Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Buku Museum Ibu Gusti Trisno

Assalammualaikum wr wb

Sebuah buku tentu bisa dijatuh-cintai pada pandangan pertama melalui judul buku, bahkan desain sampulnya. Keduanya, tepat saya temukan pada buku antologi berjudul "Museum Ibu" karangan Gusti Trisno.

buku museum ibu

Dulu, awal-awal penerbitan, promo buku ini seringkali menghiasi layar wastory maupun instastory saya. Bagaimana promo buku tersebut bisa sangat dekat dengan keseharian saya? Ternyata saya dan pengarang masih berada di lingkar pertemanan yang sama, juga di lingkungan belajar yang sama namun hanya beda gedung. Kami pun baru saling mengenal, beberapa bulan kemudian setelah bukunya terbit, hehehe.

Dari judul dan desain sampul bukunya yang ciamik, apalagi dipromosikan secara gencar oleh teman-teman, membuat saya ingin memiliki bukunya. Ingin baca, kisah apa saja sih yang dimuseumkan oleh pengarangnya?

Rencananya, dulu saya mau beli, namun sayangnya saya lebih memilih beli barang lain daripada buku antologi ini, hahaha. Padahal harganya masih cukup terjangkau, yaitu 32.000 rupiah. Itu sudah sepaket dengan kebahagiaan dan kerinduan kepada seorang Ibu yang dikisahkan pada buku ini.

Antologi Tentang Kita dan Ibu

Buku antologi ini memuat 14 cerpen. Dari kesemuanya itu, ada dua judul yang kisahnya saya suka dan favoritkan, yaitu Kidung Cinta Ratu Aminah dan Seputih Kerudung Ibu. Pada Kidung Cinta Ratu Aminah, saya nggak menyangka kalau kisah kerajaan dengan tonggak kepemimpinan yang sangat kental, terbalut dengan Islam moderat, yang pada akhir kisahnya pun masih bernafaskan Islam yang sendu mengharu biru...

Keren banget jalan pemikirannya. Cerpen yang ini, ternyata eh ternyata, berhasil memenangkan hati juri dalam sebuah perlombaan cerpen yang diikuti oleh Gusti Trisno selaku pengarangnya. Wuah, wajar banget kalau menang, ya memang bagus banget siih...

Btw, jangan kaget, di buku antologi ini memang termuat beberapa karya yang sudah dilombakan dan dimenangkan. Jadi, sudah bisa diambil kesimpulan perihal kualitas buku antologi cerpen ini kan?

buku museum ibu

Cerpen Favorit di Buku Museum Ibu

Saya juga suka cerpen berjudul Seputih Kerudung Ibu. Kisahnya tidak berbelit-belit, namun tetap mampu melilit pemikiran saya untuk menanyakan "ada apa dengan Ibu". Yang ternyata endingnya... ah... bikin sedih... bikin ingat Ibu... Ya wajar sih kalau kita sampai ingat Ibu saat membaca buku ini, toh isinya memang kisah-kisah yang berbalut kerinduan dengan siapapun yang dianggap Ibu.

Kalau cerpen yang nggak saya suka... hmm ada sih, judulnya Titisan Timun Emas. Perihal pemilihan kata-katanya, oke oke banget... tapi yang nggak saya sukai adalah jalan ceritanya. Hahaha, saya kebaperan kalau urusan jalan cerita. Saya pikir, nggak cocok kalau cerpen yang ada bumbu seksnya ditempatkan pada bagian depan.

Kenapa? Karena ada kecenderungan bahwa cerpen pertama akan menjadi induk dari cerpen-cerpen berikutnya. Khawatir orang-orang langsung syok dengan cerpen pertama, lalu menganggap bahwa cerpen-cerpen berikutnya jalan ceritanya adalah sama.

Tapi untuk buku antologi Museum Ibu ini enggak begitu kok jalan ceritanya. Cuma satu aja yang dibumbui seks, selebihnya nggak ada lagi. Dan saya rasa, akan lebih baik kalau pada cetakan selanjutnya, cerpen Titisan Timun Emas ini ditempatkan di tengah-tengah atau yang belakang-belakang. Alasannya, juga biar surprise sih dengan salah satu kisah pada buku antologi ini.

Yang Dirasa Kurang dari Buku Museum Ibu

Hal yang kurang dalam buku ini adalah... hmm... masih banyak typo sih. Kalau saya baca sekilas di kata pengantar, sudah ada usaha dari penulis buku untuk merapikan kesalahan pengetikan. Namun sayangnya, masih ada dan hal tersebut bikin saya gemas sih, hahaha. Menurut saya, alangkah lebih baik kalau posisi editor atau pemerhati aksara, diserahkan kepada orang lain yang lebih ahli, bukan dikelola oleh diri sendiri.

Hmm, sepertinya itu saja yang bisa saya ulas perihal buku antologi ini. Pokoknya bukunya kece banget deh, terutama sampul bukunya dan cerpen berjudul Kidung Cinta Ratu Aminah. Keren banget.

Oh ya, kalau teman-teman ingin tahu bagaimana wujud rupa dan kisah keseharian penulis buku antologi Museum Ibu, boleh banget untuk dikepoin di blognya: www.gustitrisno.com

Terima kasih sudah membaca ya... Jangan lupa beli bukunya, cocok banget untuk dibaca, apalagi jika kamu ingin membangkitkan rasa rindu dengan sosok yang kausebut Ibu.


Wassalammualaikum wr wb

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

4 comments for "Review Buku Museum Ibu Gusti Trisno"

  1. Menarik nih kayaknya dibaca buat teman ngabuburead. Apalagi di situasi pandemi sekarang gini, kan di rumah aja. Hmmm jadi ingin membacanya juga

    ReplyDelete
  2. Pesan-pesan yang bermanfaat sebuah pembelajaran apa nih dari buku tersebut...

    ReplyDelete