Pengalaman Buruk Body Shaming

Konten [Tampil]

Manusia dilahirkan dengan berbagai bentuk tubuh yang berbeda. Kurus, gemuk, tinggi, pendek, kulit putih, kuning langsat, sawo matang, kulit hitam, rambut lurus, keriting, bergelombang, panjang pendek, warna mata hitam, coklat, dan lainnya. 

Kita semua adalah unik, memiliki ciri khas sehingga orang dapat saling membedakan satu sama lain. Bagi yang kembar, pasti dari kalian punya ciri khas masing-masing, bukan?

pengalama-buruk-body-shaming


Seharusnya Nggak Ada Body Shaming

Tak ada manusia yang sempurna. Namun, sampai detik ini masih ada orang yang "menuntut" kesempurnaan dari berbagai aspek. Salah satu yang paling banyak dibahas adalah mengenai fisik. 

Pada umumnya, definisi "manusia sempurna" yang sering dibicarakan adalah kulit putih, mulus tanpa noda, bertubuh langsing atau atletis badan kekar kalau cowok, rambut panjang tergerai indah, dan lainnya. 

Oleh karena itu, kalau ada orang yang 'tidak memenuhi' kriteria manusia yang sempurna secara fisik, tak jarang mengalami bully-an mengenai keadaan fisik yang tak sempurna atau istilahnya Body Shaming.

Body Shaming Itu Apa?

Body Shaming adalah perilaku mengomentari bentuk fisik diri sendiri atau orang lain tapi dengan cara yang negatif. Kasus ini memang sedang marak di jagat dunia maya. 

Tak hanya orang biasa kayak kita-kita begini yang bisa mengalaminya, bahkan beberapa artis pun mengalami body shaming oleh mulut dan jari-jari pedas netizen. 

Dampak Body Shaming

Dampak dari body shaming (atau kasus perundungan yang lain) sangat membahayakan jiwa seperti rasa tidak percaya diri, depresi, bahkan menutup diri dari lingkungan. Yang paling parah adalah bunuh diri.

Menjadi korban body shaming sungguh tidak enak

Pengalaman Buruk Body Shaming

 Okay, saya (DG) akui saya bukanlah manusia sempurna apalagi dengan bentuk fisik yang sempurna. 

Saya (DG) GEMUK dengan tinggi badan 167 cm dan berat badan 76 kg. Ya, saya segemuk itu kalau dari segi kesehatan. Dari kecil saya sudah gemuk banget karena doyan makan. 

Tak heran bila saya selalu menjadi bahan olokan dari teman-teman saya, apalagi kepribadian saya yang... "gitu" lah ya, melengkapi bahan olokan yang makin menjadi-jadi. 

Saat SMP, bullying maupun body shaming semakin parah saya terima, terutama saat kelas 7 SMP, mungkin juga karena saya "berbeda" dibandingkan cowok kebanyakan. 

Namun, lama-kelamaan bullying yang saya alami berkurang karena (Alhamdulillah) saya adalah murid yang tergolong pintar (boleh lah yaa sombong dikiit).

Namun, dampak dari segala perundungan dan body shaming benar-benar saya rasakan hingga sekarang. Mungkin bagi semua yang sering lihat-lihat blog saya sudah tahu kalau saya mengalami DEPRESI (bukan bipolar disorder sih, hehe) hingga sempat berobat ke psikiatri. 

Awalnya, selama itu saya hanya memendam perasaan kesal dan sedih ketika mendapat bullying dan body shaming dalam hati saja, tapi saat SMA tiba-tiba karena suatu yang menyakitkan hati, inilah awal mula depresi yang saya rasakan, seolah-olah semua rasa kesal yang saya pendam semua karena berbagai perundungan yang saya terima jadi "tumpah" dan terlampiaskan. 

Tak heran kalau saya selalu melampiaskan emosi dan curhat di media sosial (kadang-kadang sampai sekarang sih)

Body Shaming Sekarang Ini

Sampai sekarang, saya masih mendapat body shaming dari orang lain, bahkan dari orang di dunia maya yang bahkan saya tak kenal. Berbagai komentar pedas mengenai tubuh, saya alami bermacam-macam, yang paling saya ingat adalah dari tetangga-tetangga saya. 

Saat saya sedang agak kurus karena program penurunan berat badan, banyak banget tetangga saya yang bilang "Mas Damar lagi SAKIT ya? Kok kurusan?" 

Tapi emang kalau diperhatikan lagi, dulu saat sedang kurusan memang terlihat "sakit" sih karena jauh lebih pucat daripada kalau saya gendutan seperti biasanya (mungkin karena saya terkenal sebagai cowok gendut). 

Namun, kalau udah gendutan kayak sekarang gini, mereka bilangnya "tambah gemuk sekarang!" sambil memegang bagian bahu saya seperti saya itu "lucu dan menggemaskan" kalau gendut. 

Rasanya kayak serba salah gitu. Kurus, kayak orang sakit. Gendut, malah lucu dan menggemaskan. 

Ditambah lagi kulit saya yang mudah berjerawat, setiap muncul satu jerawat, pasti banyak yang bilang "sudah punya pacar ya?" dan menurutku itu paling menjengkelkan karena penyebab jerawat bukanlah itu!!! 

Atau "kok jerawatan?" yang juga sering saya terima dari keluarga besar atau tetangga bahkan!

Kalau berbicara body shaming jaman sekarang, selain dilakukan oleh netizen bermulut dan berjari pedas nan maha benar segalanya, tapi tahu nggak siapa pelaku body shaming paling parah yang kamu alami? 

Siapa Pelaku Body Shaming?

Kalau saya pribadi, pelaku body shaming terparah adalah (maaf banget yaaa saya harus sebutkan ini) adalah KEDUA ORANG TUA SAYA dan DIRI SENDIRI.

Kenapa DIRI SENDIRI? Tanpa sadar kita memiliki "critical inner voice" yang (kadang-kadang) mengomentari tentang tubuh kita yang membuat kita merasa insecure dengan keadaan diri kita sendiri. 

Pas kita lihat di cermin, kadang-kadang kita berpikir seperti "aku kok gendutan ya?", "kok aku iteman ya?", dan lain sebagainya. 

Saya pun juga merasakan seperti itu. Jujur aja, sekarang saya insecure dengan warna kulit saya karena warna kulit saya sekarang cenderung sawo matang padahal dulu waktu kecil saya bisa dibilang putih banget kayak orang chinese gituu, beneran! 

Sampai sekarang saya menggunakan skincare dengan embel-embel whitening, lightening, menghilangkan noda dan bekas jerawat, dan sebagainya. 

Saya nggak ingin hasil mencerahkan wajah yang instan, yang penting kulit cerah dan sehat, gitu aja udah cukup sih.

Nah, kalau ORANG TUA SAYA SENDIRI. Mohon maaf aja nih, kalau boleh curhat di sini. Saya DIMARAHI HABIS-HABISAN oleh Bapak dan Ibu saya karena memiliki badan yang sangat gendut. 

Alasannya sih karena kesehatan. Beberapa anggota keluarga saya sering sakit bahkan ada yang meninggal mendadak karena dampak dari obesitas. Itulah yang tak diinginkan orang tua saya. 

Bahkan beliau mengancam kalau saya tidak segera kurus, uang saku saya akan dipotong dan tidak boleh pulang kampung sampai sukses menurunkan berat badan. Setiap kali saya makan terlalu banyak, Bapak Ibu saya pasti marah besar, ngemil yang tidak sehat sedikiit aja marah-marah deh.

Jujur hal ini membuat saya jengkel setengah mati, dan tentu saja DEPRESI BERAT. Sampai saat ini saya masih berpikiran untuk mencari cara untuk diet secara instan karena (terkadang) orang tua saya menuntut perubahan signifikan untuk menurunkan berat badan yang sesegera dan secepat mungkin. (Jujur juga, saya nangis saat menulis ini).

Sisi Baik Body Shaming

Sejenak merenung tentang amarah dari Bapak dan Ibu mengenai body shaming beliau pada saya. Lama-kelamaan, saya menyadari ada "sisi baik" di balik body shaming yang saya alami saat ini. 

Obesitas yang saya alami saat ini memang berdampak buruk bagi kesehatan saya. Saya jadi gampang capek dan kadang-kadang dada terasa sesak serta napas pendek. 

Jadi, perlahan saya mulai mengurangi porsi makan terutama sumber karbohidrat, protein, dan lemak, serta menambah porsi sayuran dan buah-buahan. Serta emang mulai rajin olahraga sih walaupun cuma bersepeda dan mengikuti tutorial senam atau yoga lewat youtube channel  SKWAD FITNESS.

Pelajaran dari Body Shaming

Jadi, pelajaran dari body shaming adalah  suatu kritik supaya kita jadi lebih baik lagi. Asalkan, kritik itu disampaikan dengan cara yang baik, sopan, dan polite sehingga orang lain bisa menerima masukan kita dengan baik. 

Lebih bagus lagi kalau misalnya nih, kamu mengajak dan menyemangati teman kamu yang gendut contohnya untuk olahraga bareng, atau kalau temanmu punya kulit yang berjerawat (by the way, berjerawat itu termasuk 'penyakit' yang nggak sehat bagi kulit lho!) mungkin bisa memberi masukan produk skincare  atau diet sehat gituu asalkan tetap SOPAN.

Kita sebagai manusia yang memiliki ciri khas dan berbeda dibandingkan manusia yang lain pastilah tidak sempurna. Maka dari itu, pesan dariku yang sudah lelah dengan body shaming (because I feel you, it's so heart broken), "JUST BE TRUE YOU!". 

Jadi dirimu sendiri saja, abaikan segala kritikan pedas yang tak enak untuk didengar dan dimasukkan hati. Kadang-kadang, kita perlu bersikap bodoh amat kok!

Sebelum mengakhiri postingan kali ini. Saya ingin merekomendasikan kalian untuk membaca buku karangan kak Ucita Pohan yang berjudul "BICARA TUBUH" yang berisi puisi-puisi mengenai tubuh kita sendiri agar kita lebih mensyukuri tubuh kita dan mau "mendengarkan" tentang tubuh kita sehingga jadi lebih sayang tubuh kita dan tentu saja diri sendiri. 

Tenang, ini bukan promosi atau apapun, tapi nih buku SEBAGUS ITU untuk kita baca dan maknai pesan buku itu. Setahu saya buku itu ada di Gramedia, bahkan udah ada di Play Store Google loh!

Oh ya, saya juga ingin berbagi tentang video youtube yang membahas tentang insecurities yang dialami oleh beberapa blogger dan influencer kayak Kak Andra Alodita atau Kak Lizzie Parra

Semoga postingan ini bisa jadi "pembuka" mata hati kita tentang body shaming dan penyemangat juga bagi yang mengalami perundungan. 


-Guest Post by DG-

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Related Posts

Posting Komentar