Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ibu, Tesis dan Hati dalam Cerita Sepekan

Assalamualaikum wr wb

Saya mau cerita lagi. Tentang ngapain aja saya selama sepekan kemarin. Saya akan berbicara mengenai 3 hal, yaitu tentang Ibu, Tesis dan Hati.

Ibu

Alhamdulillah Ibu diberi kesehatan dan fisik yang kuat sehingga Ibu bisa bekerja dengan maksimal. Tujuannya ya membiayai saya dan Adek.

Sebagai pelepas lelah, seperti biasa, kami main ke rumah Fatim. Ada Shanum juga. Pakai baju ijo-ijo. Eh Ibu juga pakai baju ijo-ijo. Lucu.


Ibu akhir-akhir ini ngajakin kulineran mulu dah. Maunya makan mulu. Kapan kurusnya saya ini. Jumat malam, Ibu ngajak kulineran di Pujasera Embong Miring. Sabtu Malam, Ibu ngajak kulineran di Food Court GM Plaza.



Hari Minggunya, Ibu ngajakin travelling. Ibu pengennya ke Dira Park Balung yang baru. Tapi saya enggak sanggup kalau harus ke Jember banget. Jauh euy. Ke Jatiroto aja dah. Ke kebun teh Gunung Gambir.

Ibu sih suka-suka aja ya. Minimal bisa refresh mata. Tapi kurang asik untuk dijadikan tempat leyeh-leyeh euy. Soalnya rame banget.




Tesis

Hari Selasa, saya ditemani Mbak Amel datang ke lokasi penelitian, yaitu SPAS Kasmaran, di kelurahan Bintoro. Menemui Pak Sayudi.

Hari Senin, saya telpon beliau. Bisa ditemui di rumahnya. Masuk gang yang ada di depan SD Bintoro 1. Rumah persisnya, katanya, tanya aja ke warga, orang-orang udah pada kenal Pak Sayudi.

Sesampainya di sana, tanya ke 3 warung, pada enggak tahu yang namanya Pak Sayudi. Sempat pindah gang sebelah, tapi ternyata benar di gang pertama yang kami masuki. Oh mungkin kami menjelajah kurang jauh.

Hingga kami merasa berkendara terlalu jauh. Tanya deh ke warga sekitar. Kepada seorang bapak-bapak. Kami tanya tentang Pak Sayudi, beliau enggak tahu. Tapi beliau tahu tentang orang yang biasa mengukur debit di sungai. Orang-orang memanggilnya Pak 'Di.

Oalaah... ya benar itu maksudnya mungkin Pak 'Di.






Hati

Sepertinya hati saya sedang tidak baik-baik saja. Eh bukan hatinya sih, melainkan sayanya. Kurang perhatian apa ya? Hmm, mungkin.

Saya enggak tahu. Kenapa saya begitu sepi. Hampa. Dan kurang berwarna. Mungkin karena enggak ada yang ngejar-ngejar kali ya. Ya saya sih yang ngejar. Satu arah saja.

Atau mungkin saya yang terlalu agresif. Menghubungi duluan. Menanyakan kabar terlebih dahulu. Paling banyak berbicara. Paling antusias. Berharap lebih. Berekspektasi tinggi.

Iya, sepertinya saya yang salah. Terlalu agresif. Berekspektasi tinggi.

Ya mungkin karena enggak pernah menyampaikan perasaan soal ini ya. Seharusnya saya tanya. Aku agresif ya? Kenapa kamu jarang menghubungi aku lebih dulu? Kenapa kamu berbeda dengan awal kita kenal? Kamu nyaman kah dengan aku yang sering chat duluan, atau malah risih? Kamu memang tipe yang pasif kah? atau hal-hal lain yang menggema di pikiran.

Pikiran jahat sih ini. Mempertanyakan hal-hal yang bisa jadi memberi kita jarak.

Namun sebenarnya mungkin kita hanya perlu berdiskusi. Mungkin saya perlu menyampaikan uneg-uneg untuk kebaikan bersama.

Ya biar nanti saja. Saat bertemu. Mari kita lihat. Apakah dia lebih sering menggenggam tangan saya atau gadgetnya?

Wassalamualaikum wr wb
Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Post a Comment for "Ibu, Tesis dan Hati dalam Cerita Sepekan"