Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sinopsis Film Ziarah, Akhir Cerita Perjalanan Mbah Sri

Assalamualaikum wr wb

Sungguh, film Ziarah ini keren dan greget banget. Film ziarah mengisahkan tentang perjalanan Mbah Sri mencari makam Mbah Pawiro, yang tak lain adalah seorang veteran. Dari sinilah, petualangan beliau mencari makam alm suami dimulai. 

Berikut ini, saya akan membuat rangkuman atau sinopsis tentang Film Ziarah. Tentu, akan saya lengkapi pula dengan akhir cerita Film Ziarah, hehe. Biar nyeritainnya enggak tanggung, hahaha.

sinopsis-film-ziarah


Sinopsis Film Ziarah

Awal Mula Film Ziarah

Film ziarah diawali dengan sebuah upacara pemakaman. Mengingatkan kita bahwa kematian itu dekat dengan adanya. Diawali juga dengan Mbah Sri yang menceritakan kepada cucunya, tentang perjuangan alm. suami yang merupakan seorang veteran.

Dibuka juga dengan kisah cinta Prapto, cucunya Mbah Sri, yang sedang berbunga-bunga untuk menyusun rencana depan. Kisah cintanya Prapto dengan pacarnya, hanya sebuah selingan semata. Bukan fokus utama cerita.

Fokus utama cerita adalah Mbah Sri… yang mulai melakukan petualangan sendiri untuk mencari makam alm. suami.

Dikisahkan, Mbah Sri merupakan seorang janda tua (kurang lebih berusia 80-90 tahun). Suaminya adalah seorang veteran yang ikut berperang melawan penjajah.

Pawiro, Suami Mbah Sri pamit pergi perang saat Agresi Militer Belanda 2. Suaminya bilang:

Nek aku ra bali, kuwi ateges aku wes nyatu karo lemah sing tak bela. Ikhlasno aku ya. Patiku ora bakal muspra. Mbokmenawa kamardikaane pancen kudu dibayar nganggo pati

Artinya: Kalau saya enggak pulang, berarti saya sudah bersatu dengan tanah yang saya bela. Ikhlaskan saya ya. 

Mirisnya, keberangkatan Pawiro berperang, merupakan pertemuan terakhir dengan Sri. Semenjak kepergiannya, ia tak tahu bagaimana kabar dan nasib suaminya, hingga kini ia sudah sepuh.

1 hal yang ia yakini, mungkin suaminya sudah meninggal. Gugur bunga. Maka, ia sering datang berziarah ke taman makam pahlawan. Banyak nisan tanpa nama.

Sejauh ini ia tetap tegar. Tetap berziarah ke taman makam pahlawan. Namun sejatinya ia belum puas bila belum menemukan makam suaminya. 

Dari sinilah petualangan Mbah Sri dimulai.

Petualangan Mbah Sri Mencari Makam

Tiba-tiba Mbah Sri nekat keluar dari rumah. Enggak pamit cucunya, keluarga satu-satunya yang ia miliki. Mbah Sri hanya membawa tas kecil untuk menyimpan keperluannya. Selebihnya, ia bondo nekat aja untuk mencapai tujuannya.

Tekad Mbah Sri untuk mencari makam, bukan berarti tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Semata-mata, apabila ia sudah diambil oleh Gusti Allah, ia hanya ingin dimakamkan di samping makam suaminya.

Sebuah permintaan yang sederhana, namun belum tentu sesederhana itu bila kita tahu penantian beliau selama ini.

Petualangan Mbah Sri mencari makam ini menarik. Dia berjalan semampunya. Naik transportasi seadanya. Menyusuri jalan seadanya untuk mengais petunjuk mengenai keberadaan makam suaminya.

Tentu saja dimulai dari teman-teman seperjuangan Pawiro saat berperang. Lalu bertemu Mbah ini, Mbah itu, Pak ini, Pak itu, dsb.

Sementara itu, Prapto yang kaget karena simbah tidak ada di rumah, langsung bergegas mencari Mbah Sri. Dengan berbekal petunjuk yang minim, dia mencoba mencari Mbah Sri. Satu alasannya: teringat pesan ibunya untuk menjaga Mbah Sri.

Banyak orang yang Mbah Sri dan Prapto temui. Tak semuanya memberi petunjuk yang jelas, namun seringnya memberi pandangan lain tentang sesuatu yang tak terduga.

Seperti mengisahkan para pejuang yang tertembak mati, menceritakan bagaimana maju mundur untuk membela kawannya yang akan ditembak mati, tentara masuk desa yang meluluhlantahkan penduduk, dsb.

Dari sini, perbincangan antara Prapto dengan orang awam, orang yang ditemuinya di jalan untuk didapatkan petunjuk, cukup bervariasi. Bahkan, seringnya mendapati sudut pandang yang berbeda. Tentu saja, menambah wawasan kita akan bagaimana kondisi zaman dulu kala itu.

Yang bikin sebal dan gemas sih, Mbah Sri dan Prapto ini sebenarnya berjalan beriringan atau susul-susulan. Tempat yang sudah disinggahi Mbah Sri, baru ditemukan Prapto. Begitu seterusnya.

Yang bikin lucu juga sih, orang-orang udah pada ngotot nyeritain tentang seseorang yang dikira Pawiro, eh padahal yang diceritain adalah Parwito dsb. Nyebelin dah kalau kayak gini. Padahal yang dicari adalah Pawiro Sahid

Ziarah ke Waduk Kedung Ombo

Hingga ada satu tempat yang menarik perhatian. Ada sebuah petunjuk, bahwa Pawiro terakhir berada di Alas Pucung. Setelah ditelusuri, ternyata Alas Pucung sudah tenggelam. Sudah dijadikan Waduk Kedung Ombo

Prapto juga sampai di Waduk Kedung Ombo. Menemukan Mbah Sri di pinggir waduk. Meratapi makam suaminya yang diduga sudah tenggelam bersamaan didirikannya waduk.

mbah-sri-di-waduk-kedung-ombo

Prapto pun mengajak Mbah Sri pulang.

Sesampainya di rumah, Mbah Sri dipijat oleh Prapto, lalu tertidur pulas. Prapto sempat bilang ke Mbah Sri, untuk mengabarinya kalau hendak pergi kemana-mana.

Eh njilalah, keesokan harinya Mbah Sri ngilang lagi. Pusinglah Prapto.

Ternyata Mbah Sri datang ke Waduk Kedung Ombo untuk berziarah. Naik sampan untuk menebar bunga di air. Sembari mendoakan orang-orang yang tenggelam di waduk, yang kemungkinan makam suaminya ada di sana.

Hingga Mbah Sri mendapati sebuah petunjuk dari seseorang, bahwa Pawiro sempat tertembak oleh Belanda, lalu dilarikan ke rumah Ki Husodo untuk dilakukan pengobatan.

Petunjuk Terakhir: Ki Husodo

Mencarilah Mbah Sri ke rumah Ki Husodo. Begitu pula Prapto. Dicari muter-muter desa, si Prapto enggak menemukan yang namanya Ki Husodo. Ya gimana, lahwong udah meninggal pada tahun 60-an.

Tapi Mbah Sri menemukan petunjuk mengenai Ki Husodo. Yang ia temui adalah kerabat Ki Husodo. Seseorang yang sudah lama meninggal, namun kenapa ada orang yang mencarinya?

Mbah Tresna yang menemukannya. Ia hidup bersama anak atau cucunya yang buta. Cucunya yang buta itu juga menarik. Menarik dalam banyak hal.

Mbah Tresna tahu makam Pawira. Ada di Pemakaman Muktiloyo. Sore itu, Mbah Sri ngotot mau pergi ke sana, tapi enggak dibolehin oleh Mbah Tresna. Tunggu besok pagi saja.

Berakhir di Pemakaman Muktiloyo

Keesokan paginya, Mbah Sri langsung keluar rumah Mbah Tresna tanpa pamit. Mencari keberadaan Pemakaman Muktiloyo. 

Namun entah kenapa Mbah Tresna gelisah. Seakan-akan ada sesuatu yang hendak disembunyikan. Tapi kami tidak tahu itu apa.

Hingga di sebuah simpang tiga pertigaan jalan menuju Pemakaman Muktiloyo, Mbah Tresna berpesan kepada pemilik warung yang ada di pertigaan jalan tersebut. Ia berpesan, apabila ada orang yang mencari makam, belokkan ke arah sebaliknya.

Loh, ini ada apa kok Mbah Tresna bersikap seperti itu? Mau bilang jahat tapi kok ya kita masih belum tahu modus dan alasannya…

Hingga tibalah Mbah Sri ke pertigaan tersebut, tanya ke pemilik warung, lalu disuruh belok ke arah yang dipesankan Mbah Tresno tadi.

Mbah Sri mengikuti arahan tersebut. Berjalan menyusuri jalan setapak hingga ia menemukan sebuah makam. Makam yang ada gapuranya.

Dicarinya makam suaminya, namun yang ada hanyalah makam tanpa nama. Ia pun pasrah, lalu mendoakan seadanya.

Mbah Sri kelelahan, hingga ia tertidur di sudut gapura. Tak berapa lama kemudian, Mbah Tresna datang dan membawanya pulang.

mbah-sri-dan-mbah-tresno

Keesokan paginya, Mbah Sri akan diantarkan untuk pulang ke rumahnya dengan menggunakan mobil sewaan yang biasa datang ke desa tersebut.

Saat naik mobil sewaan tersebut, Mbah Sri ngobrol dengan sopir. Bercerita mengenai petualangan Mbah Sri mencari makam, hingga ia tertidur di pemakaman yang ada gapuranya.

Namun si sopir menegur, bahwa pemakaman yang ada gapuranya itu bukan Pemakaman Muktiloyo. Mbah Sri salah belok. Lalu diantarkannya Mbah Sri ke Pemakaman Muktiloyo oleh sopir tadi.

Hingga setibanya di Pemakaman Muktiloyo, Mbah Sri mendapati sebuah nisan. Kami melihat tulisan di nisan tersebut adalah Pawiro Sahid. Lalu tiba-tiba Mbah Sri nggeblak (terjatuh).

Kami kira meninggal ya. Meninggal di makam suaminya. Tapi kok badannya masih bernafas, kan kelihatan tuh ya kalau badannya masih kembang kempis.

Hingga sore harinya, Mbah Sri sudah ada di rumah Mbah Tresna. Tertidur.

Berziarah ke Makam Suami

Keesokan harinya, Mbah Sri datang ke sebuah pemakaman. Ada 2 makam yang berdampingan di sana. Dia berziarah. Membersihkan makam sekaligus menabur bunga, lalu berdoa.

Saya heran sih, itu kenapa makamnya ada 2. Apa makam orang lain ya? Atau makam Mbah Pawiro dengan Ki Husodo?

Eh njilalah, ternyata itu makam Mbah Pawiro Sahid dengan Ny. Pawiro Sahid. 

Huhuuuu… sedih banget… Ternyata Pawiro menikah lagi, meninggalkan istrinya yang menantinya di rumah tanpa tahu kabar sama sekali hingga tua sepuh begini. 

Huuu saya sebal sama endingya. Gregetan sama sutradaranya. Pengen saya hukum tuh sutradara. Gara-gara ngebikin Mbah Sri sedih mulu dari awal sampai akhir.

Akhir Cerita Film Ziarah

Namun ternyata Mbah Sri tetap tegar ya. Tetap berziarah dan membersihkan kedua makam tersebut.

Rupanya ini alasan Mbah Tresna memberi petunjuk yang salah mengenai keberadaan Pemakaman Muktiloyo. Enggak tega sama Mbah Sri.

Sore-sore, Mbah Sri duduk-duduk di pekarangannya Mbah Tresna. Sementara, Mbah Tresna mencoba menghibur Mbah Sri dengan mengukir sesuatu di tanah, membuat 2 kotak besar berukuran 1x2m. Film berakhir.

Amanat Film Ziarah

Tentu banyak ya amanat yang bisa kita kaji dalam film Ziarah ini. Utamanya tentang kematian dan sebuah pengikhlasan.

Sulit banget untuk mengikhlaskan kepergian seseorang, yang dia tak kunjung kembali, menanti kabar bertahun-tahun, hingga didapati kabar yang cukup mengambyarkan perasaan.

Mbah Sri sungguh kuat banget. Saya enggak tega sama Mbah Sri. Saya sebal sama sutradaranya.
--

Tentang Film Ziarah

Pantas saja ya film ini meraih berbagai penghargaan dari Indonesia maupun luar negeri. Keren banget dah. Memang mengaduk-aduk perasaan. 

Film ini disutradarai dan diproduseri oleh B. W. Purbanegara. Dia juga yang bikin naskah skenario filmnya. Kenapa Mbah Sri bikin se-sengsara ini cobaaak.

Berikut ini adalah deretan penghargaaan Film Ziarah:

Pemenang

Film Terbaik Pilihan Juri – ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017
Skenario Terbaik – ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017
Film Terbaik – Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina
Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016

Nominasi

2016 Penulis Skenario Festival Film Indonesia
2016 Piala Citra untuk Penulis Skenario Asli Terbaik - B. W. Purbanegara
2016 Indonesian Movie Actors Award untuk Pemeran Utama Wanita Terfavorit - Ponco Sutiyem
2016 Film Terbaik pada Apresiasi Film Indonesia
2016 Kompetisi Film Jogja Netpac Asian Film Festival
2017 Aktris Terbaik pada ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA)
2017 Sutradara Terbaik pada ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA)
2017 Film Terbaik pada ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA)
2017 Piala Iqbal Rais untuk Penyutradaraan Berbakat Film Panjang Karya Perdana - B. W. Purbanegara
2017 Festival Film Bandung untuk Penata Musik Terpuji Film Bioskop - B. W. Purbanegara
2018 Indonesian Movie Actors Award untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik - Ponco Sutiyem
2018 Indonesian Movie Actors Award untuk Pemeran Utama Pria Terfavorit - Rukman Rosadi
2018 Indonesian Movie Actors Award untuk Pemeran Utama Pria Terbaik - Rukman Rosadi

Kurang lebih itu sih hal-hal yang ingin saya sampaikan mengenai sinopsis Film Ziarah serta akhir cerita Film Ziarah yang sungguh menohok. Ingin rasanya saya menendang sutradaranya hingga ke luar angkasa.

Semoga film Ziarah ini bisa tayang lagi di TV, karena banyak amanat yang tersirat dan sungguh menambah wawasan banget.

Wassalamualaikum wr wb








Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

4 comments for "Sinopsis Film Ziarah, Akhir Cerita Perjalanan Mbah Sri"

  1. Salah satu film yang mendapat banyak penghargaan, ceritanya emang greget walau endingnya cukup bikin kesel sih.

    ReplyDelete
  2. Ngeselin emang si Sutradara nya. Itu yang dikerjain Mbah usia 90 Tahunan loooo

    ReplyDelete