Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Malam Kedua Kulineran di Alun-Alun Solo


Assalamualaikum wr wb

Malam kedua di Solo, saya main ke alun-alun lagi. Tapi malam itu saya enggak hanya ngobrol sama si Mas. Melainkan mencicipi kuliner malam khas Solo  🍜

Alun-Alun Solo memang beda ya dengan Alun-Alun  Lumajang. Di tempat tinggal saya, enggak ada gerobak atau orang jualan di dalam alun-alun. Para PKL (Pedagang Kaki Lima) jualannya ya di pinggir alun-alun. Karena pada dasarnya fungsi alun-alun dikhususkan sebagai taman kota 🌳


Berbeda dengan Solo yang gerobak dan para pedagangnya masuk ke wilayah alun-alunnya alias lapangannya. Bahkan banyak arena bermain untuk anak di dalam area alun-alun 👶

Awalnya saya enggak percaya kalau ini alun-alun. Saya pikir ini Pasar Malam. Hehe 😄

Namun karena ada pohon beringin di tengah area dan si Mas ngotot bilang ini adalah alun-alun kotanya, maka saya mengalah untuk meyakini bahwa ini adalah Alun-Alun Solo…. yang ternyata masih lebih indah dan keren Alun-Alun Lumajang. Hohoho… 😎

Fotonya seadanya ya, hehe

Di Alun-Alun Solo, ada banyak angkringan sederhana dengan gerobak yang sederhana pula. Tidak ada lampu terang yang menyoroti alun-alun untuk tampak terang. Hanya lampu temaram seadanya, yang membuat suasana tampak syahdu 👰

Malam itu, saya mau nyicipin makanan angkringan khas Solo. Ada banyak lauk yang disuguhkan. Seperti sate tahu, sate tempe, sate usus, teruuus… lupa dah. Ah ya, ada lauk unik yang hanya ada di Solo Raya. Yaitu lauk leher beserta kepala ayamnya, dengan mulut yang menganga. Waduuuuh di sini enggak ada. Saya ngeri ngeliatnya. Hahaha 😂

Lauk yang disajikan di angkringan
Eh ada lagi. Saya ambil satu lauk, yaitu sate ayam yang bentuknya kotak-kotak mulus-mulus gitu penampakannya. Saya tanya ke penjualnya, “niku nopo Pak”. Beliau jawab, “pitik”.

Hmm… saya tahu sih kalau itu ayam. Tetapi yang saya maksud adalah itu bagian ayam yang mana? Tapi saya mau tanya lagi, saya enggak paham harus ngomongnya bagaimana. Saya enggak terlalu pandai basa krama 😅

Lalu saya ambil deh, satu tusuk. Terus coba saya makan di bawah lampu temaram. Saya cobain. Kok rasanya beda ya. Empuk-empuk gimanaaa gitu. Lalu saya berpikir, bagian mananya ayam ya yang rasanya begini? 😦

Mikir lamaaa banget. Saya bayangin tuh, bagian ayam satu persatu, yang kira-kira rasanya seperti ini 😦

Sampai akhirnya… ini brutu kah? (brutu = dubur ayam)

Saya tanyakan ke si Mas, lalu si Mas mencobanya. Kemudian dia mantap bilang, “iyo”.

Saya terdiam. Syok 😨😨😨

Saya tuh udah lama enggak makan brutu. Ibu juga melarang saya untuk makan brutu karena itu adalah bagian ekskresinya ayam. Juga banyak lemaknya daripada dagingnya. Jadi, saya sudah menyingkirkan brutu dari kehidupan saya 💁

Lalu.. ternyata saya pilih. Saya pikir sate tusuk sate yang saya pilih itu bagian dadanya ayam yang dipotong kotak-kotak. Tapi ya sempat curiga, kok warnanya mulus ya. Ealah, tibake brutu toh. 😆

Terus, dihabisin dah sama si Mas 💆

Ah ya, nasi yang disediakan di angkringan ini ya nasi kucing. Nasi sedikit, dengan sedikit lauk. Si Mas mengambilkan saya dua bungkus nasi kucing. Harganya seribuan atau dua ribuan ya, saya lupa 😐

Nasi kucing yang pertama, isinya nasi sama kering tempe. Ukuran nasinya, lebih besar kepalan tangan saya. Terus rasanya… ya biasa saja. 💁

Nasi kucing yang kedua, si Mas bilang isinya sambal teri. Wuah, terbayang dong, bagaimana enaknya sambal teri. Pas dibuka… ealah, isinya segenggam nasi, lalu di atasnya ditumpangi cabe satu biji, lalu di atasnya lagi ditumpangi teri satu ekor. Mashaa Allah, saya kaget banget euy. Enggak sesuai bayangan saya. Hahaha 😄😄😄

Soalnya, kalau di Jember, lebih tepatnya di kecamatan Puger, sambal teri adalah makanan khasnya di sana. Ya samal semangkok tuh, di dalamnya ada banyak teri. Proporsinya 50:50. Jadinya ya enak. Lalu saat di Solo, sambal terinya tak seindah yang dibayangkan 😏

Yaweslah. Maem ae lah. 😅

Untuk minumnya, saya pengen banget es teh krampul. Lucu sih namanya. Soalnya di Lumajang enggak ada. Es teh krampul ini ya es teh lalu diberi perasan jeruk purut. Kearifan lokalnya Solo banget lah 💃

Kalau di Lumajang, enggak ada es teh yang diberi perasaan jeruk. Kalaupun ada, ya lemon tea. Bukan kekhasan lokal 💁

Yaaa… itulah sekelumit kulineran malam hari khas angkringan di Alun-Alun Solo 💁

Sepertinya, malam itu makanannya lebih berkesan daripada obrolan saya dengan si Mas, hehe 💓

…dan selamat bermalam minggu. Sampai jumpa di postingan Love Story berikutnya...

Wassalamualaikum wr wb 💕

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

13 komentar untuk "Malam Kedua Kulineran di Alun-Alun Solo"

  1. di jogja juga ada mbak yang masih melotot matanya itu ayam hehe
    tapi menurutku di solo lebih manis sih, lebih banyak kecapnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jogja solo suka ayam yg matanya melotot itu ya 😅

      Hapus
  2. hehe .. kenapa pake shock segala ama brutu? Udah sikat aja .. kapan-kapan maen ke simpang lima Semarang ya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Syok karena tidak sesuai harapan. Merasa dibohongi oleh harapan sendiri 😂😂

      Siap bos

      Hapus
  3. Kok aku serem baca kuliner leher ayam dengan kepala dan mulutnya yang menganga. Bikin nafsu makan langsung hilang

    BalasHapus
  4. harus porsi banyak klo makan nasi kucingnya mbak:D
    biar sehat,,

    BalasHapus
  5. jadi kangen Solo deh, dulu pas masih di Jogja sering jg main ke Solo kak hehe

    BalasHapus
  6. Kudune takfoto pas maem brutu yo.. haha

    BalasHapus
  7. brutu, aku malah ga doyan juga

    BalasHapus