Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Relawan Tak Ternilai


Assalammualaikum wr wb

Foto besar di atas sungguh menggugah hati saya. Quote tersebut mampu mematahkan perdebatan dalam benak saya atas pandangan teman-teman tentang saya yang memilih terjun langsung mengajar di SD desa meski hanya pada weekend, berbeda dengan teman-teman yang dengan bangga menghabiskan banyak uang untuk traveling yang kesenangannya hanya sementara.

Dulu, ketika saya mendaftar menjadi anggota sebuah organisasi non profit, hati saya begitu kecil. Kala itu yang terlintas di pikiran saya adalah "mengapa saya mengikuti sebuah organisasi yang tak dilirik oleh orang-orang kece?" Teman-teman saya nggak ada yang mngikuti organisasi tersebut. Sampai akhirnya saya memberanikan diri dan tibalah saatnya saya menemukan banyak kawan hebat.

Ketika saya berkecimpung dalam organisasi tersebut, saya semakin mengenal banyak orang lintas komunitas dan litnas profesi. Hal tersebut merupakan peluang besar bagi saya untuk mencuri ilmu dari mereka. Sedikit banyak, saya juga belajar cara berkomunikasi, cara memimpin, cara beramah tamah dan sebagainya. Memang benar, pengalaman adalah pelajaran hidup yang paling berharga.

Pada tanggal 5 Desember 2014 lalu, saya menghadiri sebuah acara ramah tamah untuk memperingati "Hari Relawan Internasional" yang diadakan di Medley Cafe. Acara tersebut

menghadirkan komunitas-komunitas yang bergerak di Jember, seperti Unej Mengajar, Kelas Inspirasi Jember, Swayanaka Jember, Berbagi Happy, Sekolah Perempuan, Akademi Berbagi Jember, Sedekah Remaja dan masih banyak lainnya. Juga hadir komunitas pecinta iguana yang dengan bangga mereka membawa 3 iguana ke acara tersebut. Acara ini dikomandani oleh mas Yova yang dibantu oleh kakak-kakaknya yang cantik jelita.

Saya sungguh terkagum-kagum, ternyata banyak sekali komunitas yang bergerak di Jember tanpa meminta imbalan sepeserpun. Tanpa dibayar pun, mereka terus bergerak berbagi keceriaan. Dari sini, saya melihat banyak orang baik yang ada di sekeliling kita, banyak orang yang turun tangan mengatasi kekacauan negeri ini dengan caranya masing-masing.
 

Di akhir acara, kami dihibur oleh para Sahabat Noah yang memainkan lagu-lagu Noah secara akustik. Saya yang juga penggemar Noah, request lagu Seperti Kemarin yang saat itu masih belum booming. Ada sebagian orang yang menyepelekan lagu ini,  yaa mungkin mereka memang belum tahu lagunya.
Saya senang bisa hadir dalam acara ini, melihat dan mendengarkan para relawan bercerita tentang komunitas dan aktivitasnya. Saya berharap, semoga tahun 2015 akan ada lagi acara semacam ini dengan kehadiran komunitas yang lebih banyak serta ruangan yang lebih besar, Aamiin. Saya juga berharap, semoga saya juga dapat menghadiri acara serupa dan menyaksikan para relawan bercerita tentang mimpi dan harapan yang ia bangun selama ini.

Kembali ke quote yang digagas oleh Pak Anies Baswedan bahwa relawan memang tak pernah dibayar. Siapa sih yang sanggup membayar hati yang sungguh-sungguh ikhlas selain Tuhan Yang Maha Kuasa?

1 comment for "Relawan Tak Ternilai"

  1. Relawan itu berani menyampingkan urusan pribadinya demi urusan orang lain. Aku sungguh salut dengan relawan yang mau berkorban demi membahagiakan atau mencerdaskan anak-anak. Walau tidak dibayar, mereka tetap punya semangat.

    ReplyDelete