Menampilkan postingan dengan label fiksi

Mobil Itu... - Baleriano Chapter 36

Aku sedang asyik menonton televisi. Mumpung hari Minggu, jadi aku ingin menghabiskan waktuku untuk stand by di rumah. Mama juga stand by di rumah. Capek kerja melulu. Aku dan Mama perlu refreshi…

Bertunangan Dengan... - Baleriano Chapter 35:

Rencana pertunangan kami akan dilaksanakan bulan depan. Mama dan calon mertuaku yang menyiapkan seluruh keperluan pertunangan. Sedangkan kami berd…

Clue (Lagi) - Baleriano Chapter 34

2 komentar
Namanya Aryo. Lengkapnya Aryo Matthew Wibisono. Ya. Aryo adalah orang yang dijodohkan oleh Mama untukku. Orangnya tinggi, putih dan tampan. Dia peranakan Jawa-Belanda. Dia adalah seorang pengu…

Menunggumu - Baleriano Chapter 33

Tiga tahun telah berlalu. Aku telah memasuki tahun keempat, tentu saja masih dengan alasan yang sama. Aku berdiri dengan kakiku sendiri  Tidak ada yang menopangnya, tidak ada yang menyangganya …

Tahun Penantian - Baleriano Chapter 32

Satu tahun telah berlalu. Aku telah memasuki tahun kedua sejak sepeninggalnya Davin di Kota Tua, tempat yang menjadi saksi kebahagiaan kita dala…

Kehilanganmu (Lagi) - Baleriano Chapter 31

Matahari pagi memaksaku untuk terbangun dari tidurku. Aku pun membuka mata dan melemaskan badanku yang terasa sakit sekali karena tidak tidur pada…

Bersamamu - Baleriano Chapter 30

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dan aku masih bersama Davin di depan Museum Fatahillah. Tak sedikit orang yang masih stand by di Kota Tua. Sebagian besar dari mereka menghabiskan waktu…

Pada Sebuah Sore - Baleriano Chapter 29

Sore masih belum habis. Waktu masih menunjukkan pukul 5 sore. Aku juga masih menikmati tarianku, begitupun dengan Davin yang masih asyik memainkan…

Untukmu - Baleriano Chapter 28

Aku meletakkan satu stel pakaian di atas meja. Davin tersentak kaget, lalu bertanya, “Buat apa, Ra?” “Aku ingin membayar harimu dengan sesuatu yang beda. Segeralah mandi dan pakailah pakaian K…

Mendengarkanmu - Baleriano Chapter 27

Gazebo menjadi tempat istirahat kami berdua. Kami lelah dalam perjalanan kami. Kami ingin bertukar cerita, seperti sahabat yang sering bertemu, …

Menemukanmu - Baleriano Chapter 26

Lampu masih menyala merah, masih pada hitungan ke 297. Dan sialnya, aku berada sekitar 100 meter dari perempatan jalan, masih jauh. Hanya ingin berbelok ke kiri saja butuh waktu selama itu. Ya, i…

Kembali Normal - Baleriano Chapter 25

Semua orang yang kupastikan bisa membantuku untuk menemukan Davin, ternyata sama sekali tidak memberikan satupun petunjuk tentang keberadaan Davin. M…

Tentang Rumah Davin - Baleriano Chapter 24

Aku mengambil sepeda kayuhku. Pagi ini aku ingin bersepeda, mumpung hari Minggu. Tapi aku ingin mampir sebentar ke rumah Davin. Bukan mampir …

Mencari Anya = Davin - Baleriano Chapter 23

Aku hanya memiliki nomor ponsel Anya. Dan dia adalah satu-satunya keluarga Davin yang saat ini bisa kuhubungi. Aku mencoba menelepon Anya. Ter…

Second Clue - Baleriano Chapter 22

“Na, aku mau nanya, boleh?” “Nanya aja,” jawab Nana centil. “Radit dimana?” tanyaku dengan hati-hati. “Loh? Kok elo nanya Radit?!” tanya Nana dengan nada tinggi. Sepertinya ia akan mencurig…

Sebuah Pencarian - Baleriano Chapter 21

Hari ini matahari bersinar sangat cerah. Aku melangkah menuju sebuah distro yang bernama ‘Dendis’ yang merupakan singkatan dari Denna Distro’s.…

Setumpuk Mawar Putih - Baleriano Chapter 20

Aku mengambil tumpukan mawar putih yang berada di meja dekat pintu kamarku. Ada banyak mawar putih. Aku yakin, ini semua pasti pemberian Davin. …

Maaf - Baleriano Chapter 19

Aku tersadar. Aku terbangun dari tidur panjangku. Aku menyadari sebuah hal yang mengingatkanku pada diriku. Aku sadar, ternyata aku semakin jauh dari Tuhan. Semenjak kebencian yang tiada habi…

Crazy On 3 Days - Baleriano Chapter 18

Aku tidak mau keluar dari kamar. Kegiatanku hanyalah melamun, menyesali diri mengapa aku sebodoh ini. Dan tentu saja mengutuk orang yang telah …

Tragedi Pagi Hari - Baleriano Chapter 17

“Kara kan mantan pacar saya,” jawab Davin mantap. Otakku serasa pecah. Saraf-sarafku membelilit satu sama lain. Mataku melotot. Hidung dan tel…