Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tawaran Mengesankan - Baleriano Chapter 3

naskah-novel-baleriano


Abu-abu adalah warna langit sore ini. Bukan jingga, bukan merah, tapi abu-abu. Sepertinya akan turun hujan. Pepohonan meliuk-liukkan batangnya yang diterpa angin pembawa hujan. Angin dingin menusuk sampai ke belulang. Sore ini sungguh dingin. Syal yang aku kenakan pun masih belum cukup menghangatkanku.

Namun hujan masih belum jatuh. Satu rintik pun masih belum menyentuh tanah. Aku rasa, angin masih memberikan waktu pada manusia-manusia lain untuk segera pulang dan menghangatkan diri.

Jangan terlalu asyik dengan kegiatanmu, pulanglah, mungkin itu pesan dari sang angin.

Hujan tinggal jatuhnya. Entahlah apa yang ia tunggu. Mungkin masih ada segelintir orang yang belum lekas pulang. Dan mungkin juga hujan sedang berbaik hati untuk menunggu mereka pulang.

Cahaya putih secepat kilat menampakkan diri di angkasa. Bukan cahaya dari jepretan kamera, tapi kilat dari Penguasa Alam.

Cahayanya yang terang benderang membuat banyak orang takut padanya. Entah apa salahnya sampai-sampai banyak orang yang bertingkah aneh ketika ia datang menyapa. Apakah karena sapaannya yang terlalu ekstrim? Padahal ia datang dengan tujuan yang mulia. Ia datang untuk melengkapi hujan yang senantiasa menyambut umat manusia pada musim hujan.

Hujan telah turun, rintik-rintik..

Aku melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti di tempat parkir butikku. Pasti mobilnya Nana.

Tak berapa lama kemudian, Nana turun. Ia ditemani dengan seorang pria yang mengenakan kemeja berwarna biru.

Siapa ya orang itu? batinku dalam hati.

Cepat-cepat Nana berlari ke pelataran butikku agar bajunya tidak basah meski hujan masih rintik-rintik.

Aku pun berdiri dan menyambut Nana, “Silahkan masuk, Na.”

Tanpa banyak bicara, ia masuk ke dalam butikku. Tak terkecuali pula orang yang mengenakan kemeja berwarna biru itu, masih mengintil di belakang Nana.

Aku berjalan menuju sofa tamu yang biasanya aku jadikan tempat untuk berdiskusi mengenai desain sepatu. Kalau urusan pembayaran dan pemesanan, ada tempatnya sendiri, yaitu di ruang kerja.

Nana pun duduk di sampingku. Tetapi pria tadi tidak mengikuti Nana lagi. Matanya tertuju pada deretan sepatu pria yang ada di bagian utara dan sepertinya ia mendatangi rak khusus sepatu pria.

“Dia siapa, Na?” tanyaku tiba-tiba.

“Hah? Siapa?” si Nana kumat lemotnya.

“Itu tuh... yang tadi sama kamu...” jelasku sambil berbisik, berharap agar sosok yang sedang dibicarakan tidak mendengar.

Nana menoleh ke samping kanan. “Oo... itu...” sepertinya Nana tahu orang yang aku maksud.

“Dia tunanganku,” jawab Nana dengan antusias. Matanya berbinar-binar. Wajahnya sumringah.

Ternyata tunangannya. Hebat banget si Nana, padahal umurnya 3 tahun lebih muda daripada aku, tapi ia yang bertunangan duluan. Yaa, apa mau dikata, urusan jodoh, siapa yang tahu?

“Kenapa? Kaget ya?”

“Nggak juga...”

“Yakin..?”

“Yakin apanya?”

“Elo jangan pura-pura nggak tahu, Ra.”

“Apaan sih.. Nana iih.. jangan buat aku galau menghadapi pertanyaanmu..”

“Ciee galau...” ledek Nana.

“Huss!” bentakku sambil mencubit lengan Nana.

Nana hanya meringis kesakitan.

“Eh ya, elo udah dapat pacar?” tanya Nana tiba-tiba.

Alisku mengkerut, “Pacar? Kok pacar sih, Na?”

“Apa kalau bukan pacar? Mantan?”

“Kok tiba-tiba mantan?” Aku mulai kesal dengan Nana yang membawa-bawa kata mantan.

“Elo balikan sama Elang?”

Aku menelan ludah.

“Ini nih, desain yang kamu pesan sudah jadi, “ sahutku sambil menyodorkan sebuah sketsa desain sepatu yang sudah kuletakkan di atas meja sebelumnya, berusaha mengalihkan pembicaraan.
***

Hujan sedang tak bersahabat. Aku terperangkap di tempat rutinku hari Sabtu sore. Teman-teman sudah pulang. Aku ingin pulang. Jika seperti ini, aku merasa seperti anak anjing yang takut basah. Bukan karena takut basah, tetapi hujan sore ini sedang tidak mengenakkan hati. Inilah alasan mengapa aku tidak suka hujan. Ya, karena hujan datang secara tiba-tiba dan datang tanpa kompromi.

Aku duduk sendirian. Sebenarnya sih tidak sendirian. Ada seorang pria yang duduk tak jauh dariku. Entah dia siapa, entahlah dia menunggu siapa. Meski ada orang yang menemaniku, tapi aku merasa bahwa tidak ada yang menemani. Pria itu sama saja seperti patung, tak peduli kanan-kiri.

Sejenak aku memperhatikannya. Pria di sampingku mengenakan kacamata dengan frame hitam. Ia mengenakan celana jeans, kaos putih dengan dipadu kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak berwarna merah-krem-oranye yang senada dengan warna pendukung lainnya. Sebuah kalung khas pria melingkari lehernya. Lengan kemeja pada bagian pergelangan tangannya dilipat sehingga tampak jelas ia mengenakan arloji di tangan kirinya. Ia duduk bersandar pada kursi sambil menyedekapkan kedua tangannya.

Sekali lagi aku melirik arlojiku. Dua puluh menit telah berlalu, namun hujan masih belum reda. Aku terjebak di tempat les baletku.

“Hmm... maaf.. saya boleh nanya?” tanya sebuah suara. Aku menoleh ke samping kiri. Seseorang yang bagiku adalah patung, akhirnya angkat bicara dari kebisuannya.

Meskipun merasa aneh bercampur canggung, aku tetap meladeninya mengingat adat kesopanan untuk menjawab pertanyaan orang awam, “Ya? Ada apa?”

“Hmm... yang les di sini kemana ya? Kok sepi sekali?”

“Kan sudah pulang semua dari tadi..” jawabku.

“Hah? Sudah pulang?” sahutnya terkejut.

“Iya, sejak setengah jam yang lalu...” terangku.

“Oo... begitu ya...” Dia tampak lemas, seakan tak percaya dengan apa yang telah kukatakan.

Keadaan menjadi hening lagi, tergantikan oleh suara hujan yang semakin semangat untuk menderukan nada derasnya.

Kemudian tanpa berpikir panjang pria itu beranjak pergi. Meninggalkan seorang wanita yang sedang kedinginan dan akan sendirian jika ia benar-benar pergi.

Ah, ternyata semua laki-laki sama saja ya, rela meninggalkan seorang wanita yang sendirian di tengah derasnya hujan, batinku dalam hati.

Tiba-tiba langkah kakinya terhenti, kemudian menoleh padaku dan tiba-tiba aku merasa bahwa pria itu punya indera ke-6, yaitu bisa mendengarkan suara hati  orang lain, lebih tepatnya mendengarkan suara hatiku.

Aku yang merasa sedang menjadi objek matanya, mengaitkan alis, seakan bertanya, ada apa lagi?

“Anda ngapain di sini?”

“Menunggu hujan reda.”

“Sampai kapan?”

“Sampai tiba waktunya.”

“Kapan itu?”

“Ketika hujan benar-benar reda.”

“Jika larut malam?”

“Yaa saya akan pulang larut malam,” jawabku lantang.

Pria itu terdiam sejenak. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Entah apa.

“Bagaimana jika Anda ikut dengan saya?” tawarnya.

“Ikut kemana?”

“Mengantarkan Anda pulang. Tak baik jika Anda sendirian di sini.”

Aku berpikir sejenak. Jika aku menolak tawaran darinya untuk pulang lebih awal dan menunggu hujan reda, maka aku akan pulang ke rumah dengan haru biru kedinginan dan bisa dipastikan besok aku akan sakit. Belum tentu pula aku selamat. Ini Jakarta. Apapun bisa terjadi.

Jika aku menerima tawaran pria itu, hmm... bagaimana dengan...

“Sepedaku?” tanyaku dengan nada menggantung.

“Anda bawa sepeda?”

Aku mengangguk.

“Sepeda apa?”

“Sepeda kayuh,” jawabku sambil menunjuk sepeda kayuhku yang terparkir tak jauh dari mobil milik pria itu.

Pria itu berjalan mendekati sepeda kayuhku. Sontak aku berdiri, takut terjadi apa-apa dengan sepeda kayuhku. Pria itu mengamati sepeda kayuhku dengan seksama.

“Ini sepeda lipat kan?”

“Iya.”

“Bagaimana jika sepeda lipat ini diletakkan di bagasi mobil saya kemudian saya mengantarkan Anda pulang?”

Aku diam sejenak, berpikir.

“Apa Anda tidak keberatan?” tanyaku balik yang tiba-tiba mengganti aku-kamu menjadi saya-anda untuk menghormati gaya bicara orang yang sedang berbicara denganku.

“Saya tidak akan bisa memaafkan diri saya jika saya meninggalkan seorang wanita sendirian dalam keadaan seperti ini,” jelasnya.

Sungguh, aku tersanjung.

Namun ada sisi pikiranku yang lain, yang memberontak pada tawarannya. Keadaan seperti ini? Memangnya seburuk apa? Lagipula ini hanya hujan.

Namun aku tetap diam, tak berkomentar serta tidak memberikan respon tubuh. Membiarkan kata-kata itu keluar dari pikiranku, tertahan di bibirku karena hatiku sedang merasakan sesuatu yang berbeda, saat ini. Mungkin.

“Bagaimana? Apa Anda tega menjadi alasan agar saya tidak memaafkan diri saya?” tanyanya lagi. Kali ini ucapannya lebih tegas.

Aku tersentak. Terkejut.

“Tapi saya tidak mengenal Anda,” sahutku.

“Memangnya kenapa? Saya memang bukan siapa-siapa Anda, tapi saya merasa bahwa saya harus bertanggung jawab terhadap Anda.”

Aku tertegun. Heran. Bagaimana bisa orang yang tidak kukenal merasa bahwa aku adalah tanggung jawabnya.

“Tenang saja.. saya orang baik..” katanya lagi.

Aku terdiam, berpikir. Penawaran pria ini sungguh mengesankan. Tak pernah aku mendapatkan penawaran seperti ini, apalagi dari mbak-mbak SPG yang selalu mengenakan rok mini dan baju ketat dengan belahan dada terbuka.

“Anda masih tidak percaya dengan saya?” matanya melotot, tampaknya ia sudah mulai kesal denganku.

Tiba-tiba ia merogoh saku belakang celananya kemudian ia mengambil dompetnya. Ia membuka dompet dan mengeluarkan sebuah kertas tebal seukuran kartu nama. Ia menunjukkan padaku sebuah KTP miliknya.

NAMA : DAVIN CHRIS SETIABUDI

Tanpa babibu lagi dan tanpa membaca identitas selanjutnya, segera aku menutup dompet yang ada di tangannya secara paksa. Dia terkejut, lalu bertanya, “Masih belum percaya?”

“Tidak, saya percaya dengan Anda sejak awal. Hanya saja...”

“Hanya saja apa?”

Saya perlu waktu untuk mengatakan bahwa saya jatuh hati kepada Anda.

“Saya perlu waktu untuk mengiyakan tawaran Anda.”

Aku menunduk lesu. Menekuk muka. Kata-kata itu mengalir dengan bebas, tak terbatas, hanya saja tertahan di mulut ini.

“Ya sudah, silahkan masuk ke mobil saya”, katanya lagi sambil membukakan pintu mobil untukku.

Hujan masih deras. Belum juga berhenti sampai detik ini. Entahlah kapan redanya.

Pria berkacamata yang ternyata bernama Davin segera melipat sepeda kayuhku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil, padahal hujan masih menyertainya. Sedangkan aku menunggunya di dalam mobil. Tak berapa lama kemudian, ia juga masuk ke dalam mobil. Ia berada di belakang kemudi. Aku duduk di sampingnya.

Ia mengarahkan mobilnya keluar dari tempat les balet “Balenesia”, kemudian keluar dari persimpangan jalan menuju jalan raya.

I am so happy cause today ~
I’ve found my friends ~
They’re in my head ~
I’m so ugly, but that’s okay, cause so are you ~
We broke our mirrors ~
Sunday morning is everyday for all I care ~
And I’m not scared ~
Light my candles, in a daze ~
Cause I’ve found God ~

Sebuah lagu milik Nirvana yang berjudul Lithium mengiringi perjalanan kami. Davin tak banyak bicara, aku pun juga tak akan berkata sesuatu pun jika tak diajak bicara oleh pemilik mobil ini, karena aku sadar diri bahwa aku hanya menumpang di mobil ini.

Lama terdiam dalam kebisuannya masing-masing, akhirnya Davin angkat bicara, “Rumah kamu di mana?”

Di hatimu.

“Di Griya Indah,” jawabku.

Sayangnya, kata indah nan gombal itu hanya sampai di pangkal tenggorokan, tercekat dengan rasa angkuh untuk mengungkapkan terlebih dahulu.

“Di bagian mana?”

Di bagian hatimu yang terdalam

“Di depan sendiri.”

Lagi-lagi aku mati kutu untuk mengatakan tentang isi hatiku, meski terkesan gombal.

“Rumah saya juga di Griya Indah, tapi rumah saya ada di blok paling belakang,” lanjutnya lagi.

Rumahmu adalah rumahku. Rumah kita sama. Beratapkan kasih. Berdindingkan sayang. Beralaskan ketulusan. Dan tak ada ruang hampa karena terisi oleh kamu, semuanya.

“Oo.. saya sering ke blok belakang, tapi saya kok tidak pernah bertemu dengan Anda ya?” tanyaku.

Ah, sayangnya kamu tidak mendengar suara hatiku.

“Mungkin belum ditakdirkan untuk bertemu kala itu..” sahut Davin.

“Maksudnya?” Dahiku mengkerut, alisku bertemu. Aku tak paham dengan apa yang Davin katakan.

“Ee.. sudahlah.. lupakan. Oh ya, kita mampir ke resto sebentar yuk,” ajaknya sambil mengalihkan pembicaraan.

“Ngapain?”

“Saya lapar. Temani saya makan ya? Saya tetap mengantarkan Anda pulang kok. Mau ya?” pintanya lagi.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengiyai permintaannya. “Memangnya mau makan di mana?” tanyaku.

“Hmm.. di sini,” ucapnya sambil mengerem mendadak. Berhenti di depan sebuah resto yang bernama ‘Nada-Nada Kepiting’.
***

Cinta itu menjaga dan tanpa alasan, just it.
– Ella Yaumil - 

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Post a Comment for "Tawaran Mengesankan - Baleriano Chapter 3"