Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sinopsis Film Sang Pencerah Ahmad Dalan, Ini Review dan Pesan Moral!

Assalamualaikum wr wb

Baru saja Kak Ros menyelesaikan menonton film Sang Pencerah. Film biopik yang mengisahkan tentang Ahmad Dahlan ini, disajikan dengan visualisasi yang sangat indah.

Kak Ros rasa, film ini jauh lebih baik daripada film Sang Kiai dan film Sultan Agung. Boleh laaah, film ini disandingkan kebagusannya dengan film Kartini.

Kali ini Kak Ros akan sharing tentang sinopsis atau rangkuman film Sang Pencerah. Sekaligus review tentang hal-hal yang Kak Ros suka dan yang tidak disuka. Tentu saja, akan Kak Ros lengkapi dengan misi-misi yang disampaikan di film Sang Pencerah, nilai-nilai yang terkandung dalam film Sang Pencerah, hingga pengaruh pemikiran Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah.

Sinopsis Film Sang Pencerah, Perjuangan KH Ahmad Dahlan

Dikisahkan, seorang bayi kecil lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868. Kehadirannya disambut keluarga besar yang merupakan golongan kyai karena ayahnya adalah KH Abu Bakar, seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta. Bayi kecil itu diberi nama Muhammad Darwis.

Darwis muda (diperankan oleh Ihsan Tarore) sudah mulai peka dengan keadaan lingkungan sekitarnya yang mencampuradukkan nilai-nilai Islam dengan unsur kejawen. Mulai dari: harus tunduk dan bungkuk ketika kyai datang (diagungkan seperti Tuhan), penyerahan sesajen di bawah pohon, mandi (padusan) di pemandian sebelum puasa Ramadan, dan lainnya.

Usia 15 tahun, Darwis berangkat ke Mekkah untuk naik haji. Setelahnya, ia langsung belajar agama di Mekkah selama 5 tahun.

Pada tahun 1988, Darwis kembali ke kampung halamannya dengan menyandang nama baru pemberian ulama di Arab, yakni Ahmad Dahlan. Ia juga datang dengan membawa biola (sesuatu yang menarik di mata saya).

Di kampungnya, yakni kampung Kauman, ia merasa bahwa beberapa hal cukup berbeda daripada apa yang ia pelajari selama ini di Mekkah. Mulai dari cara penyampaian pengajaran, arah kiblat, dan lainnya.

Cara mengajar, berbeda dengan khatib lainnya. Bila khatib lainnya memberikan materi pelajaran yang sudah disiapkan, lain halnya dengan Ahmad Dahlan yang mempersilakan santri-santrinya untuk bertanya terlebih dahulu. Barulah ia menjawab. Ia menjawab semua pertanyaan dengan pelan dan menenangkan.

Ada juga soal kiblat. Orang-orang tahunya kiblat menghadap ke barat. Padahal harus bergeser sebesar 23 derajat dari arah barat. Kalau tetap mengarah ke barat, maka akan mengarah ke Afrika, bukan ke Masjidil Haram. 

Tentang hal ini, banyak orang yang menentang tindakan Ahmad Dahlan. Bahkan ia dan santri-santrinya disebut kafir. Tak hanya itu, langgar atau masjid kecil yang ia bangun justru dirobohkan oleh warga lain.

Apalagi saat Ahmad Dahlan mulai mendirikan sekolah atau madrasah, yang di dalamnya ada meja, kursi, dan papan tulis. Malah disebut kafir karena menggunakan barang-barang buatan orang Belanda. Yang jelas, Ahmad Dahlan sempat dijuluki sebagai kiai kafir. Sedihnyaaa.

Tidak semua kakak adiknya mendukung jalan hidup yang diperjuangkan oleh Ahmad Dahlan. Satu-satunya pengikut yang setia adalah istrinya, yakni Nyai Siti Walidah. Oh tentu saja, ada 5 santrinya yang setia.

Ahmad Dahlan juga mendapatkan pertentangan oleh para kiai dari Masjid Agung di Yogyakarta. Beberapa di antaranya rupanya masih saudara sendiri. Jadi, cobaan yang dialami Ahmad Dahlan datang silih berganti.

Pada tahun 1909, Ahmad Dahlan bergabung dalam organisasi Budi Utomo. Dia sepakat dengan cita-cita Budi Utomo yang bercita-cita ingin mensejahterakan Indonesia di bidang pendidikan dan kesehatan.

Lalu pada tahun 1912, beberapa pendukungnya justru mendesak Ahmad Dahlan untuk mendirikan organisasi sendiri. Lalu ia mendirikan Muhammadiyah, artinya pengikut Nabi Muhammad SAW.

Dengan mendirikan organisasi tersendiri, ia dan santrinya lebih leluasa mensyiarkan ajaran agama Islam. Mulai dari mengajak anak-anak miskin belajar dan sekolah, mengumpulkan donasi dari para donatur, memberi makan kaum fakir miskin, dan lainnya.

Dikisahkan di film ini, Kyai Penghulu Kamaludiningrat sempat salah paham dengan Ahmad Dahlan. Beliau mengira Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk menjadi residen Yogyakarta. Padahal tulisan yang benar adalah The President (ditulis dalam bahasa Inggris).

Pada akhirnya, Kyai Penghulu Kamaludiningrat mewakili sejumlah kiai, saling meminta maaf dengan Ahmad Dahlan, lalu bersepakat bahwa mereka akan mensyiarkan agama Islam dengan cara terbaik menurut masing-masing.

Review Film Sang Pencerah

Keren bangeeet! Sinematografi dari film Sang Pencerah keren parah. Hanung Bramantyo selaku sutradara dari film Sang Pencerah, mampu menyajikan efek visualisasi yang serupa keadaan tahun 1800-an.

Suasana yang temaram, fokus ke pemeran, properti sesuai zaman, dan lainnya. Wuah, pokoknya Kak Ros dimanjakan dengan visualisasi yang apik dari awal hingga akhir. Bahkan, untuk film biopik atau sejarah, film Sang Pencerah adalah film dengan visualisasi atau sinematografi terbaik.

Untuk jalan ceritanya, saya cukup suka. Kami sebagai para penonton bisa fokus menyimak syiar dari Ahmad Dahlan. Tidak ada tokoh fiktif di sini sehingga kami bisa meneladani sifat-sifat dari KH Ahmad Dahlan.

Hmm, yang saya nggak suka… apa ya? Kayaknya nggak ada deh. Palingan ya kekecewaan saat tahu bahwa pemeran Ahmad Dahlan yakni Lukman Sardi justru berpindah keyakinan. Wkwk. Iya, ini hanya opini pribadi yang tidak profesional.

Misi yang Disampaikan di Film Sang Pencerah

Misi yang disampaikan di Film Sang Pencerah menurut saya adalah menyampaikan bagaimana KH Ahmad Dahlan mengubah tradisi yang salah, menjadi aktivitas keagamaan yang benar sesuai aturan.

KH Ahmad Dahlan harus menghadapi orang-orang kolot, bahkan kiai-kiai yang kolot karena sangat memegang teguh amanat leluhurnya. Padahal kiai-kiai tersebut sudah 2-3x pergi haji, namun tetap tidak membawa perubahan apa-apa bagi kampungnya.

Maka kedatangan Ahmad Dahlan sekembalinya dari Arab, membawa perubahan besar bagi kampungnya, meluas hingga area Yogyakarta. Ia menyingkirkan tradisi-tradisi kejawen yang rumit, lalu difokuskan hanya pada nilai-nilai agam Islam yang benar.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Film Sang Pencerah

Nilai-nilai yang terkandung dalam film Sang Pencerah ada banyak kok. Saya coba uraikan satu persatu ya!

1. Kesabaran

Ujian datang kepada Ahmad Dahlan secara bertubi-tubi. Ditentang oleh keluarganya, para kiai, dan tetangganya. Kalau ia bukan orang penyabar, pasti ia sudah marah-marah. Kalau dia marah-marah, maka ia pasti langsung dipandang sebelah mata dan tidak dipercaya lagi.

2. Teguh Pada Pendirian

Ahmad Dahlan adalah orang yang teguh pada pendirian. Berbekal ilmu agama yang ia pelajari kala belajar di Arab Saudi, lalu ia mencoba membenahi hal-hal yang salah di kampungnya. Meski ditentang oleh keluarga dan para kiai, namun ia tetap teguh pada pendirian karena ia merasa dirinya benar.

3. Tetap Berkata Baik

Ini sih yang paling saya salutkan. Ahmad Dahlan digambarkan tidak pernah marah dan tidak pernah berkata kasar atau buruk. Meski dicaci maki, dihujat, direndahkan, dan lainnya, ia tetap bertutur kata yang baik.

Adapun ketika menjawab pertanyaan warga, tentang tahlil, akad nikah, dan lainnya, ia menjawab dengan baik tanpa menjatuhkan keyakinan orang lain yang memperlakukan agama dengan sangat rumit.

Kesimpulan

Nah, itulah rangkuman tentang cerita sang pencerah yang merupakan pendiri Muhammadiyah. Ada banyak nilai-nilai yang terkandung di dalam film Sang Pencerah.

Film ini recommended kok ditonton oleh anak SD, SMP, hingga SMA. Bahkan, seharusnya menjadi tontonan wajib anak sekolah saat Ramadan sih.

Wassalamualaikum wr wb

Posting Komentar untuk "Sinopsis Film Sang Pencerah Ahmad Dalan, Ini Review dan Pesan Moral!"