Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesempatan Langka - Baleriano Chapter 10

naskah-novel-baleriano


13.00 wib

Siang ini gerimis. Memang cerah, tetapi gerimis. Ibarat manusia, wajahnya cantik tapi budi pekertinya tidak seimbang dengan parasnya. Aku pernah mendapatkan seseorang yang seperti itu. Yang cerah, tapi gerimis. Yang baik, tapi ternyata busuk.

Dua orang yang aku kenal dengan sangat baik, ternyata menusukku dari belakang. Aku teringat akan tulisanku tentang mereka beberapa tahun silam.

Ketika kau menyembunyikannya dariku, aku rasa itu yang terbaik.
Tapi aku juga perlu tahu tentang sesuatu itu.
Ketika kau memberi tahu sesuatu itu padaku, lebih baik kau menyembunyikannya.

Kata-katanya memang sederhana, tidak ada yang indah sedikitpun. Memang membuatnya dengan perasaan yang sungguh tidak indah dan ternyata sepadan dengan hasilnya.

Ketika seseorang menulis sebuah pesan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan, maka yang bermain adalah emosi. Jika ia sedang bahagia, maka akan meluncur kata-kata yang indah, yang menunjukkan betapa cerah wajahnya, betapa berbinar-binar matanya. Dan jika ia sedang dirundung masalah, tak jarang umpatan-umpatan akan tertulis secara spontan tanpa tahu sopan santun dalam etika perbahasaan. Selalu emosi yang bermain, ia selalu ikut campur dalam mempermainkan pikiran dan hati setiap manusia.

Siang ini aku sedang sibuk membuat desain sepatu baru. Anya yang memesannya. Katanya sih, sepatu yang ia pesan akan dikenakan olehnya pada pernikahan Papanya sekitar satu bulan lagi.

Anya memintaku untuk membuatkannya wedgess yang berwarna dasar putih polos dan ia minta ditambahkan sedikit aksen sebagai pemanisnya. Aku pun memberikan motif bunga yang eksotis dengan sentuhan warna merah muda yang terkesan sangat manis apabila dipadukan dengan warna dasarnya.

Tak berapa lama kemudian, sketsa wedgess yang dipesan Anya telah selesai. Begitupun juga dengan gerimis yang telah selesai menyiram bumi. Rupanya si gerimis hanya menengok sebentar.

Tok tok tok...

“Ya, masuk...” seruku.

Pintu ruang kerjaku terbuka. Salah satu karyawanku muncul dari balik pintu.

“Ibu Maura, ada tamu,” katanya.

“Ya, langsung saja masuk ke ruangan kerja saya,” jawabku.

Kemudian ia pergi meninggalkan ruanganku untuk menemui tamuku.

Biasanya aku sebagai pemilik butik yang menemui para tamu untuk bercengkerama mengenai sepatu yang ada di butikku. Tapi sekarang aku sedang tidak berminat untuk beranjak dari kursiku. Biarkan para pelangganku saja yang menemuiku di ruang kerjaku.

Tak berapa lama kemudian, pintu ruang kerjaku terbuka lagi. Ada 3 orang yang menyembul dari balik pintu. Aku terkejut bukan main. Ada Anya di sana. Ia datang bersama Davin dan Om Danang.

Aku senang bercampur heran. Senang karena mereka datang mengunjungiku secara tiba-tiba. Heran karena Anya membawa serta kakak dan papanya.

Aku menyambut mereka dengan hangat, “Silahkan masuk, mari duduk,“ sambutku sambil berdiri dari kursi kerjaku lalu mengambil tempat di sofa yang sengaja kusediakan untuk para pemesan desain sepatu yang datang.

“Apa kabar Anya, Davin, dan Om Danang?” sapaku ramah.

“Baik...” jawab Om Danang mewakili Anya dan Davin.

“Silahkan duduk, Anya, Davin dan Om Danang,”

Mereka bertiga pun duduk berdampingan di sofaku yang berwarna coklat dengan motif serat kayu.

“Kak Maura kece, aku datang bareng Kak Davin kece sama Papa loooh,” serunya kegirangan.

“Iyaaa,” jawabku mengiyakan perkataan Anya.

“Maura, bagaimana kabar kamu? Sehat?” tanya Davin basa-basi.

“Sehat kok.”

“Oh ya, nak Maura, maksud kedatangan kami ke sini untuk mengundang nak Maura datang ke pesta pernikahan saya,” kata Om Danang yang membuka topik pembicaraan.

Aku yang mendengar permintaan Om Danang untuk datang ke pesta pernikahannya, mengaku sangat senang. Karena ini pertama kalinya calon pengantinnya datang sendiri padaku tanpa membawa undangan. Apalagi ia bukan teman sebayaku, melainkan umurnya jauh lebih tua daripada aku, mungkin sekitar 25 atau 30 tahun di atasku.

“Terima kasih banyak atas undangannya, Om,” jawabku dengan ramah.

“Tapi, nak Maura, begini...” lanjut Om Danang. “Anya cerita ke saya kalau nak Maura adalah seorang balerina, benar begitu?”

“Ee... iya Om..” jawabku pesimis. Aku pesimis karena aku sadar, aku hanyalah seorang balerina biasa yang tidak terlalu hebat dan tidak perlu mengatakan bahwa aku mahir menari balet.

“Nah, kebetulan acara resepsi pernikahan saya dikonsep seperti kerajaan-kerajaan yang ada di Eropa. Pada satu sisi, saya ingin menampilkan sebuah sajian dalam bentuk tarian yang diwakili oleh salah satu negara dari Eropa. Tarian yang khas Eropa adalah tari balet dari Italia. Untuk menampilkan tari balet, saya meminta nak Maura untuk menjadi balerina dalam pernikahan saya. Anya merekomendasikan kepada saya untuk menjadikan nak Maura sebagai balerina dalam pernikahan saya. Jadi, apakah nak Maura bersedia menjadi pengiring acara dalam pernikahan saya yang akan diselenggarakan satu bulan lagi?” jelas Om Danang panjang lebar.

Aku ragu. Karena aku tahu dan aku sadar diri bahwa aku bukanlah seorang balerina profesional. Ikut lomba pun tidak pernah, tapi tiba-tiba dapat tawaran untuk mengisi acara pernikahan dengan menampilkan tarian balet. Entah apa jadinya jika aku menerima tawaran Om Danang.

“Tapi Om, saya kan bukan balerina profesional,” elakku.

“Saya tidak mencari balerina yang profesional. Tetapi saya mencari seorang balerina yang bisa menarikan tarian balet dengan baik. Anya bilang kepada saya bahwa nak Maura mampu memainkan tarian balet dengan sangat baik, bahkan bisa memadukan tarian balet dengan berbagai jenis musik apapun,” kata Om Danang sambil melirik Anya.

Anya hanya cengar-cengir.

Ya, Anya memang tahu tentang bagaimana menari baletku. Sebelum kelas balet dimulai, biasanya aku dan Anya menari balet dengan bebas. Aku sering memutar berbagai jenis musik dengan berbagai macam genre.

Aku pernah bilang pada Anya, “Menarilah sesukamu, berekspresilah sesuka hatimu. Tapi jangan terlalu sombong. Ingatlah bahwa ada sebuah irama yang selalu mengiringi kamu. Karena ia yang akan mengantarkan kamu pada sebuah kedamaian hati. Apapun macam irama itu, tetaplah disandingnya, karena ia yang akan menjadi penguat jiwamu.”

“Tapi Om, tarian Anya kan lebih bagus daripada saya. Dia bisa menarikan tarian balet yang sulit dimainkan oleh teman sebayanya,” elakku lagi dengan memuji Anya.

“Tapi Pa, Kak Maura kece lebih jago daripada Anya. Kan Kak Maura kece yang ngajarin aku menari balet dengan diiringi berbagai jenis musik. Pernah tuh, waktu itu Kak Maura kece memutar musik dangdut, eh Kak Maura kece jago banget main balet sambil goyang ngebor,” sahut Anya tiba-tiba.

Perkataan Anya membuat Davin dan Om Danang tertawa terbahak-bahak. Sedangkan aku dibuat malu oleh Anya.

“Lagipula, Ra...” sahut Davin, “Kita pake dua balerina kok, yaitu kamu dan adek Anya unyu.”

Aku yang mendengar nama Anya sebagai calon partner balerinaku, merasa sangat terkejut. Aku tidak menyangka ternyata Anya juga dinominasikan sebagai balerina pengisi acara pernikahan papanya.

“Oo... Anya jadi balerina juga?” tanyaku pada Anya.

Anya mengangguk dengan antusias.

“Berarti kita akan menari bersama dong?” tanyaku lagi.

“Bener banget Kak Maura kece,” seru Anya.

“Bagaimana? Kamu mau kan jadi partner balerinanya adek Anya unyu untuk mengisi acara pernikahan Papa saya?” tanya Davin padaku.

Tanpa berpikir panjang, aku pun menarik sebuah kesimpulan dengan sangat mantap. “Ya. Saya menerima tawaran Om Danang. Saya bersedia menjadi balerina bersama Anya pada pernikahannya Om Danang satu bulan lagi.”

Anya berteriak kegirangan. Davin dan Om Danang juga turut senang dengan pernyataanku untuk menerima tawarannya.

Bagi aku pribadi, hal ini adalah kesempatan langka. Aku memang bukan seorang balerina profesional yang seringkali mengikuti lomba dan memenangkannya. Namun aku tentu bisa membawakan tarian balerina dengan sangat baik karena aku tak ingin mengecewakan orang-orang yang memintaku dan datang secara khusus seperti ini. Ya, kapan lagi aku bisa menunjukkan talenta baletku di depan khalayak umum jika tidak mengambil kesempatan langka ini?

“Oh ya, kalau boleh tahu, nanti ada pengiring musiknya atau tidak?” tanyaku berusaha memastikan.

“Ada dong. Aku punya pianis hebat loh Kak Maura kece...” sahut Anya antusias.
***

Cinta itu sebuah perasaan yang tidak sempurna, cinta selalu ingin memiliki dan terikat jiwanya satu sama lain. Levelnya sedikit di bawah kasih.
- Esra Y Surbakti - 

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Posting Komentar untuk "Kesempatan Langka - Baleriano Chapter 10"