Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebuah Cerita Saat Menyebar Undangan Nikah

 Assalamualaikum wr wb

Hari pernikahan kurang beberapa hari lagi. Hmm kurang 4 hari lagi. Namun baru tadi saya selesai menyebar undangan. Ya memang sih, kami agak mepet menyiapkan undangan.

Orang-orang yang diundang adalah guru-guru MAN Lumajang, MTsN 1 Lumajang, MTsN 3 Lumajang, MIN 2 Lempeni, sebagian MA Putri, sebagian Pengawas, sebagian DEPAG, orang-orang AMC, keluarga Ayah, keluarga Ibu, teman-teman S2, tetangga lama, dan lainnya acak.

Paling banyak ya memang dari Ayah. Saya dan Ibu rela undangan sedikit padahal yang bondo ya cuma kami berdua saja. Ya sudah, bismillah saja. Inshaa Allah diberi kelancaran rezeki. Niat baik Inshaa Allah dimudahkan.

Menyebar Undangan ke Tetangga Lama

Penyebaran undangan yang paling menarik buat saya adalah ketika menyebar undangan ke tetangga-tetangga di rumah lama, yaitu di rumah Arjuna. Suasananya masih sama, tapi mungkin rasanya lebih sepi. Saya jadi rindu masa-masa tinggal di rumah lama.

Alhamdulillah, ketika saya ke sana, mereka masih inget sama saya. Gimana nggak inget, lahwong tiap pagi berangkat sekolah saya selalu nyapa mereka satu persatu. 

Kehidupan tetangga di rumah lama terbilang rukun. Sering mengadakan kegiatan, jadi lebih guyup. Antar tetangga bisa saling kenal. Makanya saya juga akrab dengan mereka. 

Yang berbeda saat ini adalah usia. Dulu mereka masih muda segar-segar gitu, sekarang udah pada agak kurusan dan wajahnya banyak keriput. Sedih ya, waktu cepat berlalu. Tapi mereka masih menyapa saya dengan ramah. Pengen saya peluk satu persatu, untuk menyatakan bahwa saya rindu dengan masa itu. Rindu dengan wajah-wajah tetangga yang masih segar-segar.

Ternyata seiring berjalannya waktu, kita semua menua. Yang dulu masih SD-SMP, sekarang udah kuliah dan hendak nikah. Yang dulu masih seger-segernya punya anak sekolah, sekarang sudah menjelang sepuh. 

Sedih sih, tapi ya gimana. Waktu cepat berlalu dan kita tak mampu menghambatnya.



Tiba-Tiba ke Selandia Baru

Ada yang menarik nih dari penyebaran undangan ke tetangga. Kami mampir ke rumahnya Bu Sulkan, kebetulan tetangga lain pada kosongan rumahnya. Kemudian kami numpang duduk sambil ngobrol-ngobrol.

Lalu Bu Sulkan cerita bahwa beliau habis dari Selandia Baru. Ada setahun lalu. Nemenin putri sulungnya yang sedang beasiswa. Putrinya butuh orang buat mengurus bayinya. Jadinya Ibunya dibawa ke Selandia Baru sambil njaga bayi dan nemenin putrinya itu.

Menurut saya ini kisah yang menarik sih. Bayangin, seorang Ibu yang nggak tahu apa-apa, yang biasa aja, yang mungkin nggak pernah punya pikiran ke luar negeri, eh tiba-tiba berada di Selandia Baru yang indah banget. Nyangka nggak, sih? 

Keren banget menurut saya. Skenario Allah seindah itu.

Semoga saya juga bisa ngajakin Ibu, Ayah, Bapak, dan adik-adik untuk liburan ke luar negeri. Aamiin...

Curhatan dari Mamanya Mbak Rere

Sudah saya duga bahwa saya akan lama di rumahnya Mbak Rere. Mbak Rere sih di Cirebon, tapi di rumah ada mamanya. Saya ngundang Mbak Rere, tapi ya mungkin yang datang mamanya dan si Oca.

Lalu saya mampir ke rumahnya sebentar, rencananya buat ngobrol-ngobrol. Eh bener dong, baru 3 kalimat cerita, si mamanya Mbak Rere nangis-nangis. Cerita sambil mbrebes mili.

Ya cerita tentang struggle di keluarga itu. Tentang perjuangan mamanya bangun kos-kosan untuk menghidupi bulanannya, tentang suami baru yang ternyata cuma mengincar harta saja, juga tentang Mbak Rere yang harus tegar dan menyanggupi untuk membayar segala kebutuhan Mama dan adiknya.

Dulu saya sudah tahu ceritanya, tapi dari sudut pandang Mbak Rere sendiri. Dulu tuh saya kaget: ternyata selama ini dia harus menahan luka dan menanggung beban sebesar ini. Anak sekecil ini tapi tanggungannya gede.

Lalu dengerin kisah yang sama namun dari sudut pandang berbeda, ya saya cuma bisa ngelus dada. Hampir mbrebes mili. Saya nggak tahu akan gimana kalau ada di posisi Mbak Rere. Dia emang kuat banget.

Tiap orang memang punya ujiannya masing-masing, dan Allah akan ngasih jawaban. Tiap orang punya masalah masing-masing, namun Allah juga telah menyiapkan obatnya. Kita hanya perlu bersabar dan harus tetap sholat.

Yaa cukup seru memang, bila bertemu orang banyak. Apalagi pandemi 1,5 tahun membuat kita anti sosial dan jarang tahu kabar terbaru dari kerabat.

Wassalamualaikum wr wb

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Posting Komentar untuk "Sebuah Cerita Saat Menyebar Undangan Nikah"