Sinopsis Film Sang Kiai, Menceritakan Tentang Apa?

Konten [Tampil]

Assalamualaikum wr wb

Kali ini Kak Ros akan sharing tentang sinopsis film Sang Kiai. Film ini sudah menarik perhatian saya sejak saya tahu bahwa ada 2 film selalu disandingkan, yakni antara Sang Kiai dan Sang Pencerah. 

Awalnya saya nggak tahu, Sang Kiai ini siapa. Ya maklum, saya tidak terlalu berpihak pada NU atau Muhammadiyah. Saat ini saya tipe umat islam yang patuh dengan MUI dan Kementerian Agama, wkwk.

Film Sang Kiai Menceritakan Tentang Apa?

Lalu, film Sang Kiai menceritakan tentang apa? Tentu saja, menceritakan sosok K.H. Hasyim Asy’ari. Saya tahu bahwa beliau adalah salah satu pahlawan nasional. Namanya sering dijadikan nama jalan. Tapi saya nggak tahu kalau beliau adalah pendiri NU dan pondok pesantren Tebu Ireng di Jombang. Maaf, wawasan saya soal hal tersebut sangat cetek.

Jadi, film Sang Kiai menceritakan tentang perjalanan K.H. Hasyim Asy’ari yang memimpin santri-santrinya untuk melawan penjajah. Mulai dari penjajahan zaman Belanda, Jepang, hingga Agresi Militer Belanda.

Di sini, dikisahkan bagaimana K.H. Hasyim Asy’ari bertindak, menolak Seikerei (penghormatan kepada Dewa Matahari-nya Jepang), ditawan dan disiksa Belanda, pura-pura bekerjasama dengan Jepang, hingga dirinya yang menjadi jujukan para pejuang tanah air.

Tak hanya itu, film ini juga menceritakan kehidupan para santri pejuang kala itu. Kehidupan si santri diwakili oleh Harun. Mulai dari kebiasaan santri yang selalu tunduk dan ngikuti Pak Kiai ke mana pun pergi, yang selalu bertanya kepada Pak Kiai, yang naksir perempuan lalu dilamarkan oleh Pak Kiai, dan rasa baktinya terhadap Pak Kiai.

Jadi, intinya, film Sang Kiai ini menceritakan tentang perjuangan K.H. Hasyim Asy’ari dalam melawan penjajah, sekaligus menggerakkan santri-santrinya untuk berjuang membela Tanah Air. Sebab, membela tanah air adalah bagian dari membela dan menegakkan Agama Islam.

Siapa Tokoh Perjuangan yang ada di Film Sang Kiai?

Ada sejumlah tokoh zaman perjuangan yang perannya cukup penting kala itu lalu digambarkan keberadaannya dengan sedikit cuplikan. Beberapa di antaranya.

1. K. H. Wahid Hasyim

Beliau adalah anak kandung dari K.H. Hasyim Asy’ari. Beliau juga seorang pahlawan nasional yang namanya juga terpampang di jalan-jalan. Ciri-ciri beliau khas dan kentara sekali. 

Berbeda dengan bapaknya yang mengenakan setelan baju putih-putih ala ulama, lain halnya dengan si anak yang justru mengenakan setelan jas rapi. Rupanya Wahid Hasyim dirancang untuk mewakili K.H. Hasyim Asy’ari kala ada diplomasi di Jakarta atau agenda kenegaraan. Lalu biarkan Sang Kiai tetap berada di Tebu Ireng.

Peran K.H. Wahid Hasyim ini cukup banyak. Bahkan, boleh dibilang di sini ia selalu berperan dan mendampingi bapaknya. Keren ya.

2. Abdurrahman Wahid

Iya, Abdurrahman yang dimaksud adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ternyata beliau adalah cucu dari K.H. Hasyim Asy’ari dan anak kandung dari K.H. Wahid Hasyim. 

Sebenarnya saya tuh, nggak paham bagaimana silsilah keluarga Gus Dur. Namun di film itu, si sutradara sengaja mengambil shoot berupa anak kecil yang masih balita dan sedang lari-larian. Lalu Pak Kiai, dengan jelas memanggil “Abdurrahman”.

Loh, saya langsung notice dong! Ini Abdurrahman siapa yang dimaksud? Hingga saat ini, tokoh besar yang saya tahu bernama Abdurrahman hanyalah Gus Dur. Lalu saya ingat-ingat bahwa Gus Dur memiliki nama belakang Wahid, yang ternyata anak kandungnya Wahid Hasyim. Wuah, saya serasa menyusun puzzle ilmu.

3. Kiai Wahab

Ada salah seorang ulama yang selalu hadir di setiap rapat atau agenda yang diadakan oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Namanya adalah Kiai Wahab. Nama ini bolak-balik disebut. Hingga saya notice bahwa beliau adalah salah satu orang penting di negeri ini.

Ternyata benar. Kiai Wahab atau Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern. Dakwahnya dimulai dengan mendirikan surat kabar harian bernama Soeara Nahdlatul Oelama.

Beliau di film ini tidak berperan banyak. Hanya sebagai pemikir karena sering terlibat dalam rapat penting. Kalau untuk aksi perang melawan penjajah, beliau tidak dihadirkan (sejauh yang saya ingat).

4. Zaenal Mustofa

Ini adalah salah satu sosok yang menarik. Yang saya ingat, beliau tidak dihadirkan di awal cerita sebagai tim-nya Pak Kiai. Justru beliau hadir di tengah-tengah film namun digambarkan cukup tragis.

Beliau diceritakan dan digambarkan bahwa beliau akan dipenggal oleh tentang Jepang karena selalu melawan Jepang. Iya, hanya itu saja perannya.

Saya hafalkan namanya, untuk kemudian cari di Google. Ternyata, beliau tidak benar-benar dipenggal seperti di film, melainkan ditembak mati. Namun benar, bahwa beliau dibunuh karena melawan penjajah dengan sangat keras.

5. Nyai Nafiqoh

Nama ini disebut dengan jelas di film ini. Ya sepertinya hanya sekali, tapi sepenggal cerita dibawakan cukup fokus sehingga saya notice bahwa beliau berperan penting di sini. Saya lupa, apa persisnya kalimat Mutiara yang disampaikan oleh Nyai Nafiqoh. Namun yang saya tahu, bahwa beliau pasti istrinya K.H. Hasyim Asy’ari yang sudah meninggal sebelumnya.

Saya baru tahu bahwa Nyai Nafiqoh adalah salah satu putri Kiai Ilyas, pendiri pesantren pertama di bumi Majapahit. Jadi, ternyata orang-orang hebat seperti kiai-kiai ini menikah dengan orang-orang terpandang, yang masih ada hubungan kekerabatan dekat dengan kiai.

6. Nyai Masruroh

Beliau memiliki peran yang banyak di film ini. Hal ini wajar, lantaran Nyai Masruroh adalah istri dari K.H. Hasyim Asy’ari. Beliau adalah istri yang menemani K.H. Hasyim Asy’ari melawan penjajah mulai dari penjajahan zaman Belanda, Jepang, hingga pasca kemerdekaan.

Kata-kata mutiara khas dari beliau adalah “Ingat ya nak, perempuan itu ibarat pakaian bagi laki-laki, menghangatkan di musim hujan dan meneduhkan di saat kemarau”. Beliau memiliki sebutan panggilan Nyai Kapu.

7. Bung Tomo

Ada Bung Tomo juga loh di sini! Uwaaah, saya nggak nyangka. Ya cuma heran waktu itu. Ini tokoh siapa ya, kok menghadap Sang Kiai dan pakaiannya khas banget.

Lalu jawaban dari Pak Kiai, rupanya menjadi petunjuk saya untuk notice bahwa orang ini adalah Bung Tomo. Rupanya beliau sedang sowan sekaligus meminta nasehat kepada Pak Kiai karena hendak melawan penjajah saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Pak Kiai memberikan saran bahwa sebelum pidato maupun sesudah pidato, hendaknya diiringi dengan kalimat takbir. Maka, di awal pidato Bung Tomo, ia mengucap takbir, lalu di akhir pidato, beliau mengucap takbir juga.

Siapa Harun di Film Sang Kiai?

Salah satu sosok yang menarik di film Sang Kiai ini adalah keberadaan Harun. Harun yang diperankan oleh Adipati Dolken, merupakan seorang santri Tebu Ireng. Belajar di Pondok Pesantren Tebu Ireng mulai dari kecil hingga dewasa. Menikah pun dilamarkan oleh Pak Kiai.

Namun saya sadar bahwa tokoh Harun di sini adalah fiktif. Selain sebagai pemanis kala dipandang di layar (karena tokohnya kan tua-tua atau bapak-bapak ya), justru menurut saya: tokoh Harun memiliki peran penting di sini.

Bagi saya, keberadaan Harun mewakili logika saya. Ya memang, beliau menggambarkan seorang santri dengan sifat-sifat bakti dan tunduknya.

Namun di lain sisi, Harun juga memberontak. Hal ini tentu tidak mencerminkan santri, melainkan mewakili logika berpikir kita. Jadi, posisi Harun di sini mewakili akal logika kita atau masyarakat yang awam mengenai pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari.

Pesan Moral dan Amanat dari Film Sang Kiai

Oke, selanjutnya saya mencoba memikirkan tentang pesan moral apa yang disampaikan dalam film Sang Kiai. Berikut ini akan saya jawab 10 amanat dari film Sang Kiai. Simak baik-baik ya!

  1. Selalu berhusnuzon atau berprasangka baik.
  2. Tidak perlu takut kehabisan makanan karena selalu ada Allah yang mencukupkan rezeki kita.
  3. Kerja kerasa harus terus dilakukan, apapun jabatanmu.
  4. Mengutamakan adab kepada guru, sekaligus menghormati dan memuliakannya.
  5. Tidak boleh menguping atau mencuri dengar pembicaraan orang lain
  6. Disiplin itu perlu, salah satunya adalah sholat lima waktu. Alangkah lebih baik bila sholat lima waktu berjamaah.
  7. Semangat membela tanah air ditumbuhkan di dalam diri karena nasionalisme adalah bagian dari agama Islam.
  8. Tetap mendukung dan menerima kembali sahabat/kawan yang telah bertaubat dari kesalahannya.
  9. Seorang istri harus taat kepada suami karena istri ibarat pakaian bagi suami. Begitu pula sebaiknya, suami harus dengan sebaik-baiknya melindungi istri.
  10. Melawan segala bentuk kemungkaran 

Kritikan Terhadap Film Sang Kiai

Hmm, sepertinya saya merasa nggak akan terlalu banyak mengkritik terhadap film Sang Kiai. Saya mengapresiasi dengan sangat baik karena telah memberi saya ilmu dan pelajaran. Namun, boleh deh saya mencoba jeli sedikit.

  1. Ngomong bahasa jawanya kurang banyak rek, wkwk. Tapi logatnya Adipati atau pemeran Harun, dan kawan-kawan santri lainnya udah masuk logat Jawa Timuran kok!
  2. Sepertinya tidak perlu banyak adegan Sari sepedaan mengejar Harun yang hendak berangkat ke medan perang. Terlalu lama itu scene-nya. Namun, shoot Harun yang hormat itu membuat saya merinding parah. Membuat saya ingat bahwa pahlawan tanpa nama itu sebegitu hebatnya hzati mereka untuk rela meninggalkan keluarga demi membela tanah air.
  3. Adegan Harun menembak Jenderal AWS Mallaby. Sepertinya, nggak ada yang tahu deh siapa yang menembak Mallaby (karena di buku sejarah saat sekolah, nggak dijelaskan). Jadi ya, saya paham banget bahwa si Harun ini fiktif banget dan memang film ini juga didramatisasi untuk memberi kesan menarik.

Kesimpulan

Wuaaaah, saya suka sekali dengan film Sang Kiai. Saya nggak menyesal telah menonton film ini. Seharusnya, film ini diputar di televisi setiap Ramadan ya.

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Related Posts

Posting Komentar