Baleriano Chapter 19: Maaf


Aku tersadar. Aku terbangun dari tidur panjangku. Aku menyadari sebuah hal yang mengingatkanku pada diriku.

Aku sadar, ternyata aku semakin jauh dari Tuhan.

Semenjak kebencian yang tiada habisnya, aku telah melupakan apa-apa yang ternyata bisa membuatku tenang. Namun apa daya amarah, emosi dan segala hal negatif lainnya selalu menyertaiku. Aku seperti tak mengenal yang lainnya. Aku hanya berteman emosi.

Dan sejak itu juga aku menutup diri dari ibadah. Mengingat Tuhan pun tidak pernah. Sungguh tertutup pintu hatiku. Aku tenggelam dalam emosi yang berlarut-larut tanpa pernah mengingat bahwa ada sang Kuasa yang selalu hadir di sisi.



Ampun... aku mohon ampun pada-Mu ya Tuhan... Maafkan aku atas segala alpaku selama ini. Ampuni aku karena aku telah melupakan-Mu ya Tuhan...

Aku menangis sesenggukan. Berusaha berdialog dengan-Nya.

Air mataku adalah bukti bahwa aku benar-benar mohon ampun kepada-Nya karena aku larut dalam tangisanku sehingga meninggalkan kewajibanku untuk selalu berdoa pada-Nya.

Mataku masih sembab.

Aku ingin hidup lagi.

Kali ini aku membuka mata lebar-lebar. Aku juga membuka pintu hatiku lebar-lebar. Aku ingin mengakhiri masa-masa kelam ini dan mengawali kehidupan baru yang tak jauh dari kehendak-Nya.

Aku ingin bangkit dari keterpurukanku. Aku tidak ingin masalah yang lalu terus menghantuiku dan membuatku semakin gila.

Aku ingin bangkit dari kegilaanku. Karena aku tidak ingin menjadi gila!

Aku berdiri dari tempat tidurku, mencoba mengawali diri untuk bangkit dari segala emosi negatif. Aku memandangi sejenak isi kamarku. Banyak barang yang pecah dan berantakan. Dan aku tidak percaya bahwa kamarku menjadi rusuh seperti ini.

Aku pun melangkah menuju kamar mandi. Aku ingin membasuh tubuh, menyiapkan diri untuk mengawali kehidupan baru dengan beribadah. Karena aku ingin dekat dengan Tuhan. Aku tak mau lagi jauh dari-Nya.
***

“Maura?” teriak Mama dan Kak Nara yang kaget melihatku telah berdiri di ruang keluarga.

Mama dan Kak Nara segera mendekatiku untuk memastikan agar tidak ada hal buruk yang terjadi padaku. Aku hanya tersenyum tipis melihat mimik muka mereka berdua.

“Ra, kamu kok...?” kalimat Kak Nara menggantung.

Mama dan Kak Nara terheran-heran melihatku.

Bagaimana tidak heran? Kini aku berdandan layaknya aku sehari-hari. Mengenakan rok lipit selutut serta kaos lengan panjang. Rambut pendekku telah kurapikan. Bauku juga harum.

Mama dan Kak Nara menitikkan air mata, kemudian mereka menghampiriku dan memelukku. Mereka terharu melihatku yang telah berubah total dari keadaan gilaku beberapa hari yang lalu.

Lalu aku menenangkan Mama dan Kak Nara yang masih memelukku. Dalam posisi berpelukan, aku menggiring Mama dan Kak Nara untuk duduk di sofa ruang keluarga.

Sambil melepaskan pelukan Mama dan Kak Nara, aku berucap, “Ma, Kak, aku mau cerita...”

Mama yang duduk di samping kananku dan Kak Nara yang duduk di samping kiriku sama-sama menyeka air mata mereka. Aku jadi terharu melihat perhatian mereka yang akhirnya pecah menjadi sebuah tangisan. Tapi, aku bertekad, dalam ceritaku kali ini aku tidak boleh menangis. Aku harus tegar.

“Saat itu...” aku memulai ceritaku. “Aku memang tidak menyadari bahwa aku telah jatuh hati pada seorang pria yang bernama... Davin Chris Setiabudi.” Akhirnya aku menyebut namanya untuk pertama kali sejak tragedi di taman beberapa hari lalu.

Mama membelai rambutku.

“Aku merasa ada yang berbeda darinya. Semula yang kuragukan, ternyata berwujud indah tak terduga. Ia yang mengubah segalanya menjadi istimewa. Hari-hari kita lalui bersama dengan canda tawa. Sampai akhirnya...”

Kak Nara menggenggam tangan kiriku.

“Aku mengetahui ternyata Davin adalah mantannya Kak Kara,” sambungku.

“Tapi, Ra...” protes Kak Nara. “Kara kan hanya mantan.”

“Tapi, Kak...! Ini beda. Jika mantan Davin adalah perempuan lain, aku tak peduli, Kak. Tapi ternyata Kak Kara adalah mantan pacar Davin,” jelasku yang tanpa sadar telah meninggikan volume suara untuk menyeimbangkan emosi.

“Hanya mantan, Ra... Mantan tidak akan kembali lagi...” kata Kak Nara dengan nada memelas.

“Masalahnya, Kak Kara pernah menghancurkan hidupku. Ia mengambil Elang dariku. Bermesra-mesraan ketika aku sedang kuliah di Jerman. Memang hanya 3 bulan mereka berselingkuh. Tapi waktu 3 bulan tidak cukup untuk mengobati rasa sakitku. Butuh waktu lama agar aku bisa sembuh, sampai akhirnya Davin datang untuk menyembuhkan lukaku.”

Tak terasa aku meneteskan air mata. Ternyata aku sudah mengingkari tekadku sendiri. Ya, apa mau dikata, aku tidak kuat menahan tangis bila berbicara tentang Davin.

“Aku tidak mau tersakiti lagi oleh Kak Kara, orang yang pernah menyinggahi hati 2 orang yang pernah kucintai,” lanjutku.

Mama mengusap-usap bahuku, mencoba meredakan emosiku.

“Aku memang telah mengikhlaskan Elang. Tapi, aku tidak rela jika Davin pernah menjalin cinta dengan Kara. Karena pasti Davin sama saja tingkahnya seperti Elang yang suka mengkhianati orang.” Air mata mengalir deras di pipiku.

Aku terdiam. Aku mulai mengatur nafasku yang sedari tadi berbicara sambil terengah-engah. Air mata seakan tak habis dari mataku, terus turun membasahi pipiku.

“Begini, Ra...” sambung Kak Nara. “Aku punya sedikit cerita mengenai Davin karena kami bersahabat ketika kuliah. Dulu, ketika Davin putus dari Kara, dia sempat bercerita padaku bahwa Davin hanyalah sebagai tempat pelarian Kara ketika Kara putus dari Elang. Davin pun berpacaran dengan Kara dan mencintai Kara sepenuh hati. Sampai pada akhirnya, Davin memergoki Kara yang sedang berduaan dengan Elang di sebuah kafe,” terang Kak Nara panjang lebar.

Aku masih menangis sesenggukan, tentu saja aku juga menyimak cerita Kak Nara.

Mama masih diam, sepertinya Mama tidak ingin ikut campur dalam urusan pribadi anak-anaknya. Mungkin, mendengar ceritanya saja sudah cukup bagi Mama, karena Mama yakin anak-anaknya pasti bisa mengatasi masalah mereka sendiri.

“Jadi, Ra... Davin tidak bersalah. Yang justru bersalah sejak awal adalah Elang dan Kara,” kata Kak Nara memberikan kesimpulan.

“Davin tidak bersalah, Kak?” tanyaku mencoba memastikan.

Kak Nara mengangguk mantap. “Malah dia yang sama denganmu. Sama-sama dikhianati.”

Aku tertegun.

Aku teringat tentang pertemuan terakhir di hari itu. Ketika aku membentak Davin.

Ternyata... Davin tidak bersalah. Dan kini aku yang salah, karena aku telah menuduh Davin memiliki perilaku yang sama dengan Elang hanya karena pernah menjadi mantannya Kak Kara.

Aku pusing dengan kisah cintaku. Sungguh rumit. Dan sialnya, aku sendiri yang membuatnya menjadi rumit.
***

Dengan cinta, hidup kita lebih indah dan bermakna meskipun cinta itu selalu berakhir menyakitkan. Kalo nggak cerai, putus, pisah, ya ditinggal mati.
- Ameiga Kautsarina -

0 Comments