Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sinopsis Film Sultan Agung, Tahta Perjuangan dan Cinta

Assalamualaikum wr wb

Kali ini Kak Ros akan review film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta. Oh tentu saja akan Kak Ros awali dengan sinopsis film Sultan Agung yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Mari kita cari tahu sinopsisnya terlebih dahulu, lalu memaparkan review dari kaca mata saya. Yuk, simak baik-baik.

Btw, kisah di Film Sultan Agung ini agak berbeda dengan cerita aslinya ya. Hal ini wajar lantaran tidak begitu banyak referensi tentang Sultan Agung karena terlalu lampau. Kisahnya ada pada sebelum atau awal-awal Belanda menjajah Indonesia, yakni kurang lebih 350 tahun lalu.

Sinopsis Film Sultan Agung

Pada tahun 1593, lahirlah Raden Mas Rangsang yang merupakan anak dari Raja Mataram. Pada usia 10 tahun, beliau dikirim ke padepokan untuk belajar agama bersama guru yang bernama Ki Jejer. Di sana, ia belajar dengan serius hingga ia bercita-cita ingin menjadi seorang Brahmana.

Kawan lain tidak ada yang tahu bahwa ia adalah putra Prabu Hanyakrawati. Jadi beliau adalah pangeran Mataram Islam. Sebab, ia menyamar menjadi rakyat biasa supaya tidak mendapatkan perlakuan istimewa.

Tentang Kisah Cinta Sultan Agung

Sebagai pemanis cerita di film, dihadirkanlah sosok fiktif bernama Lembayung. Ada juga Kelana, Randu, dan Ranu, yang jelas-jelas fiktif, bukan? Dari namanya yang kekinian saja, kita sudah bisa menebak bahwa tokoh ini sejatinya tidak ada. Menurut saya, hal ini adalah langkah terbaik bila ingin mempermanis jalan cerita dengan menghadirkan tokoh fiktif.

Lembayung, memang menjadi pemanis banget di film ini. Dikisahkan bahwa Raden Mas Rangsang naksir dengan Lembayung, begitu sebaliknya. Yaa, ada benih-benih asmara di sini.

Lain halnya dengan Kelana yang merupakan sahabatnya Raden Mas Rangsang. Beliau adalah satu-satunya kerabat yang tahu identitas Rangsang.

Pada akhirnya, Lembayung tidak akan bisa menikah dengan Raden Mas Rangsang karena ia hanyalah tokoh fiktif belaka dan tidak ada kisahnya di dunia nyata. Jadi bisa ditebak dengan mudah seperti itu.

Jadi, tidak ada yang menarik dari kisah cinta Sultan Agung. Yang jelas, dia akan menikahi putri Adipati Batang yang menemani perjuangannya melawan Belanda.

Namun di film ini, Lembayung tetap dihadirkan hingga Sultan Agung wafat. Iya, posisi Lembayung di sini hanya sebagai pemanis film. 

Tentang Tahta Sultan Agung

Hingga suatu hari, pada tahun 1613, atau saat usia 20 tahun, tersiar kabar bahwa ayahanda Raden Mas Rangsang meninggal. Kalau di kisah nyata, dikabarkan bahwa beliau mengalami kecelakaan saat berburu rusa. Namun di film, beliau meninggal karena dibunuh.

Ternyata, raja dibunuh oleh suruhan dari istri pertamanya. Rupanya istri pertamanya merasa dikhianati oleh raja karena tidak dijadikan ratu mataram satu-satunya. Sebab, Raden Mas Rangsang adalah anak dari istri kedua. Adapun anak kandung dari istri pertama, justru terlahir cacat sehingga agak kurang pantas bila dijadikan raja.

Pada akhirnya, istri pertama tidak bisa mengelak bahwa ia menjadi penyebab meninggalnya si raja. Namun raja telah berpesan bahwa si anak dari istri pertama itu harus menjadi raja. Pada akhirnya, para panglima dan penasehat kerajaan sepakat bahwa si anak tersebut yang bernama Raden Mas Wuryah akan menjadi raja sehari dengan gelar Adipati Martapura.

Kemudian posisi kerajaan Mataram Islam diberikan kepada Raden Mas Rangsang. Namun awalnya Rangsang tidak mau karena ia ingin menjadi Brahmana, rakyat biasa, hidup sederhana, supaya bisa menikahi Lembayung. 

Namun Raden Mas Rangsang baru tergugah saat tahu bahwa kebutuhan akan posisinya sangat genting. Apalagi saat mendapatkan manuskrip dari Sunan Kalijaga, bahwa aka nada golongan baru di dunia manusia (selain Brahmana, Syiwa, Sudra, dll), yakni Tuca. Tuca adalah kaum penjajah yang rakus, serakah, dan bengis.

Atas dasar inilah, pada akhirnya Raden Mas Rangsang bersedia menjadi raja. Beliau naik tahta dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Kisah Perjuangan Sultan Agung

Hingga akhirnya VOC datang. Ia bersepakat untuk menjalin kerjasama dengan VOC, tapi syarat-syaratnya cukup berat yakni VOC harus membayar pajak sebesar 60%. Lalu VOC memutuskan untuk membangun kongsi dagang di Jayakarta, yang membuat Sultan Agung murka.

Lalu ia memutuskan untuk menyerang VOC di Batavia. Apalagi saat tahu bahwa VOC berhasil menaklukkan Jayakarta yang berganti nama menjadi Batavia.Ia memerintahkan pasukannya untuk berperang hingga titik darah penghabisan. “Mukti atau mati”, artinya: menang atau mati. 

Misinya kala itu sederhana, yakni meruntuhkan benteng VOC dan membunuh presiden VOC kala itu, yakni Jan Pieterszoon Coen. 

Pada penyerbuan pertama, pasukan berhasil memasuki benteng VOC. Sayangnya, pasukan harus mundur karena tiba-tiba ada serangan mendadak dari dalam benteng. Lalu pasukan menepi ke pesisir sungai Ciliwung.

Eh tiba-tiba di sungai Ciliwung, pasukan diserang oleh tentara VOC lagi. Modyar lagi.

Beberapa bulan kemudian, justru VOC menyerang Mataram. VOC membakar lumbung padi milik kerajaan Mataram Islam yang berada di pesisir utara Pulau Jawa.

Sultan Agung geram. Kok bisa-bisanya VOC tahu? Ternyata ada pengkhianat di dalam tubuh kerajaan Mataram Islam. Saya kira yang menjadi pengkhianat itu cuma 1 atau 2 orang saja, eh ternyata banyak. Ada yang korupsi, ada yang diadudomba, dan lainnya. 

Tumenggung Notoprojo (diperankan oleh Lukman Sardi) juga menjadi salah satu pengkhianat. Awalnya dia hanya bimbang atau ragu dengan keputusan rajanya, jadi dia membelot. Pada akhirnya, si Tumenggung Notoprojo dimaafkan dan siap bertempur ke medan perang.

Si Kelana juga menjadi pengkhianat. Ia adalah anak asuh dari Tumenggung Notoprojo yang mengabdi banget. Jadi, Kelana yang memberikan kabar ke VOC tentang keberadaan lumbung padi tersebut.

Pada akhirnya, semua pengkhianat dipenggal kepalanya oleh panglima.

Bersiap untuk penyerbuan kedua. Kali ini menggunakan taktik yakni mencemari sungai Ciliwung dengan bangkai hewan. Tentu saja darahnya akan mengalir ke sungai yang mengarah ke Batavia. Tujuannya agar sanitasi di sana memburuk sehingga VOC kehabisan akses mendapatkan air bersih.

Rupanya, hal ini mengakibatkan wabah kolera. Strategi ini rupanya berhasil membuat Gubernur Jenderal VOC wafat. Sebelum wafat, Sultan Agung sempat rogosukmo untuk menemui K.P. Coen.

Di sinilah, Mataram Islam menang. Pasukan pulang ke kerajaan. Mereka siap dihukum mati karena merasa telah kalah saat perang. Namun ternyata Sultan Agung bilang bahwa mereka telah menang dan diperbolehkan pulang ke rumah.

Selanjutnya, Sultan Agung membangun padepokan kembali. Beliau sendiri yang akan menjadi guru. Mengajar agama, seni, kebudayaan, dan lainnya. Di sinilah saya baru merasa terharu dan kagum kepada Sultan Agung. Sebelum-sebelumnya tidak, wkwk.

Bagaimana Watak Sultan Agung?

Hmm, gimana ya? Sultan Agung muda wataknya pemberani, humoris, dan menyenangkan. Namun Sultan Agung dewasa, wataknya ya cukup keras karena mengemban Amanah yang cukup besar.

Sebenarnya dia pengen banget turun langsung ke medan perang, tapi tidak diperbolehkan oleh paman-pamannya yang juga menjadi penasehat raja. Jadi, dia menyesal tidak ikut perang, tapi ya bagaimana lagi. Kalau Sultan Agung ikut berperang, khawatir kerajaan diduduki oleh musuh lain.

Watak Sultan Agung yang lain adalah cerdas. Ia mampu memikirkan taktik dan strategi dengan baik. Hanya saja, banyak anak buahnya yang menjadi pengkhianat karena diadudomba oleh VOC.

Sultan Agung juga cinta tanah air. Buktinya, ia ingin menjaga tanah air dari serangan para kumpeni atau orang asing yang ingin menjajah tanah Jawa. Ia ingin anak cucu mereka terbebas dari penjajahan.

Sultan Agung juga agamis. Ia menggenggam erat ajaran dari Sunan Kalijaga. Ia juga bekerjasama dengan pedagang Arab, bahkan ia mendapatkan gelar kehormatan dari pemimpin kabah di Mekkah yakni Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram. Sehingga Sultan Agung disebut sebagai Sultan Mataram.   

Mengapa Kisah Cinta Sultan Agung dan Lembayung Kandas?

Yak arena fiktif shay, wkwk. Jadi, dipastikan mereka tidak memiliki kisah cinta yang baik. Adapun di filmnya, dikisahkan bahwa kisah cinta Sultan Agung dan Lembayung kandas karena Sultan Agung harus menjadi raja dan menikahi seorang bangsawan pula.

Apa Pesan dari Film Sultan Agung?

Hmm, apa ya. Sebenarnya saya tidak mendapatkan pesan apa-apa dari film ini, wkwk. Kurang greget penggambaran Sultan Agung-nya (ya memang agak susah sih). Malah ketutup Lembayung, wkwk.

Namun baiklah, saya coba pikirkan pesan moral di film Sultan Agung. Ini adalah 3 pelajaran yang bisa diambil dari film Sultan Agung.

1. Tetap Rendah Hati

Meskipun sudah menjadi raja, Sultan Agung tetap rendah hati kepada rakyatanya. Ia tidak semena-mena kepada rakyatnya.

2. Tekad yang Kuat

Sultan Agung memiliki tekad yang kuat untuk menaklukkan VOC. Hal ini terlihat dari peperangan dan taktiknya yang tak lekas selesai hingga mendapatkan kemenangan.

3. Terus Belajar

Sultan Agung kecil suka belajar. Ia belajar agama dengan gurunya yakni Ki Jejer. Lalu pada usia dewasanya, ia membangun padepokan untuk meneruskan ilmu yang dapatkan. Ketika ia menjadi guru, maka ia telah memutuskan untuk terus belajar hingga akhir hayat.

Kritik Untuk Film Sultan Agung

Hmm, kalau dari audio, visual, scene, shoot, dan lainnya. Sepertinya saya nggak akan mengomentari ya, sebab agak susah bikin film kolosal seperti ini. Susaaah banget.

Mungkin yang saya kritisi adalah keberadaan kisah Lembayung yang cukup mendominasi. Apalagi sosok pendekar perempuan seperti Lembayung sepertinya nggak pernah ada deh.

Di usia Lembayung dewasa, harusnya dia udah menikah. Atau tidak bisa sembarangan berpergian apalagi perang dan menyela pembicaraan panglima. Jadi, keberadaan Lembayung sangat tidak masuk akal.

Kesimpulan

Yaa, nikmatilah saja film ini. Tidak perlu berekspektasi tinggi. Lupakan Lembayung. Cukup diingat tentang bagian tahta dan perjuangan Sultan Agung. Kalau kisah cinta, hanya sebagai pemanis dan penarik perhatian penonton.

Yeah, terima kasih telah membaca review film Sultan Agung ini sampai akhir!

Wassalamualaikum wr wb

Posting Komentar untuk "Sinopsis Film Sultan Agung, Tahta Perjuangan dan Cinta"