Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita Lebaran di Malang, Blitar dan Mojokerto

Assalamualaikum wr wb

Saya pikir, lebaran ini enggak akan kemana-mana. Termasuk ke Blitar, apalagi Malang dan Mojokerto. Sebab, kami sudah lelah mengurus reuni. Juga, Bude Kis sudah harus masuk kerja. Susah untuk cuti pada hari pertama masuk kerja.

Ayah dan Ibu mendadak untuk mengajak kami pergi-pergi. Pergi nglencer ke rumah saudara di Blitar. Sekaligus mampir ke Malang dan ke Mojokerto.

gunung-dalam-mobil


Ayah yang nyetir. Dinikmati saja. Sesampai-sampainya.

Personil yang ikut berangkat adalah Ayah, Ibu, saya, adek, dan Mbak Angel. Iya, ngajak Mbak Angel juga, biar enggak kosong-kosong banget gitu mobilnya.

bekal-dari-rumah
Mbontot. Alias bawa bekal. Dimakan di tengah perjalanan. Biasanya di piketnol


Mampir ke Malang

Kami ada saudara di Malang. Lebih tepatnya di desa Kromengan, kecamatan Peniwen. Sejalan menuju Blitar.

Di sana, rumah adiknya Mbah Kung Yudiono. Mbah Uti, perempuan. Masih inget kalau kami anak cucunya Mbah Kung, tapi beliau enggak hafal dengan nama-nama kami. Yang hafal ya anak-anaknya, yang saya panggil Bude.

kue-lebaran
Suguhan

Di sini, keluarganya menganut agama Kristen. Kurang tahu sih, Protestan atau Katolik. Yang jelas, agak wanti-wanti sama makanannya. Khawatir kenapa-napa. Kalau ada menu sayur, ya saya bakal ambil sayur, tanpa ambil lauk lainnya. Sayangnya, cuma ada opor ayam. Yaweslah, makan ae. Tapi ambil sedikit kok~

Setelahnya, kami mampir juga ke rumah Bulik Yamti dan Paklik Pran. Ngobrol-ngobrol sebentar. Sambung talisilaturahim.

sempol-cendol-dawet
Kalau capek ya berhenti. Ayah istirahat. Kami njajan. Ini sempol dan cincau ala Malang. Persis di pertigaan Pindad.

Nginep di Blitar

Di Blitar, ada 2 saudara. Adiknya Ayah dan kakaknya Ibu. Biasanya kami menginap di rumahnya Bude End yang merupakan kakaknya Ibu. Tapi prediksi kami, kami akan menginap di rumah Om Salam. Eh ternyata, Om Salam sedang ada halangan, jadi kami menginap di rumah Bude End.

Kami tiba di rumah Bude End saat magrib tiba. Naruh-naruh barang. Nggeletak sebentar. Lalu langsung cus ke rumah Nurul. Mau nyambangi cucu~~

Iya, saya punya cucu~~~

anak-kecil-tidur-pegang-uang

Nurul ini keponakan saya, yang seumuran. Dia nikah duluan, terus hamil, terus melahirkan hingga punya bayi. Namanya Azzam.

Lucu ya, bilangnya begini: Cucu Azzam... sini gendong sama Mbah Uti Rosa...

Huahaha... semua orang tertawa. Ya gimana ya, memang begitu adanya. Harus menerima kenyataan bahwa ternyata saya sudah punya cucu, hohoo...

Jam 8 malam, kami kembali ke rumah Bude End. Tidur di ruang keluarga, yang sudah disiapkan untuk kami menginap setiap tahunnya. Kami tidur pindang-pindangan, hehe.

kasur-saat-lebaran


Mampir Kediri

Pagi hari, kami langsung cus pulang. Tapi enggak lewat Malang. Melainkan lewat utara, yaitu Kediri.

Kepulangan kali ini cukup berbeda. Maksudnya, jalan yang kami lalui itu berbeda. Benar-benar beda.

jalan-blitar-kediri
Jalanan Blitar-Kediri
Dengan rute yang berbeda, kami jadi tahu bagaimana tanaman nanas itu ada. Ternyata tumbuh di tanah dan lancip-lancip gitu ya. Ditanam di pekarangan rumah, yang membuat kami terheran-heran karena enggak pernah tahu sebelumnya. Rupanya, Blitar Kediri itu sentranya buah nanas ya.

Kami mampir juga ke tempat oleh-oleh khas Kediri. Lumayan sih ini, bisa dijadikan konten blog tersendiri, hohoo....

oleh-oleh-kediri


Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan. Kalau capek, ya berhenti. Ayah istirahat, kami cari cemilan dong. Hingga menemukan es cendol murah meriah. Saking enaknya, kami beli 10 loh. Ya termasuk oleh-oleh buat saudara di Mojokerto.

es-cincau
Nongkrong di sini

es-cincau
Sueger shay. Suuuuueger banget. Sampe beli 10 porsi loh. Hahaha

Mampir di Mojokerto

Sudah lama Ayah dan Ibu pengen mampir ke sini. Di Mojokerto, ada Bu Je, tetangga kami dulu, yang cukup akrab. Tiba-tiba Bu Je bercerai dengan Pak Jianto. Ya kaget dong kami. Enggak sanggup berkata apa-apa. Pun baru bisa mampir ke sini.

Alhamdulillah disambut dengan hangat. Kangen banget sama Bu Je yang makin kurus. Kangen juga sama Firhan dan Revin yang ternyata makin besar, hoho.

lebaran-mojokerto

Saat di Mojokerto, kami sempat mampir ke pendopo. Lupa dah apa nama pendoponya. Seharusnya kami diturunin di museum Trowulan. Entahlah sama Ayah kok diturunin di sini yang ternyata enggak recommended. Tapi tetap akan saya ulas sih di blog, nanti~~

Selepas dari Mojokerto, kami langsung cabut balik ke Lumajang. Saat di Probolinggo, kami mencoba lewat jalan tol. Mulus shay. Alhamdulillah. Seneng bisa ngerasain jalan tol saat lebaran, hehe.

lebaran-di-tol

Nah, itulah cerita lebaran saya. Nothing special sih. Yang spesial ya perjalanannya dan makan-makannya, hehe.

Sudah komplit, 3 tulisan saya tentang lebaran 2019.

Semoga kita bisa bertemu lagi di Ramadhan dan Lebaran selanjutnya ya. Biar bisa nulis cerita lebaran lagi, hehe.

Wassalamualaikum wr wb 💕
Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

2 comments for "Cerita Lebaran di Malang, Blitar dan Mojokerto"

  1. tidur pindang pindangan ini bikin seru, semua sodara ngumpul, bercanda bercanda, suasana yang menyenangkan.
    cendolnya ehhh bikin ku pengen juga beli

    ReplyDelete