Menjadi Milikmu - Baleriano Chapter 40

Konten [Tampil]
novel-baleriano

Acara pun dibuka dengan sambutan dari Radit sebagai pemilik restoran Ayam Romantis. Kemudian acara dilanjutkan dengan aksi pemotongan pita sebagai tanda bahwa restoran Ayam Romantis telah diresmikan. Para undangan yang datang bertepuk tangan.

“Dan acara selanjutnya adalah penampilan memukau dari seorang balerina. Mari kita sambut, inilah dia..Maurantia Nirwana...” kata MC  mempersilahkanku.

Aku pun naik ke atas panggung. Aku telah berdiri di sebuah panggung yang mengharuskanku menyajikan penampilan sempurna. Mataku menyisir para undangan. Ada yang kukenal dan ada yang tidak kukenal. Tiba-tiba mataku menangkap pada beberapa sosok orang yang seringkali muncul di televisi. Yaitu band Peppermint. Aku tidak menyangka bahwa band Peppermint hadir di peresmian restoran milik manajernya.

Aku pun bersiap dengan tarianku. Dan... Ya Tuhan! Aku lupa pianisnya!

Aku panik. Panik di panggung! Pianisnya nggak ada! Pianisnya belum datang! Bagaimana ini?! Apa jadinya seorang balerina tanpa musik?!

Aku kaget, tiba-tiba ada Davin yang menyolekku dari belakang. Membuatku semakin panik.

“Ngapain kamu disini?! Kamu jangan bikin aku semakin panik. Pergi sana!” bentakku sambil berbisik.

“Saya harus ada di panggung.”

“Buat apa? Sekarang kan giliranku menari balet...”

“Sekarang juga giliran saya bermain piano...” kata Davin tiba-tiba.

Aku tersentak kaget. Tak percaya dengan perkataan Davin.

Sial, aku dibohongi lagi.

Davin tersenyum. Senyum yang sangat puas karena berhasil mengerjai seseorang dan membuatnya panik di atas panggung.

Tanpa merasa bersalah, Davin pun duduk dan jari-jemarinya siap untuk memainkan nada-nada manis dari sentuhannya.

Davin tersenyum padaku. Senyumnya makin lebar. Membuatku menghela nafas panjang karena kepanikanku sesaat yang ternyata hanyalah rencana sukses Davin dan Radit. Mereka hebat sekali mengerjaiku...

Aku pun membalas senyum Davin.

Ayo kita mulai, gumamku.

Nada-nada indah keluar dari tuts-tuts piano yang dimainkan oleh Davin. Aku menari dengan indah. Aku merasa telah menjadi balerina profesional yang lengkap dengan gelungan rambutku. Aku menari meliuk-liukkan badan sesuai irama. Aku menari dengan mengombinasikan berbagai macam gerakan balet.

Aku menari dengan indah. Davin juga bermain dengan indah.

“Dengar laraku...”

Itu suara Davin. Aku melirik Davin sekilas. Sebuah mikrofon ada di dekatnya. Davin bernyanyi.

“Suara hati ini memanggil namamu... karena separuh aku... dirimu..”

Entahlah lagu apa yang ia nyanyikan. Yang jelas, aku tidak menyangka ternyata suara Davin seenak ini.

“Dengar laraku... suara hati ini memanggil namamu... karena separuh aku... dirimu...”

Davin menyanyikan lagu yang hanya berisi beberapa kalimat yang tak kuduga secara berulang-ulang. Suara Davin yang khas mampu mengiringi tarian baletku. Dan baru kali ini aku menari dengan iringan vokal.

Sentuhan terakhir dari jari-jemari Davin mengakhiri penampilan kami.

Davin tersenyum padaku.

Sempurna. Adalah kesan kami mengenai penampilan seorang balerina dengan pianisnya yang sungguh mengesankan bagi kami berdua sebagai subjeknya.

Davin menghampiriku yang berada di tengah panggung untuk bersama-sama menyampaikan salam hormat pada tamu undangan. Herannya, Davin turut serta membawa mikrofon.

Kami pun memberikan salam hormat pada para tamu undangan. Sambutan tepuk tangan terdengar sangat meriah. Banyak yang memberikan standing applause pada kami. Kami tersenyum puas dengan penampilan kami berdua.

“Ra, jangan cabut dulu. Saya mau ngomong di atas panggung. Kamu temani saya sebentar ya,” kata Davin sambil berbisik.

Mau tak mau aku mengiyainya karena Davin menggenggam erat tanganku.

Tiba-tiba Davin berlutut di hadapanku sambil memandangku dengan penuh harap. Tapi bagiku pandangannya adalah belas kasihan. Karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan tingkah Davin yang berlutut seperti ini.

Davin masih menggenggam tanganku.

“Wahai Putri Maurantia Nirwana yang cantik jelita..” kata Davin yang menyebut namaku.

Aku kaget bukan kepalang. Untuk apa namaku disebut? Di depan banyak orang pula! Di atas panggung pula! Aduh, rasa maluku tidak tertahankan.

“Bersediakah kamu menjadi istri saya untuk menemani saya sehidup semati? Bersediakah kamu menjadi partner kerja saya dalam membina rumah tangga yang harmonis? Bersediakah kamu menjadi sahabat saya dalam suka maupun duka? Bersediakah kamu menjadi ibu dari anak-anak saya kelak? Dan bersediakah kamu menjadi kekasih saya untuk menyatukan separuh hati saya yang ada padamu?”

Aku tertegun. Tak percaya dengan ini semua. Bola mataku berkaca-kaca. Tanpa terasa aku meneteskan air mata.

Dengan mantap dan tanpa berpikir panjang, aku menjawab, “Ya. Saya bersedia menjadi istri, partner, sahabat, ibu dan kekasihmu, wahai Pangeran hati.. Davin Chris Setiabudi...”



TAMAT


21:20
Lumajang, 31 Desember 2012

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Related Posts

Posting Komentar