Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nada-Nada Kepiting - Baleriano Chapter 4



“Anda pesan apa?” tanya Davin setelah seorang waitress mendatangi kami sambil menyodorkan sebuah buku menu berwarna hitam beraksen not balok.

Aku yang baru tahu mengenai restoran ini masih bingung untuk memilih menu makan malam yang pas di lidah. Menu makanannya kepiting semua, tapi aku tidak tahu kepiting mana yang paling enak.

“Sama aja deh,” serahku. Aku memasrahkan pilihan menu makan malam pada Davin. Perbendaharaan menu makananku masih terlalu minim untuk menyimpulkan makanan mana yang pas di lidah karena ini pertama kalinya aku datang ke resto yang seluruh sajiannya berbahan dasar kepiting. Lebih baik pemilihan menu makan malam kali ini diserahkan kepada orang yang lidahnya telah terbiasa makan makanan yang dijamin enak di restoran yang sepertinya sering ia datangi.

“Hmm... saya pesan kepiting ijo jawa, dua dan lemon tea, dua juga,” kata Davin pada waitress. Kemudian matanya melirik dan menjadikanku sebagai objek matanya, seakan bertanya, setuju?

Aku mengangguk kecil sebagai bukti bahwa tidak ada kata protes yang aku keluhkan.

Setelah mencatat menu yang dipesan Davin, waitress yang mengenakan setelan baju berwarna hitam segera pergi meninggalkanku dan Davin. Ia berjalan menuju dapur.

“Kamu sekolah, kuliah atau kerja?” tanya Davin yang tiba-tiba mengubah kata Anda menjadi kamu.

Aku speechless. Davin mendadak tidak lagi menjadi orang asing bagiku hanya karena dia telah mengubah kosa katanya. Entahlah apa gerangan yang membuatnya mengubah kata sapaan tersebut.

“Ee.. aku udah kerja,” mendadak pula aku ikut mengganti kata saya menjadi aku. Alasannya sih, untuk mengimbangi Davin yang tidak lagi menggunakan kata Anda yang terkesan sangat sopan.

“Kerja apa?”

Yang jelas, bekerja keras untuk mendapatkan hatimu.

“Desainer,” jawabku singkat.

“Kerja bareng siapa?”

Yang jelas, bekerja keras dengan pemilik hatimu.

“Maksudnya?” lagi-lagi alisku mengkerut.

“Maksud saya, kamu berpartner dengan desainer siapa atau kamu bekerja di butiknya siapa?” terangnya lagi.

Sudah kubilang, dengan pemilik hatimu. Yaitu kamu.

“Aku kerja di butikku sendiri...” nada bicaraku mulai merendah.

“Oh ya? Dimana?”

Tentu saja di hatimu.

“Nggak jauh dari Kota Tua...” jawabku.

“Hmm.. berarti kamu sering datang ke Kota Tua ya?” tanyanya lagi. Wajahnya terlihat sumringah ketika membicarakan Kota Tua.

“Iya. Biasanya aku ke Kota Tua sore hari sambil bersepeda. Hitung-hitung refreshing lah...” Sepertinya aku sudah mulai menikmati percakapan ini. Ternyata mengobrol dengan Davin asyik juga ya.

“Saya tidak pernah ke Kota Tua..”

“Sekali?” Sungguh, aku tak percaya jika Davin belum pernah singgah ke Kota Tua.

“Ya. Sekalipun saya tidak pernah pergi ke Kota Tua.”

Wuah, sayang sekali. Padahal banyak keseruan yang ada di hatiku. Di sini ramai sekali. Ramainya bukan seperti ramainya para peneriak perasaan tak berbalas, melainkan ramainya para cupid. Banyak sekali bidadara yang melebarkan sayapnya sambil berpromosi di hatiku. Tak jarang juga banyak bidadari yang sekedar bercanda atau mengabadikanmu di semesta hati ini. Kalau perut mendadak lapar, jangan kawatir, banyak sekali pohon yang menggantungkan buah cinta di sini. Buah cintanya meneguhkan hati pula. Jika sedang berada di hatiku, kamu seakan-akan merasa bahwa kamu sedang mundur satu abad dan melihat satu abad ke depan berisi aku dan kamu semuanya. Nyaman banget buat kamu, di sini, di relung hati ini. Apalagi hati ini juga menyiapkan sepeda cinta buat kamu yang ingin mendekati hatiku lebih mendalam dan tentunya merasakan atmosfer keindahan tiada batas. Pemandangan di hati ini juga nggak kalah keren, ada kamu yang selalu terbingkai manis di setiap sudut hatiku. Pokoknya, menikmati seteguk cinta di hatiku ini seru banget.

“Wuah, sayang sekali. Padahal banyak keseruan yang ada di Kota Tua. Di sana ramai sekali. Ramainya bukan seperti ramainya Tanah Abang, melainkan ramainya anak muda. Banyak sekali komunitas-komunitas yang melebarkan sayapnya sambil berpromosi di Kota Tua. Tak jarang juga banyak anak muda yang sekedar nongkrong atau berfoto di depan Kota Tua. Kalau perut mendadak lapar, jangan kawatir, banyak sekali orang yang berjualan makanan di sana. Makanannya enak-enak pula. Jika sedang berada di Kota Tua, kita seakan-akan merasa bahwa kita sedang mundur satu abad dan melihat sekeliling terkesan vintage dan unik banget. Nyaman banget di sana. Apalagi Kota Tua juga menyiapkan sepeda onthel buat para pengunjung yang ingin menjelajahi Kota Tua lebih mendalam dan tentunya merasakan atmosfer jaman dulu. Pemandangan di sana juga nggak kalah keren. Pokoknya, menikmati sore hari di Kota Tua itu seru banget.” Aku bercerita dengan nada yang berapi-api. Dengan api yang berkobar karena kemarahan karena tak sesuai dengan yang ada di hati.

Beginilah jika pikiran dan hati tak sejalan. Dan akhirnya pikiranlah yang menguasai hati, karena tak mampu berkata jujur.

Davin melongo.

Aku jadi salah tingkah ketika aku tahu bahwa Davin menyimak ceritaku dengan seksama dan sepertinya tanpa berkedip.

“Kapan kamu terakhir kesana?” tanya Davin tiba-tiba.

“Sudah lama sih... Sekitar satu bulan yang lalu. Maklum, akhir-akhir ini kerjaanku masih banyak, aku nggak punya banyak waktu.”

“Ajak saya kesana ya?” pinta Davin.

“Hah?” Aku jadi salah tingkah lagi. Tak seharusnya aku mengungkapkan ekspresi ketidakpercayaanku terhadap tawaran Davin dengan cara berekspresi seperti ini.

“Hei, Vin.” Tiba-tiba ada seseorang datang sambil menepuk pundak Davin.

Davin lantas menoleh.

“Eh, kamu Dit,” sahut Davin seraya merangkul seseorang yang mengenakan hem putih dengan aksen garis-garis berwarna biru sebagai pemanisnya.

Wajahnya tak asing olehku. Sepertinya aku pernah melihat orang ini, tapi di mana ya?

“Lo nggak ngisi hari ini?” tanya seseorang itu pada Davin.

“Hari ini kan malam Minggu. Gilirannya band pendatang yang ngisi. Gimana sih, kamu kan yang punya resto,” sindir Davin dengan ekor mata yang mengarah pada 6 orang yang sedang berada di panggung musik yang biasanya dijadikan tempat bagi para pengisi musik untuk meriuhkan suasana resto.

Dan seketika itu pula aku bertanya dalam hatiku sendiri, memangnya orang ini kerja apa?

“Hahaha, iya juga ya. Bodoh banget gue. Udah jelas-jelas lo ada di sini,”

Davin hanya tersenyum simpul.

“By the way, sekarang band apa yang tampil?”

“Kalau nggak salah… namanya Peppermint.”

Davin membulatkan mulut, “Oo...”

“Oh ya Vin, gue cabut dulu ya, masih ada banyak pekerjaan di belakang,” pamitnya.

“Nglembur?” tanya Davin singkat.

“Bisa dibilang begitu.” jawabnya sambil tersenyum.

Kemudian orang itu berlalu dan bergegas meninggalkan Davin. Ia melangkah menuju bagian belakang resto ini. Sepertinya ia adalah salah satu bagian dari resto Nada-Nada Kepiting.

Kehadiran orang tadi membuatku sedikit lega karena pembicaraanku dengan Davin mengenai Kota Tua terhenti sejenak. Setidaknya Davin tidak akan lagi mengingat topik pembicaraan sebelumnya. Dan setidaknya pula, aku tidak akan bingung untuk mengiyakan ajakan Davin guna menemaninya pergi ke Kota Tua.

“Eh ya, kapan saya bisa jemput kamu?”

Lagi-lagi aku heran, “Untuk apa?”

“Untuk menemani saya pergi ke Kota Tua,” jawab Davin antusias.

Ya ampun... ternyata Davin masih ingat perihal Kota Tua...

“Apa kata nanti deh, ya... Aku nggak tahu kapan jadwalku kosong.” Sungguh aku tak bergairah menerima ajakan Davin yang serba mendadak.

Tiba-tiba seorang waitress datang menghampiri meja kami sambil membawakan menu pesanan kami. 2 kepiting ijo jawa lengkap dengan nasi dan sayur mayurnya. Tak ketinggalan 2 gelas lemon tea melengkapi menu makan malam kami.

Kami berduapun langsung menyantap kepiting ijo jawa yang warna hijau cabenya sungguh menggoda untuk dimakan. Sebuah alunan musik yang dibawakan oleh 6 pria di sisi resto mengiringi makan malam kami. Mereka berenam menyanyikan lagu milik Goo Goo Dolls yang berjudul Iris. Sungguh membawa kenikmatan tersendiri bagi kami dan tentunya membawa sisi romantisme tersendiri bagiku.

And I’d give up forever to touch you ~
Cause I know that you feel me somehow ~
You’re the closest to heaven that I’ll ever be ~
And I don’t want to go home right now ~
And all I can taste is this moment ~
And all I can breathe is your life ~
Cause sooner or later it’s over ~
I just dont want to miss you tonight ~

***

Cinta itu netral, bisa terjadi di mana aja, kapan aja, gimana aja caranya, pada siapa aja walaupun cuma sakclirat dan sekejap mata.
- Eksak -

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Post a Comment for "Nada-Nada Kepiting - Baleriano Chapter 4"