Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Merayakan Kemerdekaan dengan Bocil-Bocil

Assalamualaikum wr wb

Hari ini hari kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bendera ramai berkibar di mana-mana. Hari ini saya dan Ibu melakukan perjalanan ke Tempeh. Mau ngobrol-ngobrol sama Bude Kis sekaligus ngajak main bocil-bocil.

Bocah-Bocah Main Gelembung

Jadilah si Fatim ngecepres melulu di tengah jalan, hingga rumah Bude. Kata-kata khasnya Fatim adalah "soalannya" dan "terus". Dengan 2 kata sambung itu, dia nggak akan berhenti ngomong. Jadinya ya lucu-lucu nyebelin lah. Hahaha.

Sampai rumah Bude, ternyata Bude Kis masih upacara di kantor. Pulang-pulang bawa makanan segrambeng. Sementara, Mbak Angel upacara online di Youtube, tapi sinyal nyut-nyutan. Ada Pakde Joko, tapi beliau kabur saat dihampiri bocil-bocil. Hahaha.

Para bocil-bocil ini heboh riang gembira mainan tembak gelembung. Fatim yang nembak gelembung. Shanum yang menikmati gelembungnya. Momen tersebut saya rekam supaya jadi kenangan manis, hahaha.


Fatim nih makin lama makin nakal ya. Bukan nakal yang brengsek gitu. Mungkin cari perhatian ya, atau iri sama adiknya. Adiknya tuh sering didorong, dipukul, dll. Ya kasihan adiknya.

Sempet nih, saat si Fatim main tembak gelembung, si Shanum pengen pinjam. Pengen nyobain. Nggak dikasih-kasih sama si Fatim. Saya meredakan tangisan Shanum, nggak bisa. Jadilah saya ancam dengan tenang sambil ngomong gini... "iyaa.... terusin aja... nggak papa... Ini direkam Te Ocha kok, biar jadi laporan ke Ayah Dian".

Jadilah si Fatim pura-pura baik. Ngajari cara mainnya ke adiknya 😂😂

Menentukan Tanggal Nikah

Pagi tadi, Ibu minta antar ke rumah mamanya Mbak Rere. Kebetulan dulu Mbak Rere resepsinya di Narawita. Jadi tanya-tanyalah. Yang pengen saya pastikan tuh tentang 250 pax makanan ini apakah untuk 250 orang, 250 undangan, atau 250 sarimbit? Bingung banget di bagian situ.

Hingga akhirnya kami menyimpulkan bahwa 250 pax itu sama dengan 250 sarimbit atau 250 pasang. Per pax harganya 60ribu. Jadi ya orang-orang makannya sekitar 30ribu/orang.

Berlanjutlah kami ke rumah Bude Kis. Ibu tuh mau ngobrol sama Bude. Pengen konsultasi, sama pengen ngomong. Kalau misalkan uang kami belum mencapai target, Ibu harap Bude bisa mengatasinya terlebih dahulu. Kalau nanti ada uang balen (atau uang amplop nikahan), barulah itu yang dikembalikan buat bayar hutang Bude.

Ya tapi saya pribadi berharap, semoga kami bisa memenuhi target uang tersebut dengan jerih payah kami sendiri tanpa hutang. Semoga bisa yaa... Yok, masih ada waktu sekitar 2 bulan lagi.

Ibu juga konsultasi tanggal nikah ke Bude. Cerita-cerita tentang bagaimana fasilitas yang diberikan oleh Narawita, dll. Yaa, semoga acara pernikahan ini lancar. Aamiin.

Kemarin tuh saya sempat debat sama Ibu soal tanggal nikah. Ibu rewel banget. Tumben-tumben dah. Sungguh. Dikasih A minta B, dikasih B minta C, dikasih C minta A, dll. Kayak nggak ada yang cocok. Mental semuanya. 

Ibu tuh kayak anak remaja. Sensitif. Mood swing. Galau berat. Hadeeeh...

Sampai akhirnya, Ibu malamnya minta telpon Mas Angga. Ya mungkin pengen ngobrol. Mungkin juga pengen ngasih wejangan. Ya pengen saling tukar terima pendapat saja.

Lumayan. Telponannya 20 menit. Sambil jelasin kenapa lokasinya di gedung Narawita. Kenapa budgetnya sekian. Bagaimana resepsinya bila PPKM masih terus berlanjut hingga Oktober, dll.

Ya.. minimal.. dengan telepon itu bisa melegakan. 

Saya baru sadar, kalau ternyata... Mas Angga itu tipe orang yang guyonan, sedangkan saya tipe orang yang serius. Panjang lah ceritanya. Bikin salah paham terus, hahaha.

Wassalamualaikum wr wb

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Posting Komentar untuk "Merayakan Kemerdekaan dengan Bocil-Bocil"