibu, dulu, yang Ibu sukai karena enggak neko-neko, mau bersahabat sama Ibu. Saking sukanya, Ibu menemani Mbak Ina untuk mengurus printilan souvenir pernikahannya.

Alhamdulillah, bersama suaminya, kini Mbak Ina semakin lebar-an, hehe. Semoga sehat-sehat selalu dan segera dianugerahi dedek bayi. Aamiin.

Sorenya, kami kedatangan tamu lagi, yaitu Om Salam, adik kandungnya Ayah yang jadi TNI dan sekarang tinggal di Blitar. Kalau Om Salam ini akrab-akrab aja sih sama saudara lainnya (dulu enggak, tapi Alhamdulillah sekarang udah legowo). Ya Om Salam ini, satu-satunya saudara kandung yang silaturahmi ke rumah tiap tahun. Tapi sayangnya, Ayah sedang tidak ada di rumah. Maka Ibu, saya, dan Adek lah yang menemani ngobrol Om Salam dan keluarganya.


Lebaran Hari Ketiga

Hari ketiga, Adek mengikuti tes EJU (Examination for Japanese University) di UNESA Surabaya. Berangkat naik travel jam 11 malam (kemarinnya), sampai di Surabaya jam 3 pagi, terus luntang-lantung di masjid. Acaranya dikiranya jam 8, ternyata jam 11. Awalnya mengira lokasinya di IMC Center, kok sepi, ternyata salah lokasi, healaaah. Untung ada tebengan.

Duuuuh, drama dah pokoknya. Enggak akan puas kalau ditulis di sini juga. Khawatir makin panjang nanti. Biar saya tulis di postingan selanjutnya aja, tentang apa itu EJU, beserta drama-dramanya menemani Adek tes EJU, hehe.


Lebaran Hari Keempat

Saya dan Adek kembali dari Surabaya ke Lumajang itu jam setengah 10 malam (kemarinnya). Maka pagi ini, lebaran hari keempat, tinggal menunggu Ayah yang baru balik juga dari Bali. Ayah datang jam setengah 7 pagi. Alhamdulillah. Tapi rencananya... hari ini kami enggak kemana-mana sih. Palingan... main ke rumah Fatim 😂

Saya mengajak Ibu untuk silaturahim ke rumah Fatim. Rupanya kami menjadi tamu pertama di rumah Fatim. Yeeeeey 💃

Sudah puas main sama Fatim, saya mengajak Ibu untuk pulang. Sesampainya di rumah, rupanya sudah ada Bude Fik, Mas Rahyu, dan Mas Roi yang silaturahim ke rumah kami. Hohooo, ya kami langsung ngobrol-ngobrol di ruang tamu.

Ibu meminta saya membelikan bakso untuk suguhan makan siangnya Bude Fik dan anak-anaknya. Saya mengajak Adek untuk beli bakso. Nah, selama saya beli bakso, ternyata Bude Fik curhat-curhatan ke Ibu soal Mas Wahyu yang galau mau menikahi gebetannya (yang janda itu, yang sempat ditentang sama keluarga besarnya).

Usai makan siang, Bude Fik mau lanjut silaturahim ke rumah Fatim. Lalu, saya, Ibu, dan Adek? Ya ikut lagi 😅

Di rumah Fatim, saya mengajak Fatim beli bakso. Saya pengen ndulang Fatim soalnya. Hmm, sama mendulang diri sendiri sih 😆

Setelah dari rumah Fatim, kami pengennya nglencer sekalian juga deh. Ke rumahnya Tante Ira, Tante Elok, Tante Halimah, dan Om Eko.

Si Fatim juga ikut. Tapi dia enggak mau dibonceng bareng Mama sama Ayahnya. Maunya dibonceng saya, atau dibonceng Mbah Siti (Ibu saya). Tapi kan kami sama-sama nyetir. Yaweslah, biar Fatim digendong Adek. Fatim mau. Fatim mengulurkan tangan ke Adek. Terus Adek bingung, "Mbak Ochaaa, iki yok opo gendonge?" Dan itu adalah pertama kalinya Adek menggendong anak kecil.

Selama di perjalanan, Fatim tidur. Pas Fatim tidur tuh, Fatim enggak dipeluk sama Adek. Malah dipegangin bahunya. Duh, Dek 😅

Rumah Tante Ira ini merupakan rumah induk dari keluarganya alm. Mbah Ipuk. Anak-anaknya udah pada punya rumah sendiri. Setelah dari rumah Tante Ira, langsung lanjut ke rumah Tante Elok, yang pernah jahit baju wisuda saya, hehe. Kemudian, rencananya mau mampir ke rumah Tante Halimah, eee rumahnya kosongan. Jadinya lanjut ke rumahnya Om Eko.

Rupanya, di rumah Om Eko sudah ada keluarga dari Mbah Upik, beserta Tante Halimah. Oke, jadi kita ketemunya di sini, di rumah Om Eko 😅

Rumahnya Om Eko iniii... huuu asri banget. Luas. Ada kebun jeruknya, ada kandang ayam yang luas, ada empang untuk ikan lele. Ada kolam ikan nila, dan di sudut lain ada kolam ikan gurame. Lengkap dah pokoknya. Bunga-bungaannya dan tanamannya juga banyak.

Tante Indah, anaknya Mbah Upik, malah sudah metik daun kelor dan kangkung, serta mancing ikan lele untuk dibawa pulang 😂 Tentunya sudah seijin Om Eko.


Rumahnya juga asik daaah. Idaman banget. Rumahnya sederhana, memanjang ke samping, perabotan rumahnya sedikit, pencahayaan terang benderang, bikin nyaman dan betah. Apalagi di teras rumah, disediakan meja besar seperti meja makan, untuk menjamu tamu yang ingin santai-santai ria sambil melihat pemandangan kebun yang ada.

Huaaa idaman banget dah.


Sementara itu... Fatim sibuk ngeliatin ikan nila yang ada di kolam. Padahal cuaca sedang terik, si Fatim keukeuh enggak mau diajak berteduh di rumah, maunya nontonin ikan berenang. Yaelah 😅


Setelah puas nyemil-nyemil dan menikmati udara segar di rumah Om Eko, saudara-saudara dari Mbah Upik ngajak silaturahim ke rumah kami. Iya, nglencernya mbuleeet ae 😅

Tapi saya enggak lekas-lekas pulang, masih mampir ngajakin Adek beli pizza di toko pizza yang baru dibuka. Nyobain pizza, yang suka Adek sih, saya bagian icip-icip dan mengantarkan.

Di kasir toko pizza tersebut, ada beberapa balon, yang menggoda mata Fatim. Untungnya penjaga kasirnya peka, lalu diberikanlah satu balon warna-warni untuk Fatim. Fatim girangnya bukan kepalang. Main lempar-lemparan balon sama Adek di toko itu. Ya untungnya tokonya lagi sepi, pembelinya cuma kita 😅 Puaslah si Fatim lembar-lemparan balon sama Adek.

Adek dan Fatim
Setelah mendapatkan pizza, kami langsung balik ke rumah. Sesampainya di rumah, saudara-saudara sudah memenuhi ruang tamu dan ruang keluarga kami. Lalu, saya diminta Ibu untuk membelikan bakso lagi. Kasihan, saudara-saudara pada lapar, belum makan siang. Maka bergegaslah saya bersama Adek untuk membeli bakso lagi 😅

Malam harinya, Ibu meminta saya untuk membelikan bakso lagi. Rencananya, pentol baksonya mau digoreng, untuk dibuat perbekalan saat berangkat ke Blitar keesokan harinya. Tapi ternyata pentol goreng tersebut hanyalah isapan jempol belaka, karena subuh-subuh Adek mendadak kelaparan dan dimakanlah itu pentol semuanya. Habis dah.

Totalnya nih, hari itu saya membeli 20 porsi bakso, ditambah bonus 2 porsi bakso. Banyak banget. Lah gimana lahwong tamunya banyak 😅
---

Itulah cerita lebaran saya pada hari ke-2,3,4. Ceritanya receh sih, tapi wajib lah yaa untuk diceritain, hehe.

Oh ya, Inshaa Allah Jumat akan tayang cerita lebaran 2018 part 3. Iya, part 3 itu adalah part terakhir. Cerita tentang perjalanan saya dan keluarga silaturahim ke Blitar. Ceritanya... duh penuh drama dengan perut sendiri. Tungguin aja deh tayangnya, hehe

Wassalammualaikum wr wb 💕

6 komentar untuk "Cerita Lebaran 2018: Terima Tamu dan Nglencer (Part 2 of 3)"